RealEstat.id (Jakarta) – Pasar rumah tapak di wilayah Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (Jabodetabek) menunjukkan ketahanan yang cukup kuat di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Hingga akhir Kuartal II 2026, sektor rumah tapak di Jabodetabek masih mencatat pertumbuhan pasokan dan permintaan yang seimbang, didukung oleh tingginya minat masyarakat terhadap hunian di kawasan suburban serta strategi pengembang yang menjaga stabilitas harga.
Berdasarkan data Leads Property, total pasokan rumah tapak di Jabodetabek mencapai 201.646 unit pada akhir Juni 2026.
Jumlah tersebut bertambah 2.701 unit dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/QoQ), menandakan aktivitas pengembangan proyek perumahan masih terus berjalan.
Di sisi permintaan, pasar rumah tapak di Jabodetabek mencatat penjualan sebanyak 2.585 unit sepanjang kuartal kedua tahun 2026.
Baca Juga: Rupiah dan IHSG Tertekan, Ini Sejumlah Tantangan dan Peluang Baru Sektor Properti Tanah Air
Kinerja tersebut turut mendorong tingkat penjualan (sales rate) naik menjadi 93,7%, mencerminkan daya serap pasar yang tetap tinggi di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.
Sementara itu, data Leads Property menunjukkan, harga jual rata-rata rumah tapak di Jabodetabek berada di kisaran Rp2,7 miliar per unit.
Angka ini relatif stabil dibandingkan periode sebelumnya, menunjukkan bahwa pengembang masih berupaya menjaga keseimbangan antara kenaikan biaya pembangunan dan kemampuan beli konsumen.
Head of Research & Consultancy Leads Property, Martin Samuel Hutapea, mengatakan pasar rumah tapak masih menunjukkan fundamental yang kuat dan berpotensi terus bertumbuh hingga akhir tahun.
Menurutnya, pertumbuhan pasokan dan permintaan yang berjalan beriringan menjadi salah satu faktor utama yang menjaga kesehatan pasar perumahan di Jabodetabek.
Baca Juga: BI Rate Naik Jadi 5,50%, Bagaimana Dampaknya terhadap Properti? Ini Analisis Colliers Indonesia
“Pasar rumah tapak masih memiliki ruang pertumbuhan yang cukup besar, terutama di wilayah suburban Jakarta yang terus menjadi tujuan utama pengembangan perumahan baru,” ujar Martin.
Leads Property memprediksi, hingga akhir 2026, pasokan kumulatif rumah tapak di Jabodetabek akan mencapai 209.748 unit. Jumlah tersebut bertambah sekitar 13.211 unit secara tahunan (year-on-year/YoY).
Pertumbuhan pasokan diperkirakan akan didominasi oleh kawasan penyangga Jakarta, seperti Tangerang, Bogor, Bekasi, dan Depok.
Kawasan-kawasan tersebut dinilai masih menawarkan harga lahan yang lebih kompetitif, ketersediaan lahan yang luas, serta didukung pembangunan infrastruktur yang semakin baik.
Fenomena urban sprawl dan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan hunian yang lebih nyaman juga menjadi pendorong ekspansi proyek perumahan ke wilayah suburban.

Baca Juga: Tren Hunian Islami yang Semakin Diminati Masyarakat Indonesia, Apa Keunggulannya?
Leads Property memperkirakan permintaan tahunan rumah tapak di Jabodetabek akan mencapai 12.000 hingga 13.000 unit pada akhir tahun.
Menariknya, sebagian besar permintaan masih berasal dari segmen menengah dengan rentang harga Rp500 juta hingga Rp2 miliar per unit.
Menurut Martin Samuel Hutapea, kawasan Tangerang menjadi kontributor utama terhadap permintaan tersebut.
“Aksesibilitas yang semakin baik, perkembangan kawasan terpadu, serta kehadiran berbagai fasilitas pendukung menjadikan wilayah ini sebagai salah satu pasar perumahan paling aktif di Jabodetabek,” ungkapnya.
Selain itu, perubahan preferensi masyarakat pascapandemi juga masih mendorong permintaan terhadap rumah tapak.
Konsumen kini cenderung mencari hunian dengan ruang yang lebih luas, lingkungan yang nyaman, serta memiliki konektivitas yang baik dengan pusat aktivitas.
Baca Juga: Pasar Properti Nasional Tetap Stabil di Awal 2026, Rumah Terjangkau Jadi Penyelamat
Hingga akhir 2026, tingkat penjualan rumah tapak diproyeksikan naik tipis menjadi 93,8%. Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam kondisi yang sehat.
“Stabilitas tingkat penjualan ini terjadi karena pertumbuhan pasokan yang relatif seimbang dengan permintaan,” tutur Martin.
Di sisi lain, pengembang juga cenderung lebih selektif dalam meluncurkan proyek baru dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar.
Dengan strategi tersebut, risiko kelebihan pasokan (oversupply) dapat diminimalkan, sekaligus menjaga tingkat penyerapan produk tetap tinggi.
Di tengah kenaikan biaya konstruksi dan tantangan ekonomi global, Leads Property memperkirakan, harga jual rumah tapak di Jabodetabek diperkirakan tetap berada di kisaran Rp2,7 miliar per unit hingga akhir tahun.
Baca Juga: Hunian MBT Jadi Solusi Akses Rumah Bagi Kelas Menengah di Kota Besar
“Stabilnya harga menjadi strategi pengembang untuk menjaga daya beli konsumen, terutama di segmen menengah yang masih menjadi tulang punggung pasar perumahan,” ujar Martin.
Sementara itu, alih-alih melakukan kenaikan harga secara agresif, sebagian pengembang memilih menawarkan berbagai insentif, skema pembayaran yang lebih fleksibel, hingga promo pembiayaan untuk mendorong penjualan.
Melihat tren hingga pertengahan tahun, pasar rumah tapak Jabodetabek diperkirakan masih akan bergerak positif sepanjang 2026.
Penambahan pasokan di kawasan suburban, permintaan yang tetap kuat dari segmen menengah, serta stabilitas harga menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan sektor ini.
“Dengan tingkat penjualan yang diproyeksikan bertahan di atas 93% dan permintaan yang berpotensi mencapai 13.000 unit per tahun, sektor rumah tapak diperkirakan masih menjadi salah satu segmen properti paling menarik di Indonesia, khususnya bagi pengembang maupun konsumen yang mencari hunian jangka panjang di kawasan penyangga ibu kota,” pungkas Martin.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








