RealEstat.id

Meracik Pertumbuhan Berkelanjutan: Strategi ‘4M’ Paradise Indonesia di Tengah Dinamika Pasar Properti

Dengan strategi ini, Paradise Indonesia membangun portofolio yang memiliki porsi recurring income yang kuat, sehingga bisnis bisa tumbuh secara berkelanjutan.

23 paskal bandung strategi inpp paradise indonesia realestat.id dok
23 Paskal Bandung (Foto: Dok. INPP)

RealEstat.id (Jakarta) PT Indonesian Paradise Property, Tbk (IDX: INPP) atau Paradise Indonesia terus memperkuat strategi pertumbuhan bisnisnya melalui pengembangan properti berbasis mixed-use development di kota-kota besar Tanah Air.

Sebelumnya, pada tahun 2025, Perseroan sukses mencatatkan kinerja yang impresif dengan mencatat kenaikan pendapatan bersih sebesar 32,9% secara tahunan (YoY) menjadi Rp1,74 triliun.

Kontribusi terbesar terhadap total pendapatan Paradise Indonesia berasal dari pendapatan berulang (recurring income) yang mencapai 70%, berasal dari segmen perhotelan dengan porsi 36% dan segmen komersial 34%. Sementara penjualan properti menyumbang 30% terhadap total pendapatan Perseroan.

Tahun ini, INPP menargetkan pertumbuhan kinerja dua digit (double digit growth) dengan memaksimalkan aset yang sudah dimiliki sekaligus memperluas ekspansi ke sejumlah kota potensial.

Baca Juga: Jaga Komitmen, Ini Strategi Paradise Indonesia (INPP) Untuk Pertahankan Laju Pertumbuhan

Presiden Direktur dan CEO PT Indonesian Paradise Property Tbk, Anthony Prabowo Susilo mengatakan, saat ini perusahaan telah hadir di berbagai kota besar di Indonesia, antara lain Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Makassar.

“Dalam waktu dekat, Paradise Indonesia juga akan memperluas jangkauannya ke Semarang dan Balikpapan, dengan fokus pengembangan pada tiga lini utama, yakni komersial, perhotelan, dan residensial,” tuturnya.

Selain itu, seluruh proyek dijalankan dengan konsep “4M”, yaitu: mixed-use development, mid scale, middle-up market, dan major cities.

“Dengan strategi ini, kami membangun portofolio yang memiliki porsi recurring income yang kuat sehingga bisnis bisa tumbuh secara berkelanjutan,” ujar Anthony.

Baca Juga: Paradise Indonesia Pacu Recurring Income di Tengah Tekanan Industri Properti

Fokus Intensifikasi Aset

Berbeda dengan sebagian pengembang yang agresif melakukan ekspansi lahan baru, Paradise Indonesia memilih strategi intensifikasi aset untuk meningkatkan nilai dan produktivitas properti yang sudah dimiliki.

Anthony menjelaskan, perusahaan terus meningkatkan belanja modal (capex) serta melakukan berbagai perbaikan dan pengembangan aset eksisting.

Salah satu contohnya adalah pengembangan fasilitas spa di hotel Sheraton Bali Kuta Resort yang diperluas dengan tambahan wing khusus. Selain itu, perusahaan juga menambah ruang pertemuan (meeting room) di pusat gaya hidup fX Sudirman.

Di 23 Paskal Shopping Center, Paradise Indonesia juga melakukan perluasan area komersial yang meningkatkan luas area sewa bersih (net leasable area/NLA) sekitar 20%. Salah satunya lantaran waiting list tenant hingga 2 – 3 tahun ke depan.

“Kami tidak hanya melakukan ekspansi dengan membeli lahan baru, tetapi juga mengoptimalkan aset yang sudah ada. Banyak aset yang masih bisa diintensifkan untuk meningkatkan nilai bisnis,” jelas Anthony.

Baca Juga: Antasari Place Siap Dorong Pendapatan Paradise Indonesia Tumbuh Double Digit Tahun Ini

anthony prabowo susilo ceo inpp paradise indonesia realestat.id dok
Anthony Prabowo Susilo, Presiden Direktur dan CEO PT Indonesian Paradise Property Tbk (Foto: Dok. INPP)

Selain itu, sambungnya, Paradise Indonesia juga tengah menyiapkan proyek baru di Balikpapan dengan konsep yang berbeda dari proyek sebelumnya.

Kawasan tersebut akan dikembangkan sebagai mixed-use development dengan zona CBD yang mengusung konsep mid hingga low density.

Di sisi lain, ekspansi ke Semarang juga menunjukkan respons pasar yang sangat positif. Awalnya proyek komersial di Kota Atlas tersebut dirancang dengan luas sekitar 37.000 meter persegi, namun kemudian ditingkatkan menjadi sekitar 48.000 meter persegi karena tingginya minat tenant.

Anthony Prabowo Susilo menilai, Semarang memiliki prospek besar sebagai pusat kegiatan ekonomi di Jawa Tengah dalam 10 tahun ke depan.

“Tak hanya itu, Semarang kami lihat sebagai commercial hub Jawa Tengah yang masih akan berkembang pesat dalam satu dekade ke depan,” katanya.

Baca Juga: Paradise Indonesia Gandeng Raksasa Properti Jepang Kembangkan Kawasan Komersial di Bali

Untuk mendukung ekspansi bisnis, PT Indonesian Paradise Property, Tbk mengandalkan kombinasi pendanaan internal dan eksternal.

Struktur pembiayaan proyek perusahaan umumnya menggunakan komposisi 30% ekuitas dan 70% pinjaman bank. Salah satu mitra perbankan utama perusahaan saat ini adalah Bank BCA.

Selain itu, perusahaan juga telah menerbitkan obligasi pada awal 2025 dan menjalin kerja sama strategis dengan perusahaan Jepang, Hankyu Hanshin Holdings.

Menurut Anthony, setiap penjualan properti yang dilakukan perusahaan memiliki efek berlipat terhadap pendapatan berulang (recurring income).

“Strategi kami, setiap penjualan satu dolar akan menghasilkan dampak sekitar dua hingga tiga dolar terhadap recurring income,” ujarnya.

Baca Juga: Hyatt Place Makassar Dibuka, Paradise Indonesia: Hotel Terbaik di Kota Anging Mammiri

apartemen antasari place inpp paradise indonesia realestat.id dok
Apartemen Antasari Place. (Foto: Dok. INPP)

Tren Apartemen Mid-Rise

Anthony juga menyoroti perubahan tren pasar properti perkotaan di Indonesia, khususnya apartemen. Ia melihat, pertumbuhan urbanisasi yang sangat cepat pada awal 2000 hingga 2010 sempat memicu maraknya pembangunan apartemen bertingkat tinggi.

Pada masa tersebut, koefisien lantai bangunan (KLB) di Jakarta meningkat drastis dari sekitar 3 – 4 menjadi 7 bahkan 10 lantai atau lebih.

“Namun saat ini kondisi pasar sudah berubah. Kami melihat bahwa penyerapan apartemen di Jakarta terus mengalami penurunan signifikan,” ungkapnya.

Dia memperkirakan pangsa pasar apartemen di Jakarta kini telah menyusut menjadi sekitar 80% dibandingkan saat booming, sehingga pengembang perlu menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar yang lebih rasional.

Jika pada tahun 2010 proyek apartemen dengan nilai Rp1 triliun bisa terserap dalam waktu satu tahun, kini penyerapannya jauh lebih rendah.

“Sekarang nilainya mungkin hanya sekitar Rp150 miliar per tahun. Artinya pembangunan tidak lagi cocok untuk gedung apartemen 30 lantai, tetapi lebih realistis untuk bangunan sekitar 10 lantai,” jelas Anthony.

Baca Juga: Paradise Indonesia (INPP) dan Club Med Sepakat Kembangkan Resor dan Kawasan Wisata Mewah

Menurutnya, tren ini menunjukkan bahwa pasar properti Indonesia saat ini bergerak menuju konsep mid-rise development yang lebih realistis dan sesuai dengan daya serap pasar.

Anthony menegaskan bahwa tingkat penyerapan pasar menjadi faktor paling penting dalam menentukan kesehatan pasar properti perkotaan.

“Penyerapan pasar seharusnya yang mendorong pembangunan apartemen. Kalau penjualannya hanya Rp150 miliar per tahun, maka proyek apartemen Rp1 triliun tentu berisiko mangkrak,” katanya.

Sejalan dengan tren mid-rise development, imbuh Anthony, penjualan proyek Antasari Place juga menunjukkan perkembangan yang baik, di mana dari total sekitar 980 unit, saat ini hanya tersisa sekitar 70 unit.

Dia mengatakan, mayoritas penyerapan apartemen terjadi pada tahun 2025 dengan dukungan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).

“Melihat tingginya permintaan, kami berencana memulai pembangunan tower kedua Antasari Place,” pungkas Anthony Prabowo Susilo.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait