RealEstat.id (Bekasi) – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus memperkuat mesin pertumbuhan kreditnya melalui pembangunan Loan Factory, sebuah sistem pemrosesan kredit terintegrasi yang dirancang untuk mempercepat proses, meningkatkan kapasitas penyaluran kredit, sekaligus menjaga kualitas portofolio secara lebih terkontrol.
Inisiatif ini menjadi bagian dari transformasi berkelanjutan proses bisnis kredit BTN. Jika sebelumnya pengolahan kredit dilakukan secara tersebar di masing-masing cabang, kini BTN mengarah pada model yang lebih terintegrasi dan berbasis proses.
Dengan pendekatan tersebut, penyaluran kredit diharapkan dapat berlangsung lebih cepat, konsisten, dan mudah diperluas (scalable) di seluruh jaringan perseroan.
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (IDX: BBTN), Nixon LP Napitupulu mengatakan pembangunan Loan Factory merupakan bagian dari roadmap transformasi BTN yang telah dimulai sejak 2019.
Baca Juga: BTN dan BSN Dominasi KPR Subsidi, Market Share Tembus 72% per Maret 2026
Transformasi ini diperlukan untuk mengelola volume kredit yang sangat besar dengan standar proses yang seragam di seluruh Indonesia.
Menurut Nixon, BTN setiap hari menerima sekitar 1.000 aplikasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Dengan volume sebesar itu, proses kerja tidak bisa lagi bergantung pada pola kerja individu atau cabang yang berbeda-beda.
“BTN itu sehari sekitar 1.000 aplikasi KPR. Kalau mengandalkan cara kerja masing-masing orang, itu berbahaya. Dalam skala sebesar ini, proses harus terstandarisasi dan dijalankan dengan sistem yang sama,” ujarnya.
Nixon menegaskan, standardisasi proses menjadi kunci agar kualitas layanan dan produk BTN tetap konsisten di seluruh wilayah operasional.
“Kalau mau menjadi perusahaan besar, prosesnya harus sama. Syaratnya sama, cara kerjanya sama, hasilnya juga harus konsisten,” tambahnya.
Baca Juga: Pengguna balé by BTN Tembus 3,6 Juta di 2025, Jadi Motor Transformasi Digital BTN
Menurut Nixon, transformasi sistem kredit BTN sebenarnya telah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Sebelumnya, proses kredit konsumer dijalankan secara desentralisasi di cabang.
Sejak 2019, BTN mulai meningkatkan kualitas proses melalui pembentukan Regional Loan Processing Center (RLPC) yang mengonsolidasikan sebagian proses kredit di tingkat regional.
Langkah tersebut terbukti mampu meningkatkan standardisasi dan kualitas proses kredit, sekaligus menekan potensi deviasi dalam proses underwriting.
Kini, melalui Loan Factory, seluruh proses tersebut diintegrasikan lebih jauh dalam satu model terpusat berbasis proses.
Dalam sistem ini, setiap tahapan kredit—mulai dari input data, verifikasi, analisis, hingga persetujuan dan pencairan—ditangani secara terstruktur dengan pembagian fungsi yang lebih spesifik.
Pendekatan ini memungkinkan adanya spesialisasi di setiap tahapan sehingga proses menjadi lebih efisien, akurat, dan konsisten.
BTN juga telah mengimplementasikan decision engine dalam proses credit scoring untuk mempercepat analisis serta persetujuan kredit. Teknologi ini sekaligus memperkuat standardisasi keputusan kredit dan tata kelola yang lebih konsisten.
Seiring implementasi Loan Factory, BTN menargetkan waktu proses kredit dapat dipercepat dari sekitar enam hari kerja menjadi lebih singkat.
Baca Juga: Awal 2026 Moncer, Laba Bersih BTN Melonjak 578%, Sentuh Angka Rp230 Miliar
Mesin Pertumbuhan Kredit BTN
Nixon menegaskan bahwa Loan Factory memiliki peran strategis sebagai mesin pertumbuhan kredit sekaligus penjaga kualitas risiko. Sistem ini juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional melalui standardisasi proses.
“Kalau hanya tumbuh tanpa kualitas, itu tidak acceptable. Tapi kalau kualitas bagus tanpa pertumbuhan, itu juga tidak cukup,” katanya.
Direktur Operations BTN, I Nyoman Sugiri Yasa, menjelaskan bahwa Loan Factory menjadi solusi atas berbagai tantangan inefisiensi yang sebelumnya muncul akibat proses kerja yang tersebar di berbagai unit.
“Dengan Loan Factory, proses yang sebelumnya tersebar dan saling silang antar unit kerja kini menjadi lebih terstruktur dan terintegrasi. Ini membuat proses lebih efisien, mudah dimonitor, serta meningkatkan kualitas tata kelola dokumen dan underwriting,” ujar Nyoman.
Baca Juga: RUPSLB BTN Angkat Komisaris Baru, Perkuat Tata Kelola dan Transformasi Bisnis
Integrasi ini juga memperkuat end-to-end journey layanan kredit BTN, mulai dari tahap inisiasi permohonan kredit hingga pencairan dan pengelolaan dokumen.
Sementara itu, Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, menyebut transformasi Loan Factory merupakan bagian dari perjalanan panjang perbaikan proses kredit BTN yang terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi.
“Dari proses yang sebelumnya terdesentralisasi, kemudian regionalisasi, hingga kini menjadi terpusat berbasis proses, kami memastikan kualitas proses terus meningkat dengan standar yang lebih konsisten,” jelasnya.
Menurut Setiyo, model ini juga memungkinkan BTN memperoleh economic of scale, sekaligus meningkatkan kualitas proses melalui pendekatan yang lebih terstruktur dan berbasis teknologi.
Baca Juga: Kuasai Pangsa 46,7%, BTN Jadi Penyalur KPR Sejahtera FLPP Terbesar di 2025
Selain standardisasi proses, BTN juga memperkuat kapabilitas digital melalui pemanfaatan teknologi, termasuk pengembangan otomasi dan kecerdasan buatan (AI) dalam proses input, verifikasi, hingga analisis data kredit.
Transformasi Loan Factory menjadi fondasi penting bagi BTN untuk meningkatkan kapasitas penyaluran kredit secara nasional, terutama di tengah kebutuhan pembiayaan perumahan yang terus meningkat.
“Target kita jelas, pertumbuhan harus meningkat, tapi kualitas juga harus tetap terjaga. Itu yang sedang kita bangun melalui Loan Factory ini,” tutup Nixon.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








