RealEstat.id (Jakarta) – Pengembangan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) ditengarai sebagai katalis penting untuk pertumbuhan nilai properti di masa depan.
Anton Sitorus, Head of Research & Consulting CBRE Indonesia mengatakan bahwa pengembangan berorientasi transit (TOD) semakin membentuk pasar properti Jakarta.
Pasalnya, imbuh Anton, fase berikutnya dari pertumbuhan properti Jakarta akan sangat terkait dengan konektivitas dan aksesibilitas.
Seiring perluasan jaringan transportasi massal di Jakarta, TOD tidak lagi sekadar menjadi infrastruktur transportasi, tetapi juga berkembang menjadi platform pengembangan perkotaan multifungsi (mixed-use urban development) dan penciptaan nilai jangka panjang (long-term value creation).
Baca Juga: Pasar Ritel Jakarta: Pengembang Mulai Tinggalkan Ekspansi Agresif, Kualitas Aset Jadi Kunci
Dia berharap, proyek-proyek besar seperti MRT Fase 2A dan Stasiun Dukuh Atas yang baru diluncurkan dapat memperkuat aksesibilitas, sekaligus menciptakan peluang baru bagi pengembangan perkantoran, hunian, ritel, dan kawasan multifungsi.
“Peningkatan mobilitas semakin memengaruhi keputusan lokasi penyewa maupun sebagai strategi investasi properti di seluruh wilayah kota,” tutur Anton Sitorus.
Fundamental Menguat, Apa Indikatornya?
Permintaan yang semakin tinggi terhadap aset properti berkualitas tinggi dengan konektivitas yang baik juga mendorong kinerja pasar properti Jakarta pada Kuartal II 2026, di samping pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatnya kepercayaan penyewa (occupier).
Anton Sitorus mengungkapkan bahwa kinerja pasar properti di Jakarta saat ini terus didukung oleh permintaan riil, bukan oleh aktivitas spekulatif, di mana fundamental di sektor perkantoran, logistik, dan ritel terpantau menguat.
Baca Juga: Pasar Ekspatriat di Jakarta Menguat, Hunian Fully Furnished dan Serviced Apartment Kian Diminati
Saat ini, terangnya, penyewa semakin selektif dengan memprioritaskan kualitas, aksesibilitas, efisiensi operasional, dan nilai jangka panjang (long-term value).
“Di berbagai sektor, penyewa dan tenant tetap aktif, dan kami melihat minat yang semakin besar terhadap pengembangan yang menggabungkan properti berkualitas dengan konektivitas transportasi yang kuat, terutama di sekitar lokasi hub transportasi,” jelas Anton.
Dia menegaskan bahwa pasar properti Jakarta tetap berada pada posisi yang kuat meskipun menghadapi tantangan ekonomi dan lingkungan global.
Kinerja pasar mencerminkan fundamental yang meningkat serta perubahan prioritas penyewa. Konektivitas, kualitas, dan efisiensi operasional menjadi pendorong utama penciptaan nilai.
“Meskipun pertumbuhan mungkin akan tetap berlangsung secara terukur, fondasi untuk ekspansi jangka panjang yang berkelanjutan terus menguat di seluruh sektor properti Jakarta,” tuturnya.
Baca Juga: Pasar Lesu, Hotel di Jakarta dan Bali Pilih Strategi Rebranding dan Peningkatan Layanan
Di sektor perkantoran, CBRE Indonesia mencatat momentum penyewaan di kawasan CBD maupun Non-CBD Jakarta terus berlanjut.
Di kawasan CBD Jakarta, penyerapan bersih mencapai sekitar 16.800 meter persegi pada kuartal kedua, dengan tingkat okupansi meningkat menjadi 76,3%.
Permintaan tetap didorong oleh tren flight-to-quality, di mana penyewa semakin mencari gedung Premium Grade dan Grade A yang menawarkan spesifikasi modern, fitur keberlanjutan (sustainability), dan fasilitas yang lebih baik.
Sementara, terbatasnya pasokan baru turut berkontribusi terhadap meningkatnya kondisi pasar serta prospek pertumbuhan tarif sewa.
Albert Dwiyanto, Co-Heads of Office Services CBRE Indonesia menjelaskan, tren pasar ini mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam cara perusahaan mengevaluasi lokasi kantor.
Baca Juga: Pasar Rumah Tapak di Jabodetabek Tetap Bergairah, Tingkat Penjualan Tembus 93%
“Meski alamat prestisius tetap memiliki peran penting, konektivitas dan aksesibilitas kini semakin menjadi pertimbangan yang sama pentingnya dalam pengambilan keputusan terkait real estat korporat,” ujarnya.
Menurut Albert, CBD masa depan tidak lagi ditentukan semata-mata oleh alamat atau lokasinya, namun oleh seberapa baik kawasan tersebut menghubungkan masyarakat, dunia usaha, dan berbagai peluang.
“Dalam kondisi pasar saat ini, konektivitas bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan telah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong daya saing bisnis dalam jangka panjang,” urainya.
Sementara itu, Judy Sinurat Co-Heads of Office Services CBRE Indonesia menambahkan, pasar perkantoran di kawasan Non-CBD Jakarta mencatat penyerapan bersih sekitar 12.900 meter persegi, sehingga tingkat okupansi meningkat menjadi 73,3%.
“Permintaan tetap terkonsentrasi pada gedung berkualitas tinggi dan lokasi dengan aksesibilitas yang berkembang. Relokasi penyewa dan strategi optimalisasi ruang kerja terus mendukung aktivitas pasar,” katanya.
Baca Juga: Rupiah dan IHSG Tertekan, Ini Sejumlah Tantangan dan Peluang Baru Sektor Properti Tanah Air
Di sisi lain, pasar industri dan logistik tetap menjadi salah satu sektor dengan kinerja paling baik, menurut Ivana Susilo, Head of Capital Markets and Industrial Services CBRE Indonesia.
Penyerapan lahan industri mencapai sekitar 62 hektare selama kuartal II 2026, yang mendorong tingkat okupansi kawasan industri Jabodetabek menjadi 91,2%.
Operator pusat data (data center) terus memainkan peran yang semakin signifikan dalam permintaan lahan, khususnya di Cikarang, di mana persaingan untuk mendapatkan lokasi dengan infrastruktur utilitas yang kuat telah berkontribusi pada peningkatan nilai lahan.
Di sektor logistik, tingkat okupansi mencapai 97,4%, mencerminkan permintaan yang tetap kuat dari pelaku e-commerce, manufaktur, cold-chain, dan penyedia jasa logistik 3PL.
Baca Juga: Menguak Tren Ruang Perkantoran Masa Depan: Fleksibel, Ramah Lingkungan, dan Berbasis Teknologi
“Pasokan baru yang masih terbatas, membantu menjaga fundamental pasar agar tetap sehat serta mendukung pertumbuhan tarif sewa di koridor-koridor logistik utama,” jelas Ivana.
Sementara di sektor ritel, pasar pusat perbelanjaan Jakarta kembali mencatat kinerja positif pada kuartal II 2026.
Tingkat okupansi mal terpantau meningkat menjadi 86,4%, didukung oleh penyerapan bersih yang melampaui 20.000 meter persegi.
Mal kelas premium terus mencatat kinerja terbaik dengan tingkat okupansi di atas 95%, sementara mal kelas menengah atas dan mal kelas atas juga mencatat aktivitas penyewaan yang sehat.
“Pelaku usaha ritel internasional, konsep kuliner premium, lifestyle brands, dan operator hiburan tetap menjadi kontributor utama permintaan,” tutup Ivana.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








