RealEstat.id (Jakarta) – PT Indonesian Paradise Property Tbk (IDX: INPP) terus melanjutkan strategi ekspansi bisnis di sektor properti dan perhotelan meskipun kondisi ekonomi nasional masih menghadapi berbagai tantangan.
Pada Kuartal I 2026, perusahaan yang dikenal dengan nama Paradise Indonesia ini mencatatkan pendapatan sebesar Rp157 miliar dari segmen komersial. Sementara itu, lini bisnis hospitality menyumbang Rp136 miliar dan penjualan properti Rp34 miliar.
Di sisi lain, Paradise Indonesia juga membukukan EBITDA sebesar Rp101 miliar, atau meningkat sekitar 1% dibandingkan periode sebelumnya.
Direktur Keuangan PT Indonesian Paradise Property Tbk, Surina menjelaskan bahwa pendapatan berulang (recurring income) tetap menjadi fondasi utama pertumbuhan perusahaan.
Baca Juga: Paradise Indonesia (INPP) Catat Laba Rp44 Miliar, Ekspansi Perkuat Recurring Income
“Oleh karena itu, INPP terus memperkuat performa unit bisnis yang telah terbukti stabil, termasuk melalui revitalisasi aset yang sudah ada,” tuturnya kepada awak media, beberapa waktu lalu.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah pembaruan tampilan serta peningkatan kapasitas di pusat perbelanjaan FX Sudirman. Upaya ini dilakukan sebagai persiapan menghadapi potensi pemulihan ekonomi di masa mendatang.
Di sisi pengembangan proyek baru, terang Surina, tahun 2026 ini Paradise Indonesia menaruh perhatian besar pada proyek 23 Semarang yang dirancang sebagai pusat gaya hidup terbesar dan ikonik di Kota Semarang.
Menariknya, tingkat keterisian (okupansi) tenant di mal tersebut sudah mencapai sekitar 80% meskipun belum resmi beroperasi.
“Banyak tenant sudah melakukan pemesanan sejak dua hingga tiga tahun lalu. Kami menargetkan tingkat okupansi bisa mencapai 90% hingga 95% pada akhir tahun ini,” kata Surina.
Paradise Indonesia menilai konsep pusat perbelanjaan berbasis pengalaman (leisure experience) masih memiliki prospek cerah, meskipun daya beli masyarakat sedang menghadapi tekanan.
Perusahaan berupaya menghadirkan mal yang tidak hanya menjadi tempat transaksi, tetapi juga destinasi rekreasi dan gaya hidup.
“Kami tidak membangun mal besar yang sekadar berisi toko. Konsep yang kami hadirkan adalah leisure mall yang menjadi tujuan kunjungan. Orang datang untuk menikmati pengalaman, dan pada akhirnya mereka juga berbelanja,” jelas Surina.
Untuk meningkatkan jumlah pengunjung, perusahaan juga memperbesar porsi tenant di sektor makanan dan minuman (F&B). Strategi ini dinilai efektif dalam menjaga stabilitas traffic pengunjung.
Selain itu, INPP juga mengandalkan Cornerstone, anak usaha yang bertugas mengelola konsep dan aktivitas mal agar tetap menarik bagi pengunjung.
Baca Juga: Jaga Komitmen, Ini Strategi Paradise Indonesia (INPP) Untuk Pertahankan Laju Pertumbuhan
“Bukan hanya membangun mal lalu menyewakan ruang. Kami juga fokus menciptakan aktivitas yang mampu menarik pengunjung secara konsisten. Itu sebabnya mal kami sering menjadi salah satu dengan traffic tertinggi di kota masing-masing,” tambah Surina.
Hingga tahun 2026, Paradise Indonesia telah mengelola total 25 unit bisnis yang mencakup pusat perbelanjaan, hotel, serta proyek penjualan properti.
Tambahan portofolio terbaru berasal dari sejumlah proyek strategis, antara lain Citadines Antasari, 23 Semarang, serta 88 Plaza Balikpapan yang sekaligus menjadi proyek hunian tapak pertama yang dikembangkan perusahaan.
Sementara itu, Presiden Direktur sekaligus CEO Paradise Indonesia, Anthony Prabowo Susilo, menjelaskan bahwa proyek 88 Plaza Balikpapan memiliki konsep yang unik dengan filosofi angka delapan.
“Nama 88 dipilih karena proyek ini berada di kota kedelapan tempat kami beroperasi, luas lahannya sekitar 8 hektare, dan desain site plan-nya juga menyerupai angka delapan,” ujarnya.
Baca Juga: Paradise Indonesia Pacu Recurring Income di Tengah Tekanan Industri Properti
Anthony menyebutkan bahwa proyek tersebut dikembangkan secara bertahap dengan nilai investasi sekitar Rp100 miliar hingga Rp150 miliar untuk setiap fase pembangunan.
“Skema pengembangan bertahap ini dipilih agar lebih selaras dengan penyerapan pasar,” jelasnya, menambahkan.
Menurut Anthony, respons pasar terhadap proyek tersebut cukup positif dan pendekatan pengembangan seperti ini berpotensi menjadi model yang digunakan perusahaan pada proyek-proyek berikutnya.
Dia juga menekankan bahwa keberhasilan sebuah pusat perbelanjaan sangat ditentukan oleh keberlangsungan bisnis para tenant serta kemampuan pengelola menciptakan ekosistem yang sehat dalam jangka panjang.
“Mal akan berkembang jika tenant-nya juga berkembang. Para tenant selalu memikirkan keberlanjutan bisnis mereka dalam jangka panjang,” jelas Anthony.
Baca Juga: Antasari Place Siap Dorong Pendapatan Paradise Indonesia Tumbuh Double Digit Tahun Ini
Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa proyek 23 Semarang awalnya dirancang memiliki net saleable area sekitar 30 ribu meter persegi.
Namun setelah melakukan evaluasi pasar dan melihat tingginya minat tenant, luas area tersebut akhirnya diperbesar menjadi sekitar 48 ribu meter persegi.
Di sektor hospitality, kinerja bisnis perhotelan Paradise Indonesia juga masih menunjukkan tren positif, khususnya untuk hotel di segmen premium seperti jaringan Hyatt. Menurut Anthony, hotel di kelas menengah ke bawah justru lebih terdampak oleh kondisi ekonomi saat ini.
“Hotel yang berada dalam jaringan Hyatt justru mencatatkan performa terbaik. Dari total 13 hotel yang kami miliki, hanya dua yang berada di kategori bintang tiga,” ujarnya.
Dengan strategi pengembangan destinasi gaya hidup, penguatan pendapatan berulang, serta pendekatan pembangunan proyek yang lebih adaptif terhadap pasar, jelas Anthony, Paradise Indonesia optimistis mampu menjaga momentum pertumbuhan bisnisnya di tengah dinamika sektor properti dan ritel nasional.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








