RealEstat.id

Peminat FLPP Tembus 349 Ribu di 2025, BP Tapera Didorong Fasilitasi Hunian Vertikal

Kinerja BP Tapera dinilai sudah berjalan dengan baik di tahun 2025, namun kepercayaan publik terhadap masih menjadi tantangan.

bp tapera 2025 road map program 3 juta rumah pemerintah baru prabowo subianto-RealEstat.id
Ilustrasi program 3 juta rumah, (Sumber: BP Tapera)

RealEstat.id (Jakarta) – Badan Pengelola Tabunga Perumahan Rakyat (BP Tapera) melaporkan realisasi penyaluran dana bantuan pembiayaan Perumahan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di tahun 2025 mencapai 278.868 unit rumah, atau 78,68% dari target yang ditetapkan sebesar 350.000 unit rumah.

“Secara year on year, pencapaian di 2025 tersebut meningkat 39,23%,” ungkap Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho saat melaporkan hasil kinerja tahun 2025 kepada Komite Tapera, Kamis (26/2/2026).

Selain itu, berdasar data peminatan Masyarakat tahun 2025 yang kami himpun pada pengajuan FLPP di Aplikasi SiKasep mencapai lebih dari 349 ribu peminat.

Baca Juga: Penyaluran FLPP Awal Tahun Melonjak, BP Tapera Optimistis Capai Target 2026

“Ini menunjukkan bahwa minat rumah subsidi masih tinggi. Kami mengucapkan terima kasih kepada Komite Tapera yang telah memberikan banyak dukungan tahun 2025,” terangnya.

Dalam hal realisasi pengembalian Tabungan Peserta pada Tapera juga mengalami peningkatan sebesar 22,93% jika dibandingkan dari tahun lalu, yaitu dengan capaian sebesar 139.710 tabungan peserta di tahun 2025.

Komite Tapera memberikan apresiasi atas hasil capaian yang dipaparkan oleh BP Tapera, sekaligus menyampaikan dukungan dan harapannya terhadap program kerja BP Tapera di tahun 2026 melalui pengembangan skema dan model pembiayaan perumahan lebih lanjut.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) dan Ketua Komite Tapera, Maruarar Sirait menilai bahwa dengan kondisi keterbatasan ketersediaan lahan yang tidak sebanding dengan permintaan ketersediaan hunian masyarakat di tengah perkotaan, BP Tapera perlu untuk mendorong ketersediaan hunian vertikal di tengah perkotaan.

Baca Juga: Perkuat Sinergi Ekosistem Perumahan di 2026, BP Tapera Siapkan Strategi Percepatan

“Sesuai arahan Bapak Presiden, bahwa hunian pertama ini dapat diperuntukkan oleh seluruh profesi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), termasuk dalam hal rumah susun, maka perlu ada pembagian fokus peminatan kepada Masyarakat,” terang Maruarar Sirait.

Gagasan mengenai hunian vertikal turut disambut baik oleh Menteri Ketenagakerjaan yang juga Anggota Komite Tapera, Yassierli.

Menurutnya, rumah susun subsidi menjadi hal yang menarik bagi masyarakat yang membutuhkan hunian di tengah perkotaan,

“Perlu dilihat lebih jauh mengenai minat dari masyarakat akan kebutuhan rumah susun, dapat dilakukan melalui survei khusus bersama dengan Badan Pusat Statistik, karena kami mengacu di situ,” imbuh Yassierli.

Baca Juga: Kucurkan Dana Rp185,87 Triliun, 1,87 Juta MBR Nikmati FLPP Sejak 2010

Dukungan senada juga disampaikan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang mengharapkan BP Tapera dapat terus mengembangkan bisnisnya, salah satunya melalui gagasan rumah pertama bagi Masyarakat Berpenghasilan Tanggung (MBT) serta lamanya jangka waktu cicilan (tenor) mencapai 30 tahun.

“Tentunya kami mengapresiasi atas capaian ini. Diharapkan di tahun 2026 ini BP Tapera dapat mencapai target sepenuhnya.penyaluran,” kata Anggota Komite Tapera ini.

Jika melihat capaian tahun 2025, imbuh Purbaya, bisa jadi yang belum terealiasasi adalah Tingkat Masyarakat Berpenghasilan Tanggung.

“Oleh karena itu kami mendukung BP Tapera untuk terus mengembangkan potensi bisnisnya,” katanya, menerangkan.

Baca Juga: Penyaluran FLPP 2025 Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Tembus 278 Ribu Unit

Dari segi dukungan lembaga jasa keuangan, Anggota Komite Tapera lainnya, Friderica Widyasari Dewi, yang merupakan Anggota Dewan Komisioner OJK juga menyampaikan pihaknya telah berupaya mendorong kebijakan di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK yang pernah menjadi pembahasan hangat di pertengahan tahun 2025.

“Kami terus sampaikan kepada pihak Perbankan, bahwa SLIK bukan menjadi acuan bagi perbankan untuk menilai kemampuan calon debitur,” terang Friderica.

Di akhir pembahasan, Ketua Komite Tapera menekankan bahwa BP Tapera sudah berkinerja dengan baik di tahun 2025, namun kepercayaan publik terhadap BP Tapera masih menjadi tantangan.

“Untuk itu, pahami keinginan publik, libatkan juga bersama mitra kerja. Tawarkan program-program inovasi, tidak sekedar bussiness as usual,” pungkasnya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait