RealEstat.id (Jakarta) – Mulai mengembangkan pendidikan berbasis entrepreneurship di Surabaya pada 2006 lalu, kini Universitas Ciputra (UC) mengembangkan sayapnya ke Jakarta lewat Universitas Ciputra Jakarta (UC Jakarta).
Mulai beroperasi pada September 2026, kampus Universitas Ciputra ketiga—setelah Surabaya dan Makassar—ini secara resmi mengukuhkan Prof. Christina Eviutami Mediastika, S.T., Ph.D. sebagai Campus Director dan Winarto Poernomo, S.E., M.M. sebagai Vice Campus Director for Operational Affairs, Sabtu (29/8/2026).
Momentum tersebut sekaligus menandai babak baru perjalanan Universitas Ciputra dalam membawa pendidikan entrepreneurship ke lingkungan yang memiliki karakter ekonomi dan industri yang dinamis.
Selain itu, penunjukan Prof. Christina Eviutami Mediastika, S.T., Ph.D. sebagai Campus Director menjadikannya perempuan pertama yang memimpin UC Jakarta.
Christina merupakan akademisi dan profesor di bidang akustika arsitektur. Pengalaman akademik dan penelitiannya membawanya terlibat dalam berbagai kegiatan internasional, termasuk research fellowship, visiting professor, serta sebagai assessor FIBAA dan ACQUIN.
Dia juga telah melakukan perjalanan akademik dan riset ke 56 negara. Pengalaman tersebut menjadi modal dalam membangun lingkungan akademik yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kolaborasi lintas disiplin, serta kebutuhan masyarakat.
Prof. Denny Bernardus, Board Director Ciputra Group sekaligus Sekretaris Yayasan Ciputra Pendidikan, mengatakan kepemimpinan Prof. Christina menjadi bagian penting dalam membangun fondasi UC Jakarta.
“Kami ingin UC Jakarta tumbuh dengan standar akademik dan budaya entrepreneurship yang kuat, sekaligus mampu merespons karakter dan kebutuhan ekosistem Jakarta,” katanya.
Denny berharap, kepemimpinan Prof. Christina dapat memperkuat budaya inovasi, kolaborasi, dan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan masyarakat.
Baca Juga: Dari Entrepreneurship ke Generative AI: Lompatan Quantum Universitas Ciputra di Usia ke-19
Sementara itu, Prof. Christina Eviutami Mediastika mengatakan UC Jakarta akan diarahkan menjadi lingkungan pendidikan yang memungkinkan mahasiswa belajar tidak hanya dari ruang kelas, tetapi juga dari persoalan dan peluang yang ada di dunia nyata.
Menurutnya, entrepreneurship bukan hanya tentang mendirikan bisnis, tetapi tentang cara berpikir untuk melihat peluang, menciptakan solusi, berani mengambil inisiatif, dan memberikan dampak.
“Di Jakarta, kami ingin mahasiswa memiliki ruang yang lebih luas untuk berinteraksi dengan dunia profesional, mencoba gagasan, berkolaborasi, dan belajar dari berbagai persoalan nyata,” katanya.
Lebih lanjut, Christina menuturkan, mahasiswa generasi saat ini menghadapi perubahan yang berlangsung semakin cepat.
“Karena itu, pendidikan tinggi perlu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berkolaborasi, serta berani bereksperimen,” ujarnya.
Baca Juga: Dibuka di 2026, Universitas Ciputra Jakarta Jadi Pionir Kampus Entrepreneurship Berbasis AI dan RBE
Bawa Entrepreneurship ke Tengah Perubahan Dunia Kerja
Perubahan teknologi dan dunia kerja menjadi salah satu konteks yang melatarbelakangi pendekatan pendidikan UC Jakarta.
Perkembangan Artificial Intelligence (AI), transformasi industri, serta perubahan pola kerja membuat perguruan tinggi perlu mempersiapkan mahasiswa dengan kemampuan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan bidang akademik.
Universitas Ciputra memandang entrepreneurship sebagai salah satu kompetensi yang relevan untuk menghadapi perubahan tersebut.
Entrepreneurship tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membangun bisnis, tetapi juga sebagai pola pikir untuk melihat peluang, mengambil inisiatif, menciptakan solusi, beradaptasi, dan menghasilkan nilai.
Rektor Universitas Ciputra, Prof. Wirawan E.D. Radianto mengatakan, pengalaman lebih dari 20 tahun menjadi fondasi penting dalam pengembangan UC Jakarta.
Menurutnya, Universitas Ciputra Jakarta dibangun dengan membawa pengalaman dan fondasi yang telah dikembangkan Universitas Ciputra selama lebih dari dua dekade.
Baca Juga: Universitas Ciputra Jakarta Dibangun, Ciputra International Tawarkan Program UC Living
“Namun, kami juga melihat bahwa setiap ekosistem memiliki karakter yang berbeda. Kehadiran di Jakarta memberikan kesempatan bagi UC untuk memperluas jejaring, kolaborasi, dan pengalaman belajar mahasiswa melalui kedekatan dengan dunia industri dan profesional,” ujarnya.
Wirawan menuturkan, perkembangan teknologi juga mendorong perubahan terhadap kompetensi yang dibutuhkan lulusan perguruan tinggi.
“Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, berpikir kritis, dan menciptakan nilai di tengah perubahan,” paparnya.
Pendekatan tersebut juga tercermin dalam pemanfaatan Generative AI (GenAI) dalam proses pembelajaran di Universitas Ciputra.
“Teknologi tersebut diarahkan bukan sekadar sebagai alat untuk memperoleh jawaban, tetapi sebagai sarana untuk mengeksplorasi gagasan, mengembangkan alternatif, meningkatkan produktivitas, serta mendukung proses penciptaan solusi secara kritis dan bertanggung jawab,” urai Wirawan.
Baca Juga: Pembangunan Dimulai, Universitas Ciputra Jakarta Cetak Entrepreneur yang Mahir AI
Pertemukan Pendidikan dan Dunia Profesional
Kehadiran UC Jakarta menjadi bagian dari langkah Universitas Ciputra untuk memperluas dampak pendidikan entrepreneurship ke ekosistem yang lebih luas.
Berada di Jakarta yang merupakan pusat bisnis, industri kreatif, teknologi, pemerintahan, dan berbagai aktivitas ekonomi nasional, UC Jakarta diarahkan untuk mempertemukan pembelajaran akademik dengan pengalaman praktis serta jejaring dunia profesional.
Kampus seluas 40.000 m2 di kawasan Ciputra International ini memperkuat peluang interaksi antara lingkungan pendidikan, bisnis, dan profesional.
Mahasiswa diharapkan dapat membangun jejaring dengan perusahaan, entrepreneur, profesional, komunitas, maupun berbagai institusi yang dapat memperkaya pengalaman belajar mereka.
Baca Juga: Cetak Laba Bersih Rp2,7 Triliun di 2025, Ciputra Development (CTRA) Tebar Dividen Rp667 Miliar
Menempati gedung twin tower setinggi 16 lantai dengan kapasitas hingga 10.000 mahasiswa, kampus UCJ dikembangkan untuk mendukung berbagai aktivitas pembelajaran, kolaborasi, praktik, dan pengembangan proyek mahasiswa.
Sejumlah fasilitas pembelajaran antara lain auditorium, perpustakaan dengan ruang diskusi dan collaborative learning, thematic learning pods, Limbo Photo Studio Lab, serta Integrated Kitchen and Restaurant Lab.
Infrastruktur teknologi juga diterapkan untuk mendukung keamanan dan aktivitas kampus, termasuk face recognition gate dan sistem CCTV di berbagai area.
Namun, bagi Universitas Ciputra, pembangunan UC Jakarta tidak semata-mata ditujukan untuk menghadirkan fasilitas pendidikan baru.
“Yang ingin kami bangun bukan hanya sebuah kampus, tetapi sebuah lingkungan belajar yang membuat mahasiswa memiliki kesempatan untuk bertemu dengan dunia nyata, melihat persoalan, menemukan peluang, dan kemudian mencoba menciptakan solusi. Itulah semangat entrepreneurship yang ingin kami bawa ke Jakarta,” ujar Christina.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








