Jababeka Bangun Ekosistem Industry 4.0 Terbesar di Indonesia

Jababeka serius memenuhi kebutuhan perusahaan startup dan membangun ekosistem industry 4.0 terbesar dan terbaik di Indonesia.

Kawasan Industri Jababeka juga terbuka bagi perusahaan startup (Foto: Jababeka.com)
Kawasan Industri Jababeka juga terbuka bagi perusahaan startup (Foto: Jababeka.com)

RealEstat.id (Bekasi) - Terletak di Koridor Timur Jakarta yang memiliki jaringan infrastruktur terbaik, Kawasan Industri Jababeka telah menjelma menjadi kawasan industri yang mature dan mendukung industry 4.0. Tercatat, lebih dari 2000 perusahaan nasional dan multinasional dari 30 negara telah bergabung ke kawasan industri yang berusia lebih dari 31 tahun ini.

Daya tarik Kawasan Industri Jababeka di mata para investor antara lain pelayanan bantuan perizinan yang bernama J-FAST (Jababeka Focus to accelerate services tenant). Kehadiran J-FAST mampu memudahkan investor pemilik pabrik yang ingin cepat beroperasi tanpa harus dipusingkan proses perizinan, baik izin mendirikan bangunan (IMB), izin usaha, izin mendirikan perusahaan, sampai izin lingkungan.

Baca Juga: Tahun Kerbau Logam, Jababeka Kembangkan Smart Township di Koridor Timur Jakarta

Selain itu, dengan infrastruktur yang lengkap dan andal, Kawasan Industri Jababeka mampu menopang berbagai kegiatan industri. Sebut saja pembangkit listrik mandiri, Waste Water Treatment Plant & Water Treatment Plant, Cikarang Dry Port sebagai pusat solusi logistik, jaringan fiber optic berkecepatan tinggi, sistem keamanan 24 jam, hingga Heli Commuter.

Kawasan Industri Jababeka juga dikenal menjadi lokasi bagi berbagai industri, dari skala UKM sampai raksasa, seperti Unilever, L’Oreal, Nissan, Samsung, dan Komatsu. Tak sampai di situ, infrastruktur yang dimiliki Jababeka sudah mendukung industry 4.0 dan siap melayani perusahaan yang ingin menerapkan industry 4.0. 

Baca Juga: Jababeka Raih Predikat "Best Industrial Developer" di Asia Property Awards 2020

Muhammad Ayub Arwin, Direktur PT Infrastruktur Cakrawala Telekomunikasi (ICTel) menjelaskan, saat ini jaringan telekomunikasi fiber optic yang merupakan infrastruktur dasar industry 4.0 sudah tersebar di hampir semua kawasan Jababeka seluas 5.600 hektar. Dengan demikian, di mana pun pabrik baru akan dibangun, layanan internet cepat sudah bisa didapat.

"Kami juga telah menyediakan end-to-end IoT solution, mulai dari aplikasi absen, payroll, HR (human resources), dan proses produksi," terang Ayub dalam acara webinar bertema KIJA Premium Service, baru-baru ini.

Selain itu, satu anak usaha dari Jababeka Group yang menyediakan layanan infrastruktur teknologi telekomunikasi berbasis fiber optic ini pun memiliki aplikasi layanan sosial J-Smart. Dengan aplikasi ini, para tenant dan masyarakat setempat lebih mudah mengadukan keluhan, mendapatkan layanan dan berkomunikasi langsung antara tenant dengan pengelola atau pihak lain.

Baca Juga: Jababeka Residence: Dari TOD City Menuju "Silicon Valley"

"Bahkan user juga bisa memantau progres pekerjaan dan evaluasi kerja melalui aplikasi tersebut," urai Ayub.

Menurut Ayub, Kawasan Industri Jababeka sudah mampu mendukung industry 4.0 dan “menampung” para investor yang ingin membangun perusahaan berbasis IoT (internet of things). Hal itu disebabkan kawasan industri lain tidak ada yang memiliki infrastruktur selengkap yang dimiliki Kawasan Industri Jababeka.

Fenomena Cross Border Market
Senada dengan penuturan Ayub, General Manager Kawasan Industri Jababeka, Rudy Subrata mengatakan, Kawasan Industri Jababeka sudah siap menerima perusahaan dari berbagai sektor industri dan untuk semua skala bagi yang ingin menerapkan industry 4.0. Selain itu juga, Kawasan Industri Jababeka juga terbuka bagi perusahaan startup yang saat ini sudah banyak perusahaan startup melakukan relokasi usahanya ke Kawasan Industri Jababeka.

"Hal itu bisa terjadi karena fenomena cross border market, yaitu perpindahan industri startup dari Jawa Tengah dan Jawa Timur ke Jawa Barat, khususnya ke Kawasan Industri Jababeka. Sementara, industri padat karya yang tadinya beroperasi di Jawa Barat pindah ke Jawa Tengah," urai Rudy Subrata.

Baca Juga: Resmikan JR Connexion, Jababeka Selangkah Menuju TOD City

Fenomena ini, menurutnya, terjadi secara natural, di mana para perusahaan startup akan memilih kawasan industri dengan infrastruktur yang mendukung industry 4.0 demi kemajuan usahanya. Fenomena ini sendiri, sudah terjadi sejak 2020 lalu, yang membuat Kawasan Industri Jababeka terus menyiapkan diri demi mampu menangkap ceruk pasar ini.

Untuk itu, Januari lalu Jababeka meluncurkan Fablab (Fabrication Laboratory), sebuah pusat inovasi, pengembangan kompetensi dan purwarupa berbagai produk terkait implementasi industry 4.0. Nantinya, para perusahaan startup bisa memakai Fablab untuk riset dan pengembangan produk mereka.

"Kehadiran Fablab adalah bukti keseriusan kami untuk bisa memenuhi kebutuhan perusahaan startup yang ada di Jababeka dan membangun ekosistem industry 4.0 terbesar dan terbaik di Indonesia," tutupnya.

Redaksi@realestat.id

Berita Terkait

Interior Tierra SOHO Surabaya (Foto: Dok. Intiland)
Interior Tierra SOHO Surabaya (Foto: Dok. Intiland)
Apartemen 380 Melbourne (Foto: Brady Group)
Apartemen 380 Melbourne (Foto: Brady Group)
Gerbang masuk ruas Tol Cibitung - Cilincing. (Foto: Adhitya Putra)
Gerbang masuk ruas Tol Cibitung - Cilincing. (Foto: Adhitya Putra)
Penjelasan mengenai proyek Stasiun Pompa Ancol Sentiong, pada Selasa (04/05/2021). Rumah pompa yang berada di  hilir Kali Sentiong ini merupakan bagian dari rencana induk pengendalian banjir Jakarta. (Foto: Adhitya Putra)
Penjelasan mengenai proyek Stasiun Pompa Ancol Sentiong, pada Selasa (04/05/2021). Rumah pompa yang berada di hilir Kali Sentiong ini merupakan bagian dari rencana induk pengendalian banjir Jakarta. (Foto: Adhitya Putra)