Fenomena 'FOMO' Bikin Penjualan Crown Group Meningkat 200%

Lonjakan penjualan yang dialami Crown Group merupakan cerminan dari kondisi pasar, di mana harga rumah tapak di luar jangkauan konsumen.

Direktur Penjualan Crown Group, Prisca Edwards. (Foto: Dok. Crown Group)
Direktur Penjualan Crown Group, Prisca Edwards. (Foto: Dok. Crown Group)

RealEstat.id (Jakarta) – Crown Group, pengembang properti yang bermarkas di Sydney, Australia, mencatat terjadi lonjakan penjualan di kawasan Waterloo. Di sisi lain, harga rata-rata unit di Waterloo saat ini 66% lebih rendah dari harga rata-rata rumah tapak di Sydney.

Hal ini mendorong permintaan pasar akan apartemen mewah dengan harga lebih terjangkau, terutama yang memiliki fasilitas bergaya resor. Terbukti, tingkat permintaan dan penjualan proyek apartemen Crown Group mengalami peningkatan sebesar 200% dalam dua bulan terakhir.

Baca Juga: Iwan Sunito: Pandemi Ubah Persepsi Desain Rumah dan Apartemen

Direktur Penjualan Crown Group, Prisca Edwards mengatakan, pihaknya tidak terlalu terkejut dengan lonjakan penjualan yang terjadi dalam waktu singkat. Pasalnya, pasar hunian di Sydney menghangat lantaran dipicu fenomena FOMO (Fear of Missing Out) alias ketakutan akan kehabisan stok hunian, karena pasokan sangat terbatas.

“Lonjakan penjualan yang kami alami merupakan cerminan dari kondisi pasar yang umum dalam siklus properti jenis ini, di mana harga rumah tapak di luar jangkauan konsumen dan mereka tertarik pada banyak manfaat dan keuntungan dari tinggal di apartemen,” kata Prisca Edwards.

Menurutnya, bila harga rumah tapak naik, otomatis harga unit apartemen juga ikut terkerek, tetapi bisa saja ada jeda. Namun, pasar apartemen saat ini dalam 'mode' mengejar rumah tapak.

Baca Juga: Crown Group: Pemilik Apartemen di Australia Tetap Pegang Sertifikat Fisik

“Intinya adalah, apartemen yang memenuhi lebih banyak persyaratan akan menjadi yang pertama terjual dan fitur tertentu akan lebih menarik bagi pembeli,” papar Prisca.

Lebih lanjut, Prisca menggambarkan, kota metropolitan di seluruh dunia seperti New York, Bangkok, dan Sydney menawarkan kesempatan yang luas biasa dan akses yang cepat. Akan tetapi, kawasan hunian yang serba cepat ternyata juga dapat membebani masyarakat. Penduduk perkotaan kini menyadari bahwa memperlambat ritme dan memprioritaskan kesehatan penting untuk kesejahteraan dan produktivitas mereka.

Baca Juga: Crown Group: Terkait Kredit Properti, Perbankan Indonesia Bisa Tiru Australia

“Sejak COVID kami melihat terjadi peningkatan permintaan untuk apartemen dengan kamar tidur tambahan atau dua kamar tidur, atau lebih banyak ruang belajar, di mana hal tersebut sejalan dengan apa yang kami tawarkan selama ini, yakni ukuran apartemen yang lebih besar dengan balkon dan area umum yang luas, dan ciri khas kami melalui fasilitas bergaya resor,” tambahnya.

Di masa pandemi ini, jelasnya, konsumen tidak lagi mencari gedung apartemen. Mereka lebih banyak mencari hunian yang menawarkan rasa kebersamaan tanpa harus keluar di tengah keramaian. Sebuah hunian yang mampu memenuhi kesehatan fisik dan mental mereka.

Redaksi@realestat.id

Berita Terkait

Gedung Terminal St. John di Manhattan, New York (Foto: Dok. Cookfox Architects)
Gedung Terminal St. John di Manhattan, New York (Foto: Dok. Cookfox Architects)
Petugas Call Center Sharp Indonesia tengah melayani konsumen (Foto: Dok. Sharp Indonesia)
Petugas Call Center Sharp Indonesia tengah melayani konsumen (Foto: Dok. Sharp Indonesia)
Fasilitas SPBU Shell di Jakarta Garden City (Foto: Modernland Realty)
Fasilitas SPBU Shell di Jakarta Garden City (Foto: Modernland Realty)