Lompat ke konten utama

RealEstat.id

Pasar Ritel Jakarta Tetap Stabil di Kuartal II 2026, Sektor F&B dan Brand Tiongkok Dorong Permintaan

Di tengah dinamika ekonomi dan perubahan perilaku konsumen, tingkat okupansi sektor ritel Jakarta di Kuartal II 2026 tetap tinggi, sementara tambahan pasokan relatif terbatas.
Mal Grand Indonesia Ruang Ritel Jakarta Kuartal i ii iii iv 2024 2025 realestat.id dok
Foto: Realestat.id

RealEstat.id (Jakarta) – Pasar ritel Jakarta menunjukkan kinerja yang relatif stabil di sepajang kuartal II 2026.

Di tengah dinamika ekonomi dan perubahan perilaku konsumen, tingkat okupansi pusat perbelanjaan masih tetap tinggi, sementara tambahan pasokan relatif terbatas.

Berdasarkan data Leads Property, total pasokan ruang ritel Jakarta pada kuartal II 2026 mencapai 3,58 juta meter persegi, tidak berubah dibandingkan kuartal sebelumnya.

Sementara itu, permintaan ruang ritel selama kuartal tersebut tercatat mengalami peningkatan menjadi 6.685 meter persegi.

Baca Juga: Pasar Ritel Jakarta Tumbuh Positif di Kuartal I 2026, F&B dan Fesyen Masih Dominasi Permintaan

Tingkat okupansi berada di level 91%, sedangkan rata-rata harga sewa mencapai Rp480.700 per meter persegi per bulan.

“Kondisi ini menunjukkan keseimbangan pasar masih terjaga meskipun aktivitas ekspansi tenant berlangsung secara selektif,” ungkap Head of Research & Consultancy Leads Property, Martin Samuel Hutapea.

Memasuki semester II 2026, Leads Property memprediksi pasokan ritel Jakarta akan meningkat menjadi 3,61 juta meter persegi atau bertambah sekitar 60.236 meter persegi secara tahunan.

Menurut Martin, salah satu tambahan pasokan yang diperkirakan masuk pada akhir 2026 berasal dari Lippo Mall at Holland Village.

martin samuel hutapea leads property realestat.id dok Ritel Kuartal i ii iii iv 2026 2027
Martin Samuel Hutapea, Associate Director Research & Consultancy Department Leads Property (Foto: Dok. Pribadi)

Baca Juga: Pasar Ritel Jakarta: Pengembang Mulai Tinggalkan Ekspansi Agresif, Kualitas Aset Jadi Kunci

Meski terdapat tambahan ruang ritel, tingkat okupansi diperkirakan tetap stabil di sekitar 91%. Hal ini menunjukkan bahwa pasokan baru diperkirakan masih dapat diserap oleh pasar.

Dari sisi permintaan, aktivitas ekspansi tenant diprediksi terus berlanjut. Permintaan tahunan pasar ritel Jakarta diperkirakan meningkat menjadi sekitar 50.000–55.000 meter persegi.

Martin mengatakan, permintaan ruang ritel Jakarta masih relatif stabil. Salah satu pendorong utama berasal dari kategori food and beverage (F&B), yang terus menjadi sumber permintaan ruang komersial.

“Selain F&B, ekspansi brand ritel asal Tiongkok juga masih berlangsung. Kehadiran berbagai merek baru tersebut turut memberikan warna terhadap perkembangan pasar ritel Jakarta, khususnya bagi pusat perbelanjaan yang memiliki basis pengunjung kuat,” katanya.

Baca Juga: Tren Ritel Jakarta 2026: Konsep Open-Air dan Tenant Relevan Jadi Kunci Sukses

Stabilnya tingkat okupansi turut membuat harga sewa diperkirakan tidak mengalami perubahan signifikan. Hingga akhir 2026, rata-rata harga sewa diproyeksikan berada di sekitar Rp481.000 per meter persegi per bulan.

“Dengan tambahan pasokan yang masih terukur, permintaan yang relatif stabil, serta okupansi di level 91%, pasar ritel Jakarta diperkirakan tetap memiliki prospek positif pada paruh kedua 2026,” tutur Martin.

Tantangan bagi pengelola pusat perbelanjaan ke depan bukan hanya menjaga tingkat keterisian, tetapi juga menghadirkan tenant dan konsep yang mampu menjawab perubahan kebutuhan konsumen.

Dalam kondisi tersebut, F&B, lifestyle, hiburan, serta masuknya brand baru menjadi faktor penting dalam menjaga daya tarik pusat ritel Jakarta.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait