RealEstat.id (Jakarta) – Sektor ritel di Jakarta terus mengalami pertumbuhan yang signifikan, meski tidak terjadi pada seluruh kelas.
Pusat perbelanjaan dengan konsep pengalaman (experience-led retail) terpantau tengah tumbuh, bahkan menuju pada bentuk ruang yang berbasis sustainability.
Menurut Syarifah Syaukat, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, hal ini tidak mengherankan, karena ritel dengan green space tidak lagi sekadar upaya memenuhi komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.
“Konsep ini mulai menjadi strategi untuk merespons tekanan perubahan iklim, kebutuhan efisiensi operasional, perubahan ekspektasi konsumen terhadap biophilic space, dan semakin ketatnya kompetisi ruang retail di Jakarta,” terangnya.
Baca Juga: Pasar Ritel Jakarta: Pengembang Mulai Tinggalkan Ekspansi Agresif, Kualitas Aset Jadi Kunci
Berdasarkan catatan Knight Frank Indonesia, sejak tahun 2023 Jakarta telah memiliki ritel yang telah bersertifikat hijau (Green Concept), kendati masih dalam jumlah yang terbatas.
Setelah pandemi, terang Syarifah, beberapa ritel pada kelas A, telah berlabel hijau, yang dalam perjalanannya memiliki okupansi lebih tinggi, dibandingkan dengan rerata ritel umumnya di Jakarta.
Dari kategorisasi yang dilakukan oleh Knight Frank, Green Ceritified Retail dan Retail dengan Green Space memiliki okupansi yang lebih tinggi dibandingan dengan integrated retail (mixed use) dan ritel konvensional.
“Angka okupansi tersebut mencerminkan, pergeseran minat pasar dan adaptasi pengelola terhadap kebutuhan ruang di masa depan,” kata Sari, sapaan akrab Syarifah Syaukat.
Baca Juga: Pasar Ritel Jakarta Tumbuh Positif di Kuartal I 2026, F&B dan Fesyen Masih Dominasi Permintaan
Di sisi lain, F&B menjadi tenant yang paling aktif masuk di ruang ritel Jakarta saat ini, terutama pada ritel dengan green space. Bahkan, tenant baru ruang ritel dikuasai brand F&B lokal.
Meski demikian, tantangan masih terlihat pada performa ritel kelas menengah ke bawah, yang masih perlu terus beradaptasi terhadap dinamika pasar saat ini.
Di sepanjang Semester I 2026, Knight Frank Indonesia mencatat, total pasokan mal di Jakarta naik 1% secara tahunan menjadi 4.424.352 m2, setelah mendapat tambahan pasokan dari dua mal baru di Jakarta Selatan.
Sementara itu, rerata tingkat okupansi ruang ritel sedikit meningkat di kisaran 78,2%, atau naik tipis dari akhir tahun lalu. sedangkan, rerata harga sewa meningkat sekitar 1,9% dari tahun lalu.
Baca Juga: Pasar Ritel Jakarta Tetap Stabil di Kuartal II 2026, Sektor F&B dan Brand Tiongkok Dorong Permintaan
Data Knight Frank Indonesia menyebut bahwa separuh tenant baru yang masuk di ruang ritel awal tahun ini berasal dari sektor FnB.
“Selain itu, tenant yang juga masih aktif masuk ke ruang ritel berasal dari sektor : Fashion, Beauty, Jewelry & Accessoris, Lifestyle, dan Entertainment,” jelas Syarifah.
Langkah ekspansi peritel masih terus berlanjut untuk mewujudkan ruang ritel yang produktif dan menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen saat ini.
Salah satunya ditunjukkan oleh Joysparks Group melalui pengembangan ekosistem intergrated retail yang mengelola tiga bisnis utama; Star Department Store, Happy Harvest Supermarket, dan Lintas Bookstore.
Baca Juga: Tren Ritel Jakarta 2026: Konsep Open-Air dan Tenant Relevan Jadi Kunci Sukses
Dalam waktu dekat, Joysparks Group menargetkan pengoperasian 10 gerai dan akan terus berkembang dalam 2-3 tahun ke depan.
Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia menjelaskan, perubahan demografi dan adopsi teknologi mendorong evolusi ritel Jakarta menuju experience-led retail, sekaligus membuka kembali peluang investasi pada aset ritel produktif, pada kelas tertentu.
“Di tengah pertumbuhan yang lebih selektif, green retail dapat memberikan value-added terhadap pengunjung, dengan ruang ritel yang menggabungkan sustainability features sebagai bentuk experiential led retail akan menjadikan ruang ritel semakin produktif sebagai long-term asset value,” tutupnya.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








