RealEstat.id (Jakarta) – Kendati terjadi sedikit koreksi penyerapan lahan dibandingkan dua tahun terakhir, namun secara umum pasar properti industri di Jabodetabek masih tetap tangguh.
Konsultan properti Knight Frank Indonesia mencatat, permintaan lahan industri saat ini ditopang oleh sektor data center, diikuti beberapa sektor unggulan lain, seperti manufaktur, F&B, dan EV-related.
Di tengah dinamika serapan lahan industri yang terjadi, pasokan baru di paruh pertama 2026 terpantau bertambah, terutama dari koridor Timur Jakarta.
Tak hanya itu, potensi pasokan baru lahan industri dengan jumlah yang cukup besar, diprediksi akan hadir tidak hanya dari wilayah Jabodetabek, tetapi juga meluas hingga ke Subang, bahkan beberapa area di Jawa Tengah.
Baca Juga: Pasar Industri Jabodetabek Masuki Fase Investasi Baru, Kualitas Investasi Jadi Prioritas
Kondisi pasar industri di Semester I 2026 ditandai dengan serapan yang mendominasi di beberapa submarket unggulan, yaitu Bekasi, Karawang dan Cilegon.
Syarifah Syaukat, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia mengatakan, kawasan industri di Bekasi dan Karawang masih potensial menyerap untuk sektor Data Center.
“Sedangkan Cilegon tahun ini mendominasi serapan tidak hanya pada sektor chemical, tetapi juga mulai dimasuki sektor EV-related,” terangnya.
Cilegon, imbuhnya, didukung oleh basis industri berat, ekosistem pelabuhan dan logistk, dan infrastruktur energi, berpotensi terus berkembang sebagai klaster industri EV, khususnya untuk commercial EV.
Baca Juga: Makin Terintegrasi, Kawasan Industri di Semarang Raya Tebar Pesona kepada Investor
Selain itu, Cilegon juga dapat menjadi alternatif perluasan cluster dari aglomerasi EV Supply yang saat ini terkonsentrasi di Jawa Barat (koridor Timur dari Greater Jakarta).
Syarifah menjelaskan, Data Center, sebagai occupier yang aktif mendominasi serapan lahan sejak tahun 2022, kembali mengakuisisi lahan di koridor Timur, setelah sempat tertahan sebelumnya di akhir tahun lalu.
“Sedangkan sektor EV-related tercatat terus aktif melakukan ekspansi, meski tidak lagi tercatat sebagai occupier dengan serapan lahan tertinggi,” tuturnya.
Di sisi lain, dalam rangka memenuhi permintaan pasar, para investor saat ini juga terus aktif melakukan ekspansi di koridor Timur Jakarta, tidak hanya untuk lahan industri tetapi juga ruang pergudangan modern, yang diminati oleh occupier dari sektor logistik, e-commerce, elektronik, dan lain-lain.
Baca Juga: Kawasan Industri Bergeser ke Timur, Purwakarta dan Subang Jadi Magnet Baru Investasi di 2026
Menukil data Knight Frank Indonesia, sepanjang Semester I 2026 pasokan pasar kawasan industri Jabodetabek dan sekitarnya kembali bertambah dari koridor Timur, membuat total stok mencapai 16.020 hektare.
Syarifah Syaukat mengungkapkan, rerata harga lahan mengalami kenaikan di beberapa submarket. Menurutnya, hal ini terjadi karena tingginya permintaan lahan, terutama di koridor Timur.
Secara umum, terangnya, total serapan lahan industri Jabodetabek di sepanjang Semester I 2026 berkisar 127,5 hektare.
“Bekasi, Karawang, dan Purwakarta, dari koridor Timur menjadi penyerap lahan tertinggi. Sementara itu, dari koridor Barat, serapan lahan di Cilegon juga patut diperhitungkan,” katanya.
Baca Juga: Pasar Gudang Modern Greater Jakarta Makin Ketat, Tingkat Hunian Tembus 95,8% di Awal 2026
Menambahkan penjelasan, Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia menyebut bahwa submarket industri yang ada di wilayah Greater Jakarta merupakan aglomerasi kawasan yang prima untuk pengembangan industri, tidak hanya berbasis padat karya, tetapi juga padat teknologi.
Hal ini terbukti dengan dominasi serapan lahan untuk sektor data center dan EV-related, yang tidak hanya tumbuh sebagai ekosistem di koridor Timur, tetapi juga mulai masuk ke koridor Barat.
“Dengan demikian, daya kompetisi Jabodetabek diharapkan semakin mature sebagai multi nodal industrial ecosystem yang dapat menjadi alternatif pilihan lokasi investasi, baik bagi investor regional maupun global,” tutupnya.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








