RealEstat.id (Jakarta) – Pasar properti residensial Indonesia memasuki fase yang lebih moderat pada Kuartal II 2026.
Kondisi ini tercermin dari Market Signal Score Pinhome Indonesia Property Market Signal yang berada di level 50,3 dari skala 0–100.
Angka tersebut menunjukkan aktivitas pasar melandai dibandingkan puncaknya pada akhir 2025.
Meski demikian, pasar belum menunjukkan pelemahan yang tajam karena pasokan properti masih kuat dan kecepatan transaksi mulai membaik.
Baca Juga: Konsumen Kian Selektif Beli Rumah Pinhome Beberkan Arah Baru Pasar Properti Residensial Indonesia
Pembeli Makin Selektif
Salah satu perubahan paling terlihat terjadi pada perilaku calon pembeli.
Aktivitas pencarian, termasuk penggunaan filter, penyimpanan wishlist, dan pembagian listing, mencatat skor 38,8.
Namun, minat calon pembeli untuk menghubungi agen atau pemilik properti masih bertahan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap hunian belum hilang, tetapi proses pengambilan keputusan menjadi lebih selektif dan terukur.
Baca Juga: BTN Gandeng Pinhome, Permudah Akses KPR Digital bagi Generasi Muda
CEO & Founder Pinhome, Dayu Dara Permata mengatakan calon pembeli kini lebih berfokus pada properti yang sesuai dengan kebutuhan sekaligus anggaran mereka.
Dari sisi pasar, perubahan tersebut penting karena menunjukkan bahwa perlambatan aktivitas pencarian tidak otomatis berarti permintaan properti menghilang.
Konsumen justru tampak membutuhkan lebih banyak pertimbangan sebelum menentukan pilihan.
“Di tengah meningkatnya fleksibilitas dari sisi penjual, kondisi ini membuka peluang bagi pembeli untuk memperoleh kesepakatan yang lebih optimal,” jelas Dara.
Pasokan Kuat, Posisi Tawar Pembeli Menguat
Di tengah permintaan yang lebih terkendali, sisi pasokan menjadi salah satu penopang pasar. Indeks pasokan properti mencapai 56,8.
Jumlah listing baru tetap tinggi, sementara proporsi penjual yang menunjukkan urgensi untuk segera menjual juga meningkat.
Keterbukaan terhadap negosiasi harga dan keinginan menjual lebih cepat memberikan peluang lebih besar bagi calon pembeli untuk mendapatkan kesepakatan yang sesuai dengan kemampuan mereka.
Baca Juga: Cerdas Mengelola Keuangan di Pertengahan Tahun: Cash Flow Terjaga, Cicilan KPR Lancar
Sementara itu, kecepatan transaksi menunjukkan perbaikan dengan skor 55,4.
Setelah melambat pada Kuartal I 2026, waktu yang dibutuhkan listing untuk memperoleh penawaran pertama kembali membaik pada Juni, terutama pada properti yang dipasarkan melalui agen.
Bergeser ke Kawasan Penyangga
Pergerakan pasar juga tidak seragam di setiap wilayah. Minat membeli melemah paling tajam di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Kota Depok.
Sebaliknya, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Bogor mencatat penguatan.
Kota Bekasi, Kota Tangerang, dan Surabaya juga menunjukkan peningkatan minat, sedangkan Bandung relatif stabil.
Pola tersebut mengindikasikan adanya pergeseran aktivitas menuju kawasan penyangga dan kota-kota di luar Jakarta.
Baca Juga: Peran Ibu Sebagai ‘Menteri Keuangan’ Keluarga, Kunci Wujudkan Rumah Impian
Bekasi, Tangerang, dan Surabaya menjadi koridor yang paling dinamis karena minat beli dan listing baru sama-sama menguat.
Kabupaten Bogor semakin kompetitif karena permintaan meningkat ketika pasokan menyusut.
Sebaliknya, Bandung dan Jakarta Timur memberikan ruang negosiasi lebih besar bagi pembeli karena pertumbuhan pasokan melampaui peningkatan minat.
Dengan kondisi tersebut, pasar properti residensial pada paruh kedua 2026 berpotensi bergerak lebih selektif.
Bagi pembeli, melimpahnya pilihan dan meningkatnya fleksibilitas penjual dapat menjadi momentum untuk melakukan perbandingan harga dan bernegosiasi sebelum mengambil keputusan.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








