Andalkan Konsep Boutique Lifestyle, OXO Group Indonesia Garap Pasar Properti Bali

Produk properti OXO Group Indonesia dikenal memiliki desain cerdas, layanan premium, dan mengedepankan prinsip berkelanjutan (sustainability).

Salah satu proyek OXO Group Indonesia di Bali (Foto: Dok. OXO Group)
Salah satu proyek OXO Group Indonesia di Bali (Foto: Dok. OXO Group)

RealEstat.id (Jakarta) – Bali merupakan salah satu daerah yang memiliki tingkat kenaikan harga properti. Masifnya sektor pariwisata di Bali, mendorong pembangunan properti yang menawarkan cuan, tak hanya bagi warga lokal dan warga negara Indonesia saja, tetapi juga bagi warga negara asing. Hal inilah yang dilirik OXO Group Indonesia.

Johannes Weissenbaeck, Founder dan CEO OXO Group Indonesia mengungkapkan, pasar properti di Bali telah terbukti resilience ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Menurutnya, semua sektor terdampak ketika awal pandemi, akan tetapi pandemi juga memunculkan celah pasar properti baru, yaitu pasar properti berkonsep boutique lifestyle.

“Hal ini dimungkinkan karena pada saat pandemi, semua orang bisa bekerja dari mana saja, dan Bali menjadi salah satu tujuan utama dari tren baru ini. Yang lebih mengagetkan adalah tren tersebut masih bertahan hingga saat ini, dan hal ini menjadi ‘bahan bakar’ untuk pasar properti berkonsep boutique lifestyle,” tutur Johannes Weissenbaeck kepada awak media, Senin (26/2/2024).

Baca Juga: Rambah Bali, One Global Resorts Milik Iwan Sunito Gandeng OXO Living

Johannes menambahkan, tiga tahun lalu pada saat awal Covid-19, jumlah villa di kawasan Canggu hanya sekitar 3.200 unit. Sementara saat ini sudah lebih dari 5.000 unit kamar villa yang siap disewakan. Jumlah tersebut digadang bakal terus bertambah seiring waktu.

“Hal yang unik, kami bisa menjual habis dua proyek pengembangan kami di kawasan Canggu selama pandemi,” tutur Johannes menambahkan.

Villa Chamelion OXO Group Indonesia Bali realestat.id dok
Villa Chamelion, proyek perdana OXO Group Indonesia di Bali. (Foto: Dok. OXO Group)

OXO Group Indonesia adalah perusahaan pengembangan dan manajemen properti dengan visi menciptakan gaya hidup yang menginspirasi dan bermanfaat bagi para tamu dan investor. Sejak awal tahun 2015, produk properti dan pengalaman OXO dikenal memiliki standar tanpa kompromi, desain cerdas, layanan premium, dan mengedepankan prinsip berkelanjutan (sustainability).

Saat ini, OXO Group Indonesia telah mengembangkan dan memiliki sekitar 30 properti di Bali senilai Rp700 miliar,yang terdiri dari hunian pribadi, vila, townhouse, studio co-working, resor, dan kapal pesiar sepanjang 20 meter di Taman Nasional Komodo.

Baca Juga: Living World Denpasar: Mal Terbesar di Bali Resmi Dibuka! Apa Saja Keunggulannya?

“Kami menyebut OXO Group sebagai Small Giant. Mungkin kami kecil dari ukuran, namun kami memiliki visi menjadi pemain kelas dunia dalam beberapa tahun ke depan,” jelasnya.

Johannes Weissenbaeck adalah seorang wirausahawan kreatif, visioner, pemikir lateral dan pembicara publik dengan lebih dari 25 tahun pengalaman bisnis di Inggris, Australia, Austria, Jerman dan Indonesia.

Pada akhir tahun 2014, Johannes pindah ke Bali dan mengembangkan properti pertama OXO Group Indonesia, yaitu villa mewah Chameleon, yang mendapatkan penghargaan dan pengakuan internasional. Sejak saat itu, Johannes terus mengembangkan OXO menjadi salah satu perusahaan pengembangan dan pengelolaan properti butik terkemuka di Bali.

Baca Juga: Makin Digemari Wisatawan, Ciputra Beach Resort Andalkan Bali Beach Glamping

”Pasar global menjadi dasar pemikiran kami untuk menjalin kolaborasi strategis dengan ONE Global Capital serta Nuanu. Kami percaya, kolaborasi ini akan semakin mempercepat realisasi visi kami menuju pasar dunia,” kata Jo—sapaan akrab Johannes Weissenbaeck.

Johannes Weissenbaeck OXO Living Bali realestat.id dok
Johannes Weissenbaeck, CEO dan Founder OXO Group Indonesia. (Foto: istimewa)

ONE Global Capital adalah perusahaan platform investasi besutan Iwan Sunito, sementara Nuanu diprediksi menjadi kawasan Hot Spot baru seluas 50 hektare di Bali setelah Canggu dalam satu hingga tahun ke depan.

“Salah satu kekuatan kami adalah kami bisa mengikuti tren pasar baru, seperti halnya Neo Luxury. Para penganut paham Neo Luxury memandang kemewahan tidak lagi dibatasi oleh material bahan bangunan yang digunakan—misalnya marmer—namun mereka lebih melihat value, experience, dan gaya hidup berkelanjutan,” jelas Johannes.

Baca Juga: Pertama di Asia Tenggara, Hilton dan SSIA Bangun LXR Hotels & Resorts di Bali

Menurutnya, OXO Group Indonesia merupakan perusahaan pengembang yang selalu mengedepankan gaya hidup berkelanjutan. Semua properti yang dibangun oleh OXO dilengkapi dengan panel tenaga surya, area resapan air hujan, water treatment, penyaring air osmosis, hingga bahan baku hasil daur ulang atau dapat didaur ulang.

“Kami bahkan telah menerapkan Zero Waste dalam setiap proyek properti kami, dan kami telah melakukan semua hal tersebut sejak awal kami berdiri,” katanya.

Bukan hanya menerapkan gaya hidup berkesinambungan, OXO juga merangkul komunitas disabilitas lokal guna mendukung usaha mereka.

“Ini adalah sesuatu yang selalu kami lakukan, yaitu memberi dampak kepada komunitas lokal. Melalui pemberdayaan komunitas disabilitas sebagai pendukung usaha OXO, kami mencoba membantu mereka untuk bisa lebih mandiri dan kreatif,” pungkas Johannes.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terkait

Sharp Standing Freezer dapat lebih cepat melakukan proses pembekuan es batu dan makanan. (Foto: Dok. Sharp Indonesia)
Sharp Standing Freezer dapat lebih cepat melakukan proses pembekuan es batu dan makanan. (Foto: Dok. Sharp Indonesia)
SKYE Suites Hotel Green Square, Sydney (Foto: Dok. Crown Group)
SKYE Suites Hotel Green Square, Sydney (Foto: Dok. Crown Group)
Ruko Bukit Podomoro Business Park di Bukit Podomoro Jakarta (Foto: bukitpodomoro.com)
Ruko Bukit Podomoro Business Park di Bukit Podomoro Jakarta (Foto: bukitpodomoro.com)