RealEstat.id (Jakarta) – Transformasi dunia kerja pascapandemi telah mengubah cara perusahaan memandang ruang perkantoran.
Jika sebelumnya kantor berfungsi sebagai pusat aktivitas operasional yang wajib dihadiri setiap hari, kini perannya berkembang menjadi ruang kolaborasi, pusat inovasi, sekaligus sarana membangun budaya perusahaan.
Perubahan ini turut mendorong lahirnya berbagai tren baru di pasar perkantoran yang semakin menekankan fleksibilitas, efisiensi, dan kualitas lingkungan kerja.
Co-Founder & Senior Director Leads Property, Darsono Tan, mengatakan bahwa pasar perkantoran saat ini tengah mengalami fenomena yang dikenal sebagai flight-to-quality.
Dalam kondisi pasar yang kompetitif, banyak perusahaan memanfaatkan momentum untuk berpindah ke gedung perkantoran dengan kualitas yang lebih baik di lokasi strategis tanpa harus mengeluarkan biaya sewa yang jauh lebih tinggi.
Baca Juga: Flex Office: Pengertian, Perkembangan, dan Potensi Bisnisnya di Jakarta
“Perusahaan saat ini semakin selektif dalam memilih kantor. Mereka mencari gedung yang memiliki kualitas bangunan lebih baik, fasilitas lebih lengkap, dan lokasi yang lebih strategis, terutama karena harga sewa saat ini relatif kompetitif dibandingkan beberapa tahun lalu,” ujar Darsono Tan.
Selain itu, konsep flexible office juga semakin diminati. Ketidakpastian ekonomi dan perubahan model bisnis membuat banyak perusahaan membutuhkan ruang kerja yang dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan usaha.
Fleksibilitas dalam penambahan maupun pengurangan kapasitas ruang menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan sewa kantor.
Di sisi lain, aspek keberlanjutan kini menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Gedung ramah lingkungan atau green building semakin banyak dicari oleh perusahaan, terutama korporasi multinasional yang memiliki komitmen terhadap target pengurangan emisi karbon.
“Efisiensi energi, kualitas udara yang lebih baik, serta penerapan prinsip keberlanjutan menjadi nilai tambah yang semakin menentukan daya saing sebuah gedung perkantoran,” tuturnya.
Baca Juga: Tren Flight to Green Menguat, Pasar Perkantoran CBD Jakarta Kian Selektif di 2026
Tren lainnya adalah meningkatnya preferensi terhadap gedung yang memiliki akses langsung atau dekat dengan moda transportasi publik seperti MRT dan LRT.
Menurut Darsono, konektivitas kini menjadi salah satu faktor utama dalam pemilihan kantor karena mampu meningkatkan mobilitas karyawan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

Ruang Perkantoran Masa Depan
Lebih lanjut, Darsono Tan mengungkapkan, perubahan tren tersebut tidak terlepas dari dampak pandemi yang telah mengubah pola kerja secara fundamental.
Sistem kerja hybrid dan work from home (WFH) membuat banyak perusahaan mulai mengevaluasi kembali kebutuhan ruang perkantoran mereka.
“Aktivitas rapat yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka kini banyak beralih ke platform digital, sehingga perusahaan juga meningkatkan investasi pada teknologi virtual meeting dan perangkat kerja tanpa sentuhan (touchless technology),” terangnya.
Baca Juga: Pasar Perkantoran CBD Jakarta Terus Menunjukkan Perbaikan di 2026
Sementara itu, perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital juga diperkirakan akan semakin memengaruhi desain kantor masa depan.
Konsep smart office berbasis Internet of Things (IoT), otomatisasi pekerjaan administratif, serta kebutuhan terhadap koneksi internet berkecepatan tinggi menjadi elemen yang semakin penting dalam operasional perusahaan modern.
Selain faktor teknologi, perubahan karakter tenaga kerja turut memberikan dampak signifikan. Generasi milenial dan Gen Z yang kini mendominasi pasar tenaga kerja memiliki ekspektasi berbeda terhadap lingkungan kerja.
Bagi mereka, imbuhnya, kantor bukan hanya tempat untuk bekerja, tetapi juga ruang untuk bersosialisasi, berkolaborasi, berolahraga, dan menikmati keseimbangan hidup yang lebih baik (work life balance).
“Karyawan saat ini menginginkan pengalaman kerja yang lebih holistik. Mereka ingin lingkungan kerja yang nyaman, sehat, dan mendukung produktivitas sekaligus kesejahteraan pribadi,” jelas Darsono.
Baca Juga: Pasokan Bertumbuh, Green Office Perkuat Daya Saing Perkantoran CBD Jakarta
Kesadaran terhadap gaya hidup sehat juga terus meningkat. Hal ini mendorong perusahaan untuk memilih gedung dengan sertifikasi hijau, menerapkan konsep green office, menyediakan perabot kerja ergonomis, serta mempertimbangkan kedekatan dengan fasilitas olah raga dan ruang terbuka hijau.
Di sisi lain, dengan persaingan bisnis yang semakin ketat dan kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, perusahaan dituntut untuk lebih adaptif dalam mengelola kebutuhan ruang kantor.
Efisiensi biaya, baik dari sisi tarif sewa maupun lokasi, menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan. Perusahaan juga semakin rutin mengevaluasi kebutuhan luas kantor agar lebih agile dan sesuai dengan perkembangan bisnis.
“Tren ini mendorong meningkatnya permintaan terhadap konsep flexible office yang menawarkan fleksibilitas dalam penggunaan ruang dan durasi sewa,” tutur Darsono.
Selain itu, paparnya, mulai muncul potensi penerapan strategi split office, di mana fungsi-fungsi bisnis tertentu ditempatkan di lokasi berbeda untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menjaga produktivitas perusahaan.
Baca Juga: Pasar Perkantoran Jakarta: Menuju Fase Pemulihan, Meski Oversupply Membayangi

Adaptasi Terhadap Ruang Perkantoran Masa Depan
Dalam menghadapi berbagai perubahan tersebut, kawasan mixed-use diperkirakan akan menjadi model pengembangan perkantoran yang paling relevan di masa depan.
Kawasan yang mengintegrasikan fungsi perkantoran, hunian, pusat perbelanjaan, hiburan, hingga fasilitas olahraga dinilai mampu menjawab kebutuhan generasi pekerja modern yang mengutamakan efisiensi dan kenyamanan.
Menurut Darsono, lokasi kantor yang berada dalam kawasan mixed-use memiliki daya tarik lebih besar dibandingkan gedung perkantoran yang berdiri sendiri.
“Selain memberikan kemudahan akses terhadap berbagai fasilitas, konsep ini juga sejalan dengan tren work from anywhere yang semakin berkembang,” katanya.
Di sisi lain, terang Darsono Tan, perubahan preferensi mobilitas juga membuat fungsi lahan parkir mengalami pergeseran.
Jika sebelumnya kapasitas parkir menjadi salah satu faktor utama dalam pengembangan gedung kantor, kini kebutuhan tersebut mulai berkurang karena meningkatnya penggunaan transportasi publik dan layanan ride-hailing.
Baca Juga: Pasokan Stagnan, Strategi Rightsizing Banyak Dipakai Tenant Perkantoran di CBD Jakarta
Sebaliknya, fasilitas pengisian kendaraan listrik atau EV charging diperkirakan akan menjadi fasilitas yang semakin dibutuhkan.
Dari sisi teknologi, kebutuhan terhadap sambungan telepon konvensional semakin menurun. Sebaliknya, konektivitas internet berkecepatan tinggi dengan biaya yang kompetitif menjadi salah satu infrastruktur paling penting bagi perusahaan.
Darsono menambahkan bahwa faktor efisiensi akan menjadi pertimbangan utama dalam strategi ruang perkantoran masa depan.
Banyak perusahaan mulai menerapkan konsep ruang kerja dengan desain terbuka, sistem hot desking, area kolaborasi, serta ruang rapat multifungsi yang mampu mengakomodasi lebih banyak karyawan tanpa harus menambah luas kantor secara signifikan.
Kondisi ini juga memunculkan kombinasi antara tren flight-to-quality dan flight-to-value. Sebagian perusahaan memilih kantor premium di lokasi utama dengan luas yang lebih kecil untuk menjaga citra perusahaan, sementara sebagian lainnya mencari ruang yang lebih luas di lokasi sekunder dengan biaya yang lebih efisien.
“Tak hanya itu, perusahaan juga melakukan strategi sentralisasi dan desentralisasi. Sentralisasi untuk bisnis yang membutuhkan minimum luasan tertentu untuk mendapatkan naming dan/atau signage right. Sementara, desentralisasi dilakukan untuk bisnis yang memiliki fungsi bisnis yang tidak perlu berada di CBD,” urainya.
Baca Juga: Koridor MRT dan LRT Jadi Magnet Baru Pasar Perkantoran Jakarta
Strategi Head Office – Support Office
Lebih lanjut, Darsono menuturkan, ke depan, model perkantoran diperkirakan akan mengarah pada pemisahan fungsi antara head office dan support office.
Head office akan lebih berperan sebagai pusat representasi perusahaan dengan lokasi di kawasan CBD premium yang terhubung MRT dan LRT, berada dalam kawasan mixed-use, memiliki sertifikasi green building, serta menempati ruang yang lebih efisien namun fleksibel.
Sementara itu, support office akan lebih berfokus pada efisiensi biaya operasional. Lokasinya dapat berada di kawasan sekunder yang memiliki akses transportasi memadai menuju CBD atau bahkan di kota-kota pelajar yang menawarkan ketersediaan tenaga kerja berkualitas.
“Gedung dengan kualitas standar, internet yang andal, biaya sewa kompetitif, serta luas ruang yang lebih besar akan menjadi pilihan utama untuk fungsi pendukung perusahaan,” ujarnya.
Dengan berbagai perubahan tersebut, ruang perkantoran masa depan tidak lagi sekadar menjadi tempat bekerja, namun bertransformasi menjadi pusat kolaborasi, inovasi, dan pengalaman kerja yang mampu mendukung kebutuhan bisnis yang semakin dinamis sekaligus memenuhi tuntutan gaya hidup generasi pekerja modern.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








