Timur Jakarta Dominasi Permintaan Ruang Kawasan Industri Jabodetabek

Saat pasar beradaptasi di era new normal, permintaan baru datang dari sektor industri terkait consumer goods, e-commerce, logistik, dan pusat data.

Kawasan industri MM2100 di Koridor Timur Jakarta. (Foto: Dok. mm2100.co.id)
Kawasan industri MM2100 di Koridor Timur Jakarta. (Foto: Dok. mm2100.co.id)

RealEstat.id (Jakarta) - Pandemi COVID-19 dinilai telah mempercepat laju perdagangan melalui platform daring (online), baik yang dilakukan oleh konsumen maupun perusahaan. Hal ini akan memberikan dampak positif kepada permintaan di masa depan. Selain itu, kondisi ini membuat sektor e-commerce, logistik, dan pusat data akan menjadi kunci utama dalam permintaan ruang kawasan industri.

"Kami juga memperkirakan antusiasme para investor akan kembali bangkit saat aturan pembatasan pergerakan telah diangkat,” Wira Agus, Director Industrial and Land Sales Cushman & Wakefield Indonesia.

Baca Juga: Harga Lahan Industri Jabodetabek Naik Karena Dua Hal Ini

Wira Agus menjelaskan, dengan merebaknya pandemi COVID-19 sejak Maret 2020, tidak ada pasokan baru di pasar industri pada Kuartal II. Dengan demikian, total pasokan kumulatif di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) tidak mengalami perubahan di 14.990 hektar.

Semakin terbatasnya land bank di Jakarta dan sekitarnya, menyebabkan pengembangan kawasan industri di masa depan berpotensi untuk berkembang ke arah Koridor Timur Jakarta, seperti Karawang, Purwakarta, hingga Subang. Hal ini sejalan dengan pengembangan fasilitas pendukung yang sedang dibangun di daerah tersebut.

Baca Juga: Timur Jakarta Digadang Jadi Kawasan Industri Terbesar di Asia Tenggara

Namun, di sisi lain, dengan adanya upaya pengurangan risiko penyebaran COVID-19, aktivitas konstruksi untuk ekspansi yang sedang berjalan di Subang tertunda. Hal ini tentu akan berdampak ke penundaan operasional hingga paling cepat di akhir 2020.

Permintaan Turun, Harga Tertahan
Permintaan sebanyak 34 hektar di Jakarta dan sekitarnya tercatat di kuartal ini, dengan keseluruhan permintaan pada kawasan industri yang berlokasi di Koridor Timur Jakarta. Walaupun sektor industri menjadi salah satu yang tidak terlalu terdampak COVID-19 (dibuktikan dengan serapan positif dalam kuartal ini), serapan bersih ini menurun sebesar 37,5% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Saat konsumen dan bisnis beradaptasi dengan kebiasaan “new normal” dan pola konsumsi saat COVID-19, permintaan (inquiries) baru datang dari sektor industri terkait consumer goods, e-commerce, logistik, dan pusat data.

Baca Juga: Jababeka Residence: Dari TOD City Menuju “Silicon Valley”

Kendati demikian, beberapa transaksi yang sedang terjadi, terutama dari investor internasional, mengalami penundaan atau pembatalan dalam jangka pendek yang disebabkan oleh lockdown lokal dan pembatasan perjalanan antar negara yang diberlakukan oleh banyak negara di wilayah Asia Pasifik. Keadaan ini kemungkinan belum akan berubah hingga pelonggaran atau pengangkatan aturan PSBB di Jakarta dan pembatasan perjalanan menuju Indonesia diberlakukan. 

Sementara itu, harga rata-rata lahan industri mengalami penurunan sebesar 3,13% (QoQ) menjadi Rp2.565.000 per meter persegi dari kuartal sebelumnya. Penurunan harga ini terjadi seiring menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS di kuartal ini. Selama masa krisis ini, pengembang kawasan industri berupaya untuk menjaga dan menahan harga tanah di tingkatan yang sama untuk memikat investor, terutama dari mancanegara.

Redaksi@realestat.id

Berita Terkait

Suasana kerja di perkantoran. (foto: netclipart)
Suasana kerja di perkantoran. (foto: netclipart)
Lahan Kawasan Industri. (Foto: Dok. Bekasi Fajar Industrial Estate)
Lahan Kawasan Industri. (Foto: Dok. Bekasi Fajar Industrial Estate)