RealEstat.id (Jakarta) – Pasar properti Indonesia pada awal 2026 masih menunjukkan daya tarik yang kuat di mata investor, baik domestik maupun internasional.
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang stabil, basis demografi yang besar, serta aliran investasi yang tetap positif menjadi faktor utama yang menopang optimisme terhadap sektor ini.
Senior Director, Capital Markets JLL Indonesia, Herully Suherman, menilai bahwa prospek investasi properti di Indonesia tetap menjanjikan meskipun sejumlah tantangan masih membayangi.
Menurutnya, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang konsisten berada di atas 5% serta arus investasi yang terus mengalir menjadi fondasi penting bagi pasar properti nasional.
“Namun, transparansi pasar masih menjadi salah satu isu yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan daya tarik investasi properti jangka panjang,” tutur Herully Suherman.
Baca Juga: Pasar Properti Nasional Tetap Stabil di Awal 2026, Rumah Terjangkau Jadi Penyelamat
Di sisi lain, dinamika global seperti lonjakan harga minyak berpotensi mendorong inflasi dan meningkatkan biaya operasional di dalam negeri.
Hal ini menjadi perhatian karena struktur ekonomi Indonesia cukup sensitif terhadap kebijakan subsidi bahan bakar.
Selain itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga meningkatkan volatilitas serta risiko kurs bagi investor asing, sehingga mendorong pendekatan investasi yang lebih selektif.
Meski demikian, minat investasi tetap terjaga. Mayoritas investasi properti masih berasal dari investor domestik, sementara investor asing yang aktif datang dari Amerika Utara, Hong Kong, Jepang, hingga Timur Tengah.
“Secara umum, investor lebih banyak membidik aset yang sudah menghasilkan pendapatan (income generating assets), terutama pada sektor perkantoran, hotel, dan apartemen servis,” jelasnya.
Baca Juga: Hunian MBT Jadi Solusi Akses Rumah Bagi Kelas Menengah di Kota Besar
Permintaan Kantor di CBD Jakarta Menguat
Sementara itu, Head of Research JLL Indonesia, James Taylor, mengungkapkan bahwa pasar perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) Jakarta mempertahankan momentum pemulihan pada Kuartal I 2026.
Tingkat okupansi tercatat stabil di angka sekitar 72%. Permintaan ruang kantor pada periode ini bahkan meningkat signifikan, lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan penyewa terhadap pasar perkantoran Jakarta masih terjaga,” ungkap James Taylor.
Tidak adanya tambahan pasokan baru di kawasan CBD juga membantu memperkuat tingkat permintaan terhadap gedung-gedung yang sudah ada.
Aktivitas penyewa saat ini masih didominasi strategi relokasi ke gedung dengan kualitas yang lebih baik, sejalan dengan tren peningkatan standar ruang kerja.
Sementara itu, pasar perkantoran di kawasan non-CBD juga mencatat penyerapan positif, terutama didorong oleh penyelesaian proyek baru di koridor TB Simatupang.
“Meski demikian, beberapa gedung eksisting mengalami tekanan tingkat hunian akibat penyewa yang melakukan efisiensi ruang atau berpindah ke kawasan CBD,” jelas James.
Baca Juga: Bukan Okupansi, Ini Dampak Nyata WFH ASN ke Pasar Perkantoran Indonesia di 2026
Tren Kantor Furnished Semakin Diminati
Head of Tenant Representation JLL Indonesia, Panji Aziz, menambahkan bahwa permintaan ruang kantor Grade A di kawasan CBD Jakarta masih cukup aktif sepanjang kuartal pertama 2026.
Dia menuturkan, sektor jasa keuangan dan teknologi menjadi kontributor utama terhadap permintaan ruang kantor di Ibu Kota.
Salah satu tren yang berkembang saat ini adalah meningkatnya minat terhadap ruang kantor yang sudah dilengkapi furnitur (fully furnished office).
Untuk merespons kebutuhan tersebut, sejumlah pemilik gedung mulai menawarkan ruang kantor yang sudah siap pakai dengan mempertahankan furnitur dari penyewa sebelumnya, menyediakan furnitur baru, atau memberikan kontribusi biaya fitting out kepada penyewa.
Dari sisi harga, sewa kantor Grade A di kawasan CBD Jakarta mengalami kenaikan sekitar 0,95% dibandingkan kuartal sebelumnya, melanjutkan tren kenaikan yang telah dimulai sejak 2025.
“Peningkatan ini mencerminkan membaiknya posisi tawar pemilik gedung seiring terbatasnya pasokan baru dan meningkatnya permintaan,” jelas Panji.
Baca Juga: Pasar Ritel Jabodetabek Menguat, Brand Internasional dan Lokal Kian Agresif
Pusat Perbelanjaan Jakarta Catat Permintaan Positif
Di sektor ritel, permintaan ruang sewa pusat perbelanjaan di Jakarta juga mencatat kinerja positif pada Kuartal I 2026 dengan penyerapan sekitar 10.000 m2.
James Taylor menjelaskan, permintaan tersebut terutama didorong oleh ekspansi tenant dari sektor makanan dan minuman (F&B), khususnya merek minuman teh asal Tiongkok yang cukup agresif membuka gerai baru di berbagai pusat perbelanjaan.
Selain itu, imbuhnya, beberapa merek parfum mewah internasional juga melakukan debut toko pertamanya di mal premium Jakarta.
Menurut James, kombinasi faktor tersebut turut mendorong tingkat okupansi pusat perbelanjaan di Jakarta naik hingga 86%.
“Pada periode yang sama, pasar juga kedatangan satu pusat perbelanjaan baru berkonsep semi-outdoor di kawasan Jakarta Selatan dengan luas sekitar 9.000 meter persegi,” terangnya.
Baca Juga: Konflik Iran Vs AS-Israel Memanas, Pasar Properti Indonesia Terancam Lesu? Begini Analisa Colliers
Lebih lanjut James Taylor menerangkan, untuk sektor hunian vertikal, pasar apartemen di Jakarta memasuki awal tahun 2026 dengan sentimen yang masih cenderung berhati-hati.
“Meskipun demikian, permintaan menunjukkan sedikit peningkatan dibandingkan kuartal sebelumnya,” katanya, menambahkan.
Data JLL Indonesia menunjukkan, penjualan pada Kuartal I 2026 sebagian besar ditopang oleh unit-unit yang telah selesai dibangun dan siap huni.
Proyek-proyek tersebut juga mendapatkan dorongan dari program insentif PPN ditanggung pemerintah (PPN DTP), yang lebih banyak menarik pembeli end-user dibanding investor.
“Di sisi pasokan, aktivitas pengembangan masih terbatas. Hanya terdapat satu proyek baru yang diluncurkan pada kuartal ini sehingga total pasokan di pasar tetap terkendali. Kondisi ini membuat tingkat penjualan berada di kisaran 82%,” ujarnya.
Baca Juga: Di Tengah Gejolak Global, Pasar Properti Indonesia Diproyeksikan Rebound di 2026
Masih terkait pasar apartemen, Senior Director Strategic Consulting JLL Indonesia, Milda Abidin, mencatat bahwa aktivitas penjualan di wilayah Bodetabek mengalami sedikit perlambatan pada Kuartal I 2026.
“Kendati demikian, setelah tidak ada peluncuran proyek baru pada kuartal sebelumnya, pasar akhirnya mencatat satu proyek baru di Depok,” katanya.
Proyek ini mengusung konsep apartemen bertingkat rendah (low-rise condominium) yang diposisikan sebagai alternatif hunian antara rumah tapak dan apartemen bertingkat tinggi.
Selain itu, terdapat satu proyek di Tangerang yang telah mencapai tahap penyelesaian dan memasuki proses serah terima unit kepada pembeli.
Sementara itu, satu proyek di Bogor kembali melanjutkan pembangunan serta aktivitas penjualan setelah sebelumnya sempat tertunda.
“Perpanjangan insentif PPN untuk pembelian properti hingga tahun 2027 diharapkan dapat membantu mendorong kembali aktivitas penjualan hunian di kawasan ini,” jelas Milda Abidin.
Baca Juga: Data SiteMinder: Permintaan Wisatawan Domestik Dongkrak Okupansi Hotel Indonesia di 2025
Sektor Hotel Stabil, Transaksi Investasi Masih Terbatas
Mengupas sektor perhotelan, Vice President Investment Sales, Hotels & Hospitality Group JLL Asia Pasifik, Irina Chadsey, menyampaikan bahwa peningkatan perjalanan domestik dan internasional pada awal 2026 membantu menjaga stabilitas kinerja hotel di Indonesia.
“Kondisi tersebut mendorong peningkatan Revenue per Available Room (RevPAR) secara moderat namun tetap positif,” ujarnya.
Namun, imbuh Irina Chadsey, dari sisi investasi, belum terdapat transaksi hotel yang tercatat di Indonesia selama tiga bulan pertama tahun ini.
“Kendati demikian, Jakarta mencatat perkembangan penting dengan penandatanganan transaksi pembangunan Waldorf Astoria Jakarta, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2027,” ungkapnya.
Baca Juga: Pasar Gudang Modern Greater Jakarta Makin Ketat, Tingkat Hunian Tembus 95,8% di Awal 2026
Pergudangan Modern Jadi Segmen Terkuat
Sementara itu, sektor logistik dan pergudangan modern menjadi salah satu segmen dengan performa paling solid di pasar properti Indonesia saat ini.
Country Head dan Head of Logistics & Industrial JLL Indonesia, Farazia Basarah, menjelaskan bahwa tingkat hunian gudang modern di wilayah Jabodetabek tetap tinggi, mencapai sekitar 96% pada Kuartal I 2026.
Pertumbuhan ini didorong oleh kuatnya investasi manufaktur dari Tiongkok yang memicu permintaan terhadap fasilitas pergudangan modern, pabrik siap pakai, hingga lahan industri.
Dari sisi harga, pertumbuhan sewa masih berlangsung secara moderat. Proyek-proyek premium yang menawarkan spesifikasi bangunan unggulan, lokasi strategis, serta fleksibilitas penggunaan mampu menetapkan harga sewa lebih tinggi.
Baca Juga: Kawasan Industri Bergeser ke Timur, Purwakarta dan Subang Jadi Magnet Baru Investasi di 2026
“Hal ini kemudian menciptakan efek rambatan terhadap kenaikan harga sewa di kawasan sekitarnya,” jelas Farazia Basarah.
Permintaan ruang gudang masih didominasi oleh perusahaan logistik dan jasa pengiriman, diikuti oleh ekspansi perusahaan yang sudah beroperasi serta masuknya pemain baru ke pasar.
Selain Jabodetabek, aktivitas permintaan juga mulai terlihat di sejumlah kota lain seperti Bandung, Subang, dan Surabaya.
“Secara keseluruhan, sektor logistik dan pergudangan modern dinilai menjadi segmen dengan kinerja paling kuat di pasar properti Indonesia pada awal 2026, didukung oleh pertumbuhan industri manufaktur, e-commerce, dan distribusi,” pungkasnya.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








