Desainer Dituntut Kreatif Berkarya dan Ciptakan Solusi Bagi Masyarakat

Tantangan seorang desainer dalam berkarya adalah mampu merespon kondisi masyarakat dan secara kreatif menciptakan produk yang sesuai kebutuhan.

Kreasi kursi untuk membuat keramik yang dibuat dari tiga kursi berbeda. (Foto: Dok. Prananda Luffiansyah)
Kreasi kursi untuk membuat keramik yang dibuat dari tiga kursi berbeda. (Foto: Dok. Prananda Luffiansyah)

RealEstat.id (Jakarta) - Menjadi kreatif dan memiliki banyak ide merupakan sebuah tuntutan bagi profesi desainer dan arsitek dalam berkarya. Tujuannya: membuat produk-produk yang baik, fungsional, dan dibutuhkan masyarakat.

Guna membahas karya dan produk desain yang dapat sukses diterima masyarakat luas, Kenari Djaja bersama Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), Jurusan Desain Interior Sekolah Tinggi Desain Interstudi (STDI), dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menghelat webinar dengan mengangkat tema "Kreatif dalam Berkarya", Rabu (28/7/2021).

"Lewat webinar ini, kami berharap bisa menginspirasi para desainer untuk berpikir kreatif dalam menghasilkan karya-karya yang berkualitas, serta memunculkan bibit unggul desainer yang kreatif," jelas Direktur PT Kenari Djaja Prima, Hendry Sjarifudin saat membuka webinar.

Baca Juga: Arsitektur Resort & Leisure: Perkawinan Harmonis Desain dan Alam

Acara yang digawangi moderator Danni Eko, Dosen Seni Rupa IKJ ini diikuti sebanyak 400 peserta dan menghadirkan tiga narasumber, yakni Satya Gerhana, Product Manager Kenari Djaja; Prananda Luffiansyah Malasan, Peneliti Ethnography Lab dan Dosen Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB); serta Afidha Fajar Adhitya, Founder Eboni Watch.

Pada waktu yang bersamaan, HDII bersama Kenari Djaja mengumumkan penyelenggaraan Kompetisi Desain Handle Pintu – Kenari Djaja Award, akan berakhir pada 15 Agustus 2021. Dengan demikian, para mahasiswa dan masyarakat umum masih berkesempatan mengikutinya. Tak hanya itu, para pemenang berhak dicantumkan namanya pada produk desain yang akan dibuat.

Di kesempatan ini, Satya Gerhana menerangkan produk-produk dengan desain terkini dan inovatif yang dipasarkan Kenari Djaja, seperti engsel, handle pintu, dan lain-lain. Dia mengatakan, semua produk ini dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan dan anggaran konsumen.

Webinar "Kreatif dalam Berkarya"

Enam Tahapan Design Thinking
Berpikir kreatif dalam membuat produk harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini dan di masa depan. Hal ini diuraikan oleh Prananda Luffiansyah Malasan, Dosen Desain Produk ITB. Menurutnya, tantangan seorang desainer adalah merespon kondisi masyarakat, termasuk dari sisi sosial dan budaya.

Tak hanya itu, bentuk sebuah desain produk—atau menurut istilah Prananda adalah artefak—tergantung pada sejarah, sosial, budaya, dan teknologi di mana produk tersebut dibuat.

“Setiap desainer harus memahami design thinking atau berpikir desain, yakni memecahkan masalah (problem solving) berbasis kebutuhan dan potensi masyarakat,” kata Prananda Luffiansyah.

Baca Juga: Tumbuh Seiring Kemajuan Teknologi, Desain dan Industri Kreatif Makin Diminati Milenial

Dia memaparkan, ada enam tahapan dalam design thinking, yakni empathize (berempati), define (mendefinisikan), ideate (membentuk ide), prototype (membuat prototipe), test (melakukan percobaan), dan implement (implementasi).

Dalam dua tahap pertama, desainer harus memahami konteks, kondisi manusia, dan masyarakat, sehingga harus banyak bermain dan melakukan eksplorasi. Pada tahap ketiga dan keempat, desainer perlu melakukan ideasi, pemecahan masalah, adaptasi teknologi, dan studi desain.

"Di tahap ke lima dan keenam, desainer melakukan pengujian solusi terhadap pengguna produk serta diseminasi produk kepada pengguna dan pengembangan selanjutnya," kata Prananda.  

Produk jam tangan kayu tahan air (Foto: Eboni-Watch.com)

First Principle Thinking
Kesuksesan merupakan hasil dari kerja keras dan ketekunan tanpa kenal menyerah. Hal ini yang dirasakan oleh Founder Eboni Watch, Afidha Fajar Adhitya. Berbekal ijazah D3 Sastra Inggris, Afidha memulai usaha jam tangan kayu dengan modal seadanya.

"Eboni Watch berawal dari rasa keingintahuan dan peluang. Saya melihat saat itu jam tangan kayu bentuknya terlalu tebal, kurang nyaman dipakai, dan harganya terlalu mahal. Di sisi lain, saya melihat market barang handmade lokal sedang bagus dan belum banyak pemain," jelasnya.

"Sebelum mendirikan Eboni Watch, saya sudah 12 kali berbisnis dan selalu gagal. Eboni Watch merupakan bisnis saya yang ketigabelas dan berhasil," tutur Afidha Fajar Adhitya.

Baca Juga: Arsitektur Masjid: Filosofi, Desain, dan Kemegahan Zaman

Berbeda dengan banyak orang dalam memulai usaha, Afidha memulai bisnis tanpa riset yang berarti: eksekusi dulu, baru riset. Baginya, kegagalan adalah fakta, sehingga pada saat gagal dia tak terlalu kecewa.

Menurutnya, seorang creativepreneur harus memiliki visi, passion, dan dapat melakukan eksekusi. Sementara, sebuah produk tak hanya benda semata, tetapi juga harus menjadi sebuah brand (merek) yang memiliki karakter dan nilai (value), serta after sales yang bagus.

Satu hal yang diterapkan Afidha dalam membedah bisnis adalah first principle thinking, yakni belajar lebih banyak dengan memahami prinsip-prinsip dasar dari suatu subjek. Hal ini yang dipakai untuk mengembangkan Eboni Watch.

Redaksi@realestat.id

Berita Terkait

Microlibrary Semarang (Foto: dezeen.com)
Microlibrary Semarang (Foto: dezeen.com)
Rumah Gadang (Foto: Pixabay.com)
Rumah Gadang (Foto: Pixabay.com)