RealEstat.id (Jakarta) – Saat ini, kawasan industri di Indonesia tak lagi cukup hanya dengan mengandalkan ketersediaan lahan, infrastruktur jalan, listrik, air, maupun fasilitas pabrik.
Di tengah persaingan ekonomi global, daya saing kawasan industri semakin ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia, kemampuan melahirkan inovasi, serta keberanian menciptakan usaha baru.
Founder dan Chairman PT Jababeka Tbk (IDX: KIJA) Setyono Djuandi Darmono menilai, pengalaman mengembangkan Kota Jababeka menunjukkan bahwa kawasan industri perlu terus bertransformasi agar mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.
Menurutnya, kawasan industri idealnya tidak berhenti sebagai kawasan produksi, tetapi berkembang menjadi kota sekaligus ekosistem yang saling terhubung.
Di dalam ekosistem tersebut, sektor industri, pendidikan, hunian, teknologi, kesehatan, budaya, hingga kewirausahaan (entrepreneurship) dapat tumbuh bersama.
“Itulah sebabnya sejak awal kami tidak melihat Kota Jababeka hanya sebagai tempat berdirinya pabrik. Kami ingin membangun sebuah kota di mana orang bisa bekerja, belajar, tinggal, membangun keluarga, berinovasi, dan akhirnya menciptakan perusahaan baru,” kata SD Darmono.
Baca Juga: Jababeka Akuisisi 51% Saham Kawasan Industri Seafer di Kendal Senilai Rp340,86 Miliar
Hadirkan Institusi Pendidikan di Kawasan Industri
Saat roda industrialisasi di Cikarang berputar cepat—dan perusahaan lokal dan mancanegara masuk—PT Jababeka Tbk melihat persoalan yang sangat jelas: mereka tak hanya membutuhkan tanah dan infrastruktur.
Perusahaan-perusahaan ini membutuhkan manusia yang mempunyai pengetahuan, disiplin, kemampuan berbahasa, pemahaman teknologi, dan pengalaman bekerja di lingkungan industri.
Melihat kebutuhan tersebut, pada tahun 2001 Jababeka mendirikan yayasan pendidikan yang kemudian melahirkan President University.
“Pemikirannya sederhana: mengapa universitas harus jauh dari tempat mahasiswa nantinya bekerja? Kalau universitas berada di tengah kawasan industri, maka perusahaan bisa menjadi bagian dari proses pendidikan,” kata SD Darmono yang juga Founder President University.
Dengan hadirnya President University, imbuhnya, mahasiswa tak hanya mendengar teori mengenai perusahaan beroperasi dari dosen. Mereka juga dapat melihat secara langsung bagaimana perusahaan kelas dunia beroperasi.
“Karenanya, salah satu karakter pendidikan yang didorong President University daalah kuliah sambil mendapatkan pengalaman industri melalui internship atau magang,” terang Darmono.
Baca Juga: Jababeka Bizpark Raih Properti Indonesia Award 2026, Tegaskan Potensi Kawasan Industri Jababeka
Lebih jauh, mahasiswa tak hanya belajar di kampus tapi juga mengenal lingkungan perusahaan. Mereka memahami bahwa di dunia nyata terdapat target, kualitas, disiplin waktu, keselamatan kerja, teknologi, pemasaran, keuangan, logistik, budaya perusahaan, serta persaingan internasional.
Menurut SD Darmono, dengan pengalaman tersebut, hubungan antara universitas dan dunia kerja menjadi lebih dekat. Universitas mengetahui apa yang dibutuhkan industri, sementara industri bisa mengenal talenta sebelum mereka lulus.
“Di sini mahasiswa memperoleh pengalaman sebelum memasuki dunia kerja. Inilah salah satu bentuk hubungan industry-university collaboration yang menurut saya perlu diperluas di Indonesia,” ujar Darmono.
Penulis buku Think Big, Start Small, Move Fast ini mengatakan, pengalaman magang di perusahaan nasional dan multinasional bisa menjadi sekolah bisnis yang luar biasa.
Di sana mahasiswa dapat melihat bagaimana sebuah perusahaan membangun produk, menjaga kualitas, mengelola tenaga kerja, menggunakan teknologi, mencari pasar, dan bersaing secara global. Pengetahuan tersebut kemudian dapat menjadi modal ketika mereka ingin membangun usaha sendiri.
“Karena itu, saya selalu melihat entrepreneurship bukan sekadar mata kuliah. Entrepreneurship adalah mindset. Seorang entrepreneur melihat masalah sebagai peluang. Ia berani mengambil risiko yang terukur. Ia menciptakan produk, pekerjaan, dan akhirnya menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Baca Juga: Jababeka (KIJA) Rugi Bersih Rp6,4 Miliar di Semester I 2026, Ternyata Bukan Karena Bisnis Melemah
Harus Mampu Ciptakan Job Creator
Perkembangan Cikarang kemudian memperlihatkan efek lain yang menarik. Ketika industri tumbuh, jumlah tenaga kerja bertambah, kebutuhan terhadap sekolah dan pendidikan tinggi ikut meningkat.
Kemudian secara organik muncul berbagai sekolah, universitas, lembaga pelatihan, dan institusi pendidikan di kawasan Bekasi, Cikarang, Karawang dan sekitarnya. Artinya, sebuah kawasan industri dapat menjadi katalis bagi lahirnya sebuah industri pendidikan.
“Sebaliknya, kehadiran pendidikan berkualitas membuat sebuah kawasan industri semakin kompetitif, karena tersedia pasokan sumber daya manusia yang lebih baik,” urai Darmono.
Menurutnya, hubungan ini membentuk lingkaran pertumbuhan: industry creates jobs, education creates talent, talent creates innovation, innovation creates new businesses, and new businesses create more jobs.
“Inilah yang saya sebut sebagai evolusi dari industrial estate menjadi knowledge and entrepreneurship ecosystem,” kata pria kelahiran Yogyakarta ini.
Baca Juga: Jababeka Dapat Pembiayaan Rp1,2 Triliun dari BRI untuk Ekspansi Kawasan Industri Kendal
Di tengah optimisme tersebut, SD Darmono melihat masih ada satu tantangan yang lebih besar. Dia menilai Indonesia tak cukup hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja, namun perlu menghasilkan banyak job creators.
Dia menuturkan, Indonesia harus berani untuk menargetkan pertumbuhan jumlah entrepreneur menjadi 10%, yakni masyarakat yang mempunyai semangat dan kemampuan menciptakan usaha produktif.
Pasalnya, negara besar tak dapat hanya bergantung pada pemerintah atau perusahaan-perusahaan besar untuk menciptakan lapangan pekerjaan.
Sebaliknya, jutaan pekerjaan sebaiknya datang juga dari perusahaan baru, UMKM, startup, industri kreatif, serta generasi muda entrepreneur Indonesia.
“Di President University, kami ingin agar mahasiswa tidak hanya bertanya: “setelah lulus saya bekerja di perusahaan apa?” Tetapi juga berani bertanya: “perusahaan apa yang dapat saya bangun?” ungkapnya.
Baca Juga: Kantongi Pinjaman Jangka Panjang dari Bank Mandiri, Jababeka Refinancing Utang USD185 Juta
Koridor Timur: Bekasi–Cikarang–Karawang
Koridor Timur Jakarta: Bekasi–Cikarang–Karawang mempunyai posisi yang sangat menarik bagi masa depan industrialisasi Indonesia.
Sebab, di wilayah ini terdapat konsentrasi industri, tenaga kerja, perumahan, universitas, logistik, infrastruktur, pusat perdagangan dan berbagai jasa pendukung dalam skala besar.
“Dengan kata lain, wilayah ini bisa menjadi laboratorium industrialisasi Indonesia. Para stakeholder dapat belajar apa yang berhasil, apa yang tidak berhasil, kemudian membawa model terbaik tersebut ke berbagai wilayah lain,” kata Darmono.
Dia menegaskan, Indonesia bukan hanya Jawa. Negara ini mempunyai lebih dari 17.000 pulau, dengan sumber daya, budaya, dan potensi ekonomi yang sangat berbeda. Karena itu, Indonesia membutuhkan pusat-pusat pertumbuhan baru.
Kendati demikian, tidak semua wilayah harus menjadi seperti Jakarta atau Cikarang. Setiap wilayah harus berkembang berdasarkan keunggulannya sendiri, yakni manufaktur, agro-industry, mineral processing, tourism, maritime industry, digital economy, atau kombinasi beberapa sektor.

Baca Juga: Tetap Solid di Kuartal I 2026, Jababeka (KIJA) Cetak Laba Rp164 Miliar
“Meski demikian, prinsip dasarnya sama: di mana ada industri, harus ada pendidikan. Di mana ada pendidikan, harus ada innovation. Dan di mana ada innovation, harus muncul entrepreneurship,” ungkapnya.
Oleh karena itu, SD Darmono melihat pembangunan kawasan industri masa depan membutuhkan lima unsur yang tidak terpisahkan: Industry – Infrastructure – Education – Innovation – Entrepreneurship.
“Industry memberikan kegiatan ekonomi. Infrastructure membuat kegiatan tersebut efisien. Education menghasilkan manusia yang menjalankannya. Innovation membuat industri terus berkembang. Entrepreneurship melahirkan perusahaan-perusahaan baru,” urainya.
Bila lima unsur ini tumbuh bersama, sebuah kawasan industri tak lagi sekadar menjadi kumpulan pabrik. Kawasan Industri menjadi sebuah mesin pertumbuhan ekonomi.
“Lebih jauh lagi, kawasan tersebut menjadi tempat lahirnya generasi baru profesional, ilmuwan, manajer, teknisi, dan entrepreneur,” jelasnya.
Baca Juga: Jababeka dan China Silk Road Group Bentuk Innovation Center, Dorong Investasi Indonesia–Tiongkok
Human capital adalah Infrastruktur Utama
Lebih lanjut, SD Darmono menerangkan, selama puluhan tahun masyarakat Indonesia terbiasa melihat infrastruktur sebagai jalan tol, pelabuhan, pembangkit listrik, bandara dan kawasan industri.
Menurutnya, semua itu memang penting. Tapi dalam ekonomi abad ke-21, ada satu infrastruktur yang lebih menentukan daripada semuanya, yaitu human capital.
“Jalan bisa dibangun beberapa tahun. Pabrik dapat dibangun beberapa bulan. Tetapi membangun manusia membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang. Karena itu, industrialisasi dan pendidikan harus direncanakan bersama sejak awal,” katanya.
Indonesia mempunyai keunggulan bonus demografi, pasar yang besar, sumber daya alam, posisi geografis strategis dan generasi muda yang sangat adaptif terhadap teknologi.
“Hal yang kita perlukan sekarang adalah menghubungkan seluruh kekuatan tersebut dalam sebuah ekosistem,” terangnya.
Baca Juga: Jababeka Bertransformasi Jadi Kota Wisata Industri: Integrasikan Industri, Pariwisata, dan UMKM
Sekarang, terang SD Darmono, tantangannya jauh lebih besar. Indonesia harus menciptakan banyak pusat pertumbuhan baru di seluruh Nusantara.
Kota-kota harus berkembang dengan ekosistem yang memungkinkan industri, pendidikan, teknologi, penelitian, entrepreneurship, dan kehidupan masyarakat berkembang bersama. Prinsipnya tetap sama: think big, start small, move fast.
“Karena pada akhirnya, masa depan industrialisasi Indonesia tak hanya akan ditentukan oleh berapa banyak pabrik yang kita bangun,” jelasnya.
Darmono menuturkan, masa depan ditentukan berapa banyak manusia berkualitas yang terlahir, berapa banyak inovasi yang tercipta, dan berapa banyak entrepreneur baru yang berani membangun perusahaan dan membuka lapangan pekerjaan.
“Itulah transformasi yang Indonesia perlukan. Dari kawasan industri menjadi kota industri. Dari kota industri menjadi knowledge ecosystem. Dan dari knowledge ecosystem menjadi pusat lahirnya entrepreneur Indonesia,” tutupnya.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








