Seperti Apa Desain Handle Pintu yang Cocok untuk Rumah Anda?

Handle pintu yang baik harus fungsional, ergonomis, dan cocok dengan mekanisme pintu serta konsep desain interior bangunan yang diterapkan.

Handle pintu Gaya Scandinavia (Foto: Dok. Diana Pratiwi)
Handle pintu Gaya Scandinavia (Foto: Dok. Diana Pratiwi)

RealEstat.id (Jakarta) - Pintu merupakan salah satu bagian terpenting dari sebuah bangunan. Daun pintu selain berfungsi menjadi penghubung antar-ruang juga merupakan penyekat ruang dari ruang lain. Untuk memaksimalkan fungsi pintu diperlukan handle atau gagang pintu yang sesuai dengan keperluan maupun desain ruangan.

Untuk mengupas seputar handle pintu yang makin trendy dan stylish, Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) bersama Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung menggelar webinar bertajuk "Handle Pintu - Tinjauan Arsitektural, Ergonomi, dan Material", Kamis (29/7/2021).

Seminar daring yang didukung Kenari Djaja serta Asrinesia dan Property & Bank ini menghadirkan tiga pakar dengan latar belakang arsitektur, desain interior, dan desain produk dan dipimpin oleh moderator Irma Rosalia Handayani, praktisi arsitektur dan desainer interior HDII. Sebanyak 300-an peserta yang hadir terdiri dari desainer muda, mahasiswa, dan pelaku pembangunan.

Baca Juga: Kompetisi 'Kenari Djaja Award 2021' Lahirkan Desainer Handle Berkelas Dunia

Direktur Kenari Djaja, Hendry Sjarifudin berharap acara ini dapat menginspirasi desainer produk dalam menciptakan handle pintu yang memenuhi kebutuhan kreasi para Arsitek dan Desainer Interior.

Sementara itu, Ketua Umum HDII, Rohadi, mengumumkan pihaknya dan Kenari Djaja tengah menyelenggarakan kegiatan kompetisi desain ‘handle pintu’ yang bisa dimanfaatkan mahasiswa dan professional muda untuk mengkaji dan mereformasi bentuk handel masa depan yang terbaik.

"Nama para pemenang akan dicantumkan di produk handle pintu yang akan diproduksi dan dipasarkan oleh Kenari Djaja," ujar Rohadi.

Memilih Gagang Pintu Terbaik
Sementara itu, Desainer Interior yang berlatar belakang arsitek, Diana Pratiwi, memberikan tips melalui presentasinya yang berjudul ‘How to Choose Your Best Door Handles’ untuk berbagai gaya arsitektur maupun desain interior.

Founder Pavilion 19 ini menuturkan, gagang pintu adalah salah satu inovasi penting yang pernah diciptakan manusia. Fungsi dari kunci dan gagang pintu adalah mencegah orang lain mengakses properti pribadi.

"Kini alat ini memiliki lebih banyak fungsi penting lain selain hanya sekadar keamanan. Salah satunya adalah sebagai elemen improvement detail upgrading sehingga bentuknya disesuaikan dengan konsep arsitektur dan interior secara keseluruhan," tutur Diana Pratiwi.

Baca Juga: Desainer Dituntut Kreatif Berkarya dan Ciptakan Solusi Bagi Masyarakat

Menurutnya, ada lima fase gagang pintu dalam rentang sejarah. Pertama Zaman Neolitikum yang berfungsi sebagai palang pegangan pintu. Kemudian di Zaman Romawi, gagang pintu digunakan pada bangunan Domus dan Insulae. Memasuki abad pertengahan, pintu sudah menggunakan pengait logam yang lebih kuat. 

“Mulai awal abad ke-20, arsitek dan desainer mulai serius mendesain gagang pintu sebagai bagian dari visi ruang yang komprehensif. Karena pada saat itu, desain sedang berkembang pesat. Dan di abad ke-21 hingga sekarang, desain, estetika, biaya pembuatan dan fungsi harus sangat diperhatikan," paparnya.

Lebih lanjut, Diana mengatakan, handle pintu yang cocok untuk kondisi saat ini terbagi menjadi tiga elemen. Pertama, fungsi dan kegunaan yang terkait dengan kemudahan penggunaan gagang pintu, kenyamanan, keamanan, dan bentuknya yang ergonomis. 

Baca Juga: Tumbuh Seiring Kemajuan Teknologi, Desain dan Industri Kreatif Makin Diminati Milenial

Kedua, material dan biaya yang terkait perawatan gagang pintu sehingga tidak mudah rusak, sementara harga juga mesti sesuai kualitas. Ketiga, konsep estetika yang terkait karakter desain sebagai daya tarik di pintu utama yang memperjelas konsep arsitektur bangunan.

Untuk memilih gagang pintu sesuai langgam arsitektur bangunan, Diana membaginya menjadi empat: Japandi Style, Industrial, Scandinavian, dan Modern Klasik. Japandi Style merupakan gabungan gaya Scandinavian dan Modern Japanese yang minimalis, hangat, dan menampilkan warna-warna natural.

Gaya industrial yang sedang tren di kafe-kafe memang mengadopsi interior pabrik dan area industri. Bentuknya seperti desain yang belum jadi, tetapi tetap nyaman bila kita dapat memilih elemen dan aksesori yang sesuai. Untuk handel yang cocok adalah yang menyerupai raw material dengan warna-warna gelap.

Baca Juga: Arsitektur Masjid: Filosofi, Desain, dan Kemegahan Zaman

Scandinavian Style merupakan gaya minimalis yang digabungkan dengan warna lembut untuk membuat dekorasi modern yang halus dan hangat. Gagang pintu yang cocok untuk gaya Scandinavian adalah yang memiliki material yang kuat, nyaman, dan tekstur menarik.

Sementara itu, Gaya Modern Klasik merupakan langgam yang abadi (everlasting) dan mengedepankan kenyamanan. Gaya ini terinspirasi dari gaya Eropa yang elegan dan sophisticated. Handle yang cocok untuk langgam ini umumnya berwarna gold dengan bentuk yang lebih curvey.

Gagang Pintu yang Ergonomis
Menghadapi tantangan zaman ini, Desainer Interior M. Djalu Djatmiko, dengan paparan tentang ‘Ergonomi Pada Desain Handle’ menyatakan harus tetap ada karakter yang pas dengan kebutuhan fungsi, material dan desainnya yang turut menentukan peran handle pintu pada suatu gaya arsitektur.

Dia menuturkan, ergonomi berasal dari bahasa Yunani yakni "ergon" yang berarti kerja dan "nomos" berarti aturan atau hukum. Jadi, ergonomi adalah suatu aturan atau norma dalam sistem kerja/hubungan antara manusia dengan aktivitas kerjanya.

Ergonomi, imbuh Djalu, dapat didefinisikan sebagai disiplin ilmu yang menaruh perhatian kepada interaksi antar manusia dengan metode untukmendesain sebuah perancangan yang bertujuan untuk mengoptimalisasi kesejahteraan manusia dalam kinerja sistem secara keseluruhan.

Baca Juga: Arsitektur Resort & Leisure: Perkawinan Harmonis Desain dan Alam

"Tangan memiliki ukuran tertentu yang dapat dioptimalkan kinerjanya tetapi memiliki keterbatasan pada kemampuan otot persendian secara mekanik," jelas Djalu Djatmiko.

Handle pintu yang ergonomis, paparnya, memenuhi rumus NASE (Nyaman, Aman, Sehat, dan Efisien). Nyaman: sangat mendukung posisi tangan sehingga operasional menjadi mudah dan menyenangkan. Aman: tidak terjadi gangguan pada tangan saat beraktivitas dalam waktu dan frekuensi tertentu. 

Sehat: tubuh tidak terasa pegal berlebihan setiap setelah bekerja tidak ada keluhan sakit/cedera. Efisien: seluruh aktivitas dapat disuport oleh aktivitas dengan bentuk teknis yang baik. 

"Empat poin ini sangat relatif untuk masing-masing orang. Maka pilihlah standarisasi untuk handle yang ergonomis, antara lain pada ukuran dan gerakan operasional," terang Djalu.

Menggali Konten Lokal
Pada webinar kali ini, Anwar Subkiman, Dosen Desain Interior Institut Teknologi Nasional (Itenas) mengupas tema ‘Bagaimana Menyilih Desain Handle Pintu Nusantara’. Menurutnya, gagang pintu memang berukuran kecil dan sering diabaikan, namun keberadaannya penting bagi desain sebuah ruangan. 

Dia memaparkan, secara umum, ada tiga jenis handle pintu, yakni pull handle, lever handle, dan knob handle. Namun, di saat pandemi seperti saat ini, bentuk handle pintu pun berkembang sesuai kebutuhan. Misalnya, foot pull handle atau handle pintu yang dioperasikan dengan menggunakan kaki. 

“Hal yang terpenting dalam memilih handle pintu adalah mengenali fungsi handle terhadap desain dan bentuk pintu serta konsep desain interior secara keseluruhan. Jenis pintu pun bermacam-macam mekanisme, ada pintu jenis swing, pintu ganda, pintu lipat, dan pintu geser. Masing-masing pintu memerlukan handle dan aksesori yang berbeda,” jelas Anwar Subkiman.

Baca Juga: Arsitektur Instalasi Bambu: Beragam Gaya, Ramah Lingkungan, dan Tahan Lama

Lebih lanjut, dia menerangkan prinsip desain, yang dapat dipakai untuk desain handle pintu, yakni unity (kesatuan desain), balance (keseimbangan), rythm, contrast, emphasis, scale proportion, dan detail. Detail ini merupakan prinsip baru yang banyak digunakan untuk membuat replika produk-produk masterpiece.

Selain itu, aspek estetis juga perlu diperhatikan, seperti fungsi, eksplorasi material, eksplorasi konten lokal, dan visual semantik yang menjadi produk fungsional yang masuk kriteria good design.

"Potensi desain harus dieksplorasi desainer misalnya dengan menggali konten lokal nusantara yang kaya ornamen dan unik. Misalnya dengan memberi elemen batik untuk detail handle pintu. Dengan demikian, produk yang dihasilkan memiliki added value dan nilai jual," katanya.

Redaksi@realestat.id

Berita Terkait

Microlibrary Semarang (Foto: dezeen.com)
Microlibrary Semarang (Foto: dezeen.com)
Rumah Gadang (Foto: Pixabay.com)
Rumah Gadang (Foto: Pixabay.com)