Lompat ke konten utama

RealEstat.id

Konsumen Kian Selektif Beli Rumah, Pinhome Beberkan Arah Baru Pasar Properti Residensial Indonesia

Perkembangan pasar properti residensial di Indonesia sepanjang Semester I 2026 masih dipengaruhi preferensi konsumen dalam memilih hunian.
pinhome pasar properti residensial indonesia semester i 2026 realestat.id dok
Ilustrasi Foto: Realestat.id

RealEstat.id (Jakarta) – Di tengah dinamika ekonomi yang makin menantang di Semester I 2026, pasar properti residensial Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang baik, di mana potensi pasar stabil, namun niat membeli yang melambat.

Di sisi lain, kepemilikan rumah kini tidak lagi hanya berorientasi pada transaksi pembelian, tetapi juga pada nilai jangka panjang dan peningkatan kualitas hidup.

Hal ini terungkap dalam riset Pinhome: Indonesia Residential Property Market Report Semester I 2026, yang menunjukkan perkembangan pasar properti residensial yang dipengaruhi berbagai faktor dan preferensi konsumen dalam memilih hunian.

Di tengah ketidakpastian kondisi sosial ekonomi, termasuk gelombang PHK dan kenaikan biaya hidup, Pinhome mensinyalir jumlah listing baru akan meningkat disertai urgensi penjualan.

Baca Juga: Pasokan Anjlok 64,9% di Semester I 2026, Pasar Perumahan Tapak Jabodetabek Andalkan Segmen Menengah

Di sisi lain, total inventori rumah tapak secara nasional masih tumbuh 5% pada Semester I 2026 dibandingkan semester sebelumnya. Arah pertumbuhan ini dipengaruhi oleh faktor lokal.

Penundaan belanja infrastruktur memperlambat pertumbuhan di kota-kota penyangga IKN. Rata-rata pertumbuhan di Samarinda dan Balikpapan yang sebelumnya tumbuh +9,2% pada Semester 2 2025, kini bertumbuh +4,5% pada Semester I 2026.

Sementara di wilayah Bali Selatan, rencana moratorium pembangunan menahan inventori sebesar -1,6% perubahan semesteran total inventori di Kabupaten Badung sepanjang Semester I 2026.

Di sisi lain, lonjakan biaya konstruksi mendorong pengembang mengalihkan fokus pada pembangunan rumah berukuran lebih kecil sebagai respons terhadap perubahan kondisi pasar.

Baca Juga: Bukan Sekadar Transportasi Publik, TOD Kini Jadi Mesin Pertumbuhan Properti di Jakarta

Sementara itu, dari sisi permintaan, Pinhome melihat sinyal pasar menunjukkan calon pembeli semakin selektif, tercermin dari indikasi menurunnya aktivitas pencarian meski minat menghubungi agen atau pemilik properti tetap stabil.

Namun, aktivitas pencarian rumah tetap menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan rata-rata 13% per bulan sepanjang Semester 1 2026.

Temuan ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap hunian tetap tinggi, meski preferensi konsumen mengalami pergeseran.

Akses transportasi Tol Jogja–Solo dan LRT Jabodebek mendorong peningkatan pencarian di kawasan sekitarnya, sedangkan insentif fiskal dan kebijakan hunian vertikal memperkuat minat pada segmen harga yang lebih terjangkau.

Di tengah kenaikan biaya pembangunan, konsumen juga semakin mempertimbangkan rumah seken siap huni sebagai alternatif yang lebih efisien.

Baca Juga: Pasar Rumah Tapak di Jabodetabek Tetap Bergairah, Tingkat Penjualan Tembus 93%

Tren Pembiayaan Beradaptasi

Kenaikan BI-Rate hingga 5,75% mendorong penyesuaian di pasar pembiayaan, tercermin dari perubahan tren dan preferensi masyarakat dalam memilih skema KPR.

CEO & Founder Pinhome, Dayu Dara Permata mengatakan, perubahan arah kebijakan suku bunga mendorong masyarakat untuk semakin selektif dalam memilih skema pembiayaan rumah.

“Di tengah kondisi tersebut, kami melihat pasar tidak melemah, melainkan beradaptasi. Hal ini tercermin dari data Pinhome yang menunjukkan meningkatnya aktivitas Take Over KPR yang kini mendominasi sekitar 60% pasar KPR,” tuturnya.

Sementara permintaan KPR Komersial didominasi oleh segmen menengah (Rp300 juta – Rp1 Miliar) sekitar separuh (49%) dan segmen di bawah 300 juta rupiah berkontribusi sekitar 21%.

Baca Juga: Rupiah dan IHSG Tertekan, Ini Sejumlah Tantangan dan Peluang Baru Sektor Properti Tanah Air

Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan memiliki hunian tetap tinggi, sementara konsumen semakin aktif mencari solusi pembiayaan yang paling sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini,” ujar Dayu Dara Permata.

Menanggapi tren pembiayaan rumah dari Pinhome, Bank BTN berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi melalui strategi Beyond Mortgage.

Inovasi ini memastikan pembiayaan KPR tidak berhenti pada transaksi kepemilikan rumah, tetapi menjadi awal dari ekosistem layanan keuangan yang mendukung kebutuhan nasabah secara berkelanjutan.

Yulia Fitri Nurman, Institutional Relationship Department Head PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menjelaskan, Beyond Mortgage adalah komitmen BTN untuk terus berinovasi.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap pembiayaan KPR tidak berhenti pada transaksi kepemilikan rumah, tetapi menjadi awal dari ekosistem layanan keuangan yang mendukung kebutuhan nasabah secara berkelanjutan. Karena hidup tidak hanya tentang hari ini,” jelasnya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait