RealEstat.id

Pasar Properti Jabodetabek Hadapi Tantangan Baru di 2026: Riset Savills Indonesia

Secara keseluruhan, pasar properti Jabodetabek di sepanjang Kuartal I 2026 masih berada dalam fase penyesuaian yang berkepanjangan.

pasar properti jakarta jabodetabek 2026 2027 realestat.id dok
Foto: Dok. Realestat.id

RealEstat.id (Jakarta) – Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 mencapai 5,11%, menandai kinerja terkuat dalam tiga tahun terakhir serta menunjukkan ketahanan permintaan domestik di tengah melemahnya kondisi perdagangan global.

Bank Indonesia memperkirakan aktivitas ekonomi tetap solid pada tahun 2026, dengan proyeksi pertumbuhan berada pada kisaran 4,9%–5,7%, yang masih didukung oleh permintaan domestik meskipun terjadi perlambatan ekonomi global.

Di kawasan ASEAN, Indonesia dinilai menawarkan pertumbuhan yang lebih stabil dan tidak terlalu bergejolak dibandingkan Vietnam, serta memiliki fundamental ekonomi yang lebih tangguh dibandingkan Thailand.

Namun demikian, prospek jangka pendek semakin dipengaruhi oleh berbagai risiko eksternal, terutama kenaikan harga minyak serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang berpotensi memperlebar defisit fiskal akibat meningkatnya beban subsidi energi.

Baca Juga: Pasar Properti Indonesia Masih Atraktif di 2026, Ritel dan Perkantoran Tunjukkan Pemulihan

Sejalan dengan hal tersebut, proyeksi pertumbuhan ekonomi mulai mengalami penyesuaian. OECD dan Bank Dunia merevisi perkiraan pertumbuhan Indonesia untuk tahun 2026 masing-masing menjadi 4,8% dan 4,7%.

Meski demikian, arah pertumbuhan Indonesia pada dasarnya masih terjaga, walaupun stabilitasnya kini sangat bergantung pada kemampuan mengelola risiko fiskal serta volatilitas eksternal yang persisten.

Inflasi Indonesia meningkat menjadi 3,48% secara tahunan (year-on-year) pada Maret 2026, mendekati batas atas target Bank Indonesia yang berada pada kisaran 1,50%–3,50%.

Kenaikan ini terutama didorong oleh meningkatnya harga pangan dan harga yang diatur pemerintah. Inflasi juga menghadapi risiko kenaikan lebih lanjut akibat peningkatan harga minyak.

Baca Juga: Pasar Properti Nasional Tetap Stabil di Awal 2026, Rumah Terjangkau Jadi Penyelamat

Sebagai negara pengimpor energi bersih (net energy importer), Indonesia rentan terhadap volatilitas harga energi yang dapat mendorong kenaikan biaya transportasi dan logistik, sehingga meningkatkan harga barang serta menggerus daya beli masyarakat.

Sebagai respons, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% pada Maret 2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah arus keluar modal. Ruang untuk menurunkan suku bunga menjadi terbatas seiring meningkatnya tekanan inflasi.

Sikap kehati-hatian ini juga diperkuat oleh prospek negatif yang diberikan oleh Moody’s dan Fitch Ratings, yang meningkatkan risiko penurunan peringkat kredit.

Kondisi tersebut berpotensi memicu arus keluar modal lanjutan, menambah tekanan pada rupiah, dan bahkan mendorong kenaikan suku bunga meskipun berisiko menahan pertumbuhan domestik.

Baca Juga: Kawasan Industri Bergeser ke Timur, Purwakarta dan Subang Jadi Magnet Baru Investasi di 2026

Keraguan pasar juga tercermin pada sektor manufaktur. Indeks PMI manufaktur turun tajam menjadi 50,1 pada Maret, dari 53,8 pada Februari.

Angka yang mendekati stagnasi ini menunjukkan bahwa output pabrik dan pesanan baru mulai melambat akibat gangguan rantai pasok serta meningkatnya biaya input produksi.

Kondisi Pasar Properti Jabodetabek di 2026

Data Savills Indonesia menunjukkan, secara umum pasar properti Jabodetabek di sepanjang Kuartal I 2026 masih berada dalam fase penyesuaian yang berkepanjangan.

“Meskipun fundamental domestik relatif stabil, meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong investor untuk mengambil sikap lebih berhati-hati dengan pendekatan wait-and-see,” ungkap Tommy Henria Bastamy, Senior Director Research and Consultancy Savills Indonesia.

Dari sisi tingkat hunian, sektor ritel mencatat kinerja terbaik dengan okupansi 86,6%, sementara pasar perkantoran di kawasan CBD Jakarta menunjukkan kenaikan tingkat hunian menjadi 74,6%, meskipun terjadi penurunan penyerapan ruang sebesar 71%.

Baca Juga: Konflik Iran Vs AS-Israel Memanas, Pasar Properti Indonesia Terancam Lesu? Begini Analisa Colliers

Riset Savills memperlihatkan, tarif sewa gudang mengalami sedikit penurunan akibat tambahan pasokan baru, sedangkan sektor hotel mengalami perlambatan, sebagian dipengaruhi faktor musiman serta berkurangnya aktivitas yang terkait dengan pemerintah setelah adanya pemangkasan belanja.

Tarif sewa secara umum cenderung stagnan hingga sedikit menurun. Tarif sewa kantor turun 0,6% karena pemilik gedung lebih memprioritaskan mempertahankan penyewa yang ada.

Harga apartemen relatif stabil melalui berbagai insentif yang lebih fleksibel. Sebaliknya, harga lahan industri mencatat kenaikan moderat di kawasan dengan permintaan tinggi.

Sektor ritel dan gudang tetap stabil, dengan fokus utama pada efisiensi biaya dibandingkan pertumbuhan pendapatan yang agresif.

Baca Juga: Di Tengah Gejolak Global, Pasar Properti Indonesia Diproyeksikan Rebound di 2026

Savills Indonesia memperkirakan, pasar properti Jabodetabek bakal menghadapi tantangan yang lebih besar pada tahun 2026 dibandingkan 2025.

“Hal ini disebabkan meningkatnya ketidakpastian global dan domestik, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menjadi salah satu risiko utama,” ungkap Tommy.

Namun demikian, imbuhnya, situasi ini juga membuka peluang selektif bagi investor yang memiliki permodalan kuat untuk melakukan akuisisi atau reposisi aset.

Sementara itu, di berbagai sektor, penyewa dan investor cenderung beralih pada aset berkualitas tinggi yang berlokasi strategis, menawarkan fleksibilitas skema sewa serta terintegrasi dalam ekosistem kawasan yang lengkap.

“Kesenjangan antara aset primer dan sekunder diperkirakan akan semakin melebar, sehingga kualitas aset dan lokasi akan menjadi faktor penentu utama di pasar,” pungkasnya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait