RealEstat.id (Bekasi) – PT Cemindo Gemilang Tbk (Semen Merah Putih) menguji coba prototipe MPTree, teknologi berbasis mikroalga untuk penyerap karbon dioksida (CO₂).
Uji coba ini dilakukan di pabrik Beton Merah Putih, Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat, sebagai bagian dari strategi perusahaan dalam menghadirkan solusi keberlanjutan yang relevan dengan keterbatasan ruang di kawasan urban dan industri.
Keterbatasan ruang terbuka hijau di kota besar menjadi tantangan serius dalam upaya menekan emisi karbon.
Pendekatan konvensional seperti penanaman pohon sering kali tidak optimal diterapkan di kawasan industri atau perkotaan yang padat.
MPTree hadir dengan memanfaatkan sistem fotobioreaktor yang memungkinkan mikroalga menyerap karbon dioksida melalui proses fotosintesis dalam ruang tertutup.
Baca Juga: Mikroalga: Si Kecil yang Bisa jadi Solusi Ramah Lingkungan Kota Berkelanjutan
Dengan konsep ini, penyerapan karbon tidak lagi bergantung pada ketersediaan lahan luas.
“MPTree adalah bagian dari upaya kami untuk mengembangkan solusi rendah karbon berbasis sains yang relevan dengan kebutuhan ruang perkotaan saat ini,” ujar Head of Marketing Semen Merah Putih, Nyiayu Chairunnikma.
Setara dengan Delapan Pohon
Teknologi yang dikembangkan bersama AlgaePark Indonesia ini bahkan kerap dijuluki sebagai “pohon cair”.
Oleh karena, kemampuannya menyerap karbon dan polutan udara secara efisien dalam ruang yang relatif terbatas.
Hasil awal pengujian menunjukkan bahwa kapasitas penyerapan karbon MPTree setara dengan sekitar delapan pohon, dengan target pengembangan hingga setara 16 pohon.
Nyiayu menerangkan, mikroalga penyerap emisi karbon MPTree dikembangkan dengan pendekatan rekayasa yang mengutamakan stabilitas, keamanan, dan efisiensi ruang.
Unit prototipe ini memiliki dimensi ringkas, yakni lebar 1,30 meter, panjang 1,90 meter, dan tinggi 2,40 meter.
Baca Juga: Inovasi MPTree Semen Merah Putih Terbukti 16 Kali Lebih Efektif dari Pohon untuk Dekarbonisasi
Dengan ukurannya itu, teknologi penyerapan CO2 mikroalga tersebut dapat ditempatkan tanpa mengganggu aktivitas operasional.
Struktur utamanya menggunakan rangka baja modular yang kuat namun fleksibel untuk instalasi dan perawatan.
Sistem fotobioreaktor dilindungi kaca tempered laminasi berlapis yang dirancang tahan benturan dan aman digunakan di ruang publik maupun industri.
Dengan volume air efektif sekitar 300 liter, sistem ini mampu menjaga stabilitas pertumbuhan mikroalga secara optimal.
Pendekatan Berbasis Data untuk Transisi ESG
Langkah uji coba ini mencerminkan pendekatan berbasis data dalam implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
MPTree tidak hanya berfungsi sebagai alat penyerapan karbon, tetapi juga sebagai perangkat pengumpulan data lingkungan secara real time.
Teknologi ini dilengkapi sistem Internet of Things (IoT) dengan sensor yang memantau berbagai parameter, seperti kadar CO₂ dan O₂, suhu, serta pH mikroalga.
Baca Juga: Inovasi Material Bangunan Ramah Lingkungan Bantu Kurangi Emisi Karbon
Data yang dihasilkan menjadi dasar evaluasi kinerja dan pengembangan teknologi ke depan.
Selain itu, teknologi hijau penyerap polusi udara ini menggunakan sistem tenaga hybrid yang mengombinasikan panel surya dan jaringan listrik, sehingga dapat beroperasi selama 24 jam.
Seluruh unit dilapisi panel komposit aluminium yang ringan, tahan korosi, dan sesuai untuk penggunaan jangka panjang.
Proses instalasi juga dilakukan melalui tahapan teknis yang terukur. Mulai dari kalibrasi sensor hingga integrasi sistem kontrol.
“Fokus kami saat ini adalah memahami kinerja teknologi ini secara menyeluruh, mengumpulkan data yang relevan, dan menjadikannya dasar bagi pengembangan solusi rendah karbon ke depan,” kata Nyiayu.
Baca Juga: Begini Cara Semen Merah Putih Menghargai ‘Pahlawan Konstruksi’ Indonesia
Kolaborasi untuk Inovasi Berkelanjutan
Pengembangan MPTree juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjawab tantangan lingkungan yang semakin kompleks.
Bersama AlgaePark Indonesia, Semen Merah Putih mengintegrasikan keahlian industri dan bioteknologi untuk menciptakan solusi yang aplikatif.
Sementara itu Direktur Utama PT Algaepark Indonesia Mandiri, Muhammad Zusron menyebut bila mikroalga memiliki kemampuan alami yang sangat kuat dalam menyerap CO₂.
“Melalui sistem fotobioreaktor, proses tersebut dapat dioptimalkan secara presisi dan terukur,” terang Muhammad Zusron.
Hasil pengujian MPTree mikroalga penyerap karbon ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan teknologi untuk ruang publik yang lebih luas, termasuk kawasan komersial, proyek properti, hingga infrastruktur perkotaan.
“Melalui uji MPTree ini, kami ingin membuka ruang kolaborasi dan inovasi yang lebih luas dengan banyak pihak, swasta, Pemerintah hingga kalangan aktivis lingkungan,” pungkas Nyiayu.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








