Lompat ke konten utama

RealEstat.id

Jababeka (KIJA) Bukukan Pendapatan Rp4,25 Triliun di Kuartal III 2026, Laba Bersih Turun 38%

Pendapatan Land Development & Property Jababeka Menguat di Kuartal III 2026, infrastruktur terus mendukung pertumbuhan pendapatan berulang.
Kawasan Jababeka Residence KIJA Sertifikat Elektronik e-sertifikat realestat.id dok kuartal i ii iii iv 2026 2027
Kawasan Jababeka Residence (Foto: Dok. Jababeka)

RealEstat.id (Bekasi) – PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (IDX: KIJA) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp4,25 triliun di Kuartal III 2026. Raihan ini meningkat 16% dibandingkan Rp3,67 triliun pada periode yang sama tahun 2025 (YoY).

Pendapatan Jababeka dari segmen Land Development & Property menunjukkan penguatan signifikan pada kuartal III 2026 dengan capaian Rp1,91 triliun, naik 17% dibandingkan Rp974,9 miliar di Semester I 2026.

Kinerja segmen ini didukung oleh pertumbuhan pada tiga segmen utama. Pertama, penjualan tanah matang yang mencapai Rp1,62 triliun, meningkat dibandingkan Rp1,43 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kedua, penjualan tanah dan bangunan pabrik mencapai Rp126,0 miliar, atau tumbuh sebesar 291% dari Rp32,2 miliar. Ketiga, penjualan tanah dan rumah meningkat 18% menjadi Rp77,8 miliar.

“Hasil tersebut mencerminkan pertumbuhan pada segmen properti industri maupun residensial, yang secara keseluruhan memperkuat kinerja segmen ini,” jelas Muljadi Suganda, Corporate Secretary Jababeka dalam Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia.

Baca Juga: Jababeka (KIJA) Perkuat Strategi Pertumbuhan Jangka Panjang Melalui Dua Pilar Utama

Pendapatan dari segmen Infrastruktur Jababeka di Kuartal III 2026 menyentuh angka Rp2,24 triliun, atau meningkat 15% dari Rp1,95 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

Segmen ketenagalistrikan mencatat pendapatan Rp1,50 triliun, meningkat dari Rp1.,37 triliun, didukung oleh konsumsi listrik tenant di Kendal dan Cikarang.

Segmen Jasa dan Pemeliharaan tumbuh 33% menjadi Rp525,6 miliar dari Rp398,5 miliar, didorong oleh tingginya aktivitas tenant di Kendal, peningkatan kontribusi dari unit usaha lainnya dalam subsegmen ini, serta kenaikan tarif dan volume layanan di Cikarang.

Pendapatan Cikarang Dry Port meningkat menjadi Rp211,8 miliar dari Rp174,6 miliar, terutama didorong oleh kenaikan volume peti kemas yang ditangani. Recurring revenue dari pilar ini menyumbang 53% dari total pendapatan Perseroan.

Pendapatan segmen Leisure & Hospitality Jababeka meningkat menjadi Rp97,6 miliar di Kuartal III 2026. Bisnis golf memberikan kontribusi sekitar 65% terhadap total pendapatan segmen ini, mendukung diversifikasi sumber pendapatan Perseroan.

Baca Juga: Unggulkan Human Capital, Kawasan Industri Jababeka Bertransformasi Menjadi Ekosistem Entrepreneur

Laba Bersih Turun

Laba bruto konsolidasian KIJA meningkat 7% menjadi Rp1,57 triliun pada Kuartal III 2026, dibandingkan Rp1,47 triliun pada Kuartal III 2025. Namun, margin laba bruto konsolidasian turun menjadi 37% dari 40%.

Penurunan margin tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya margin pada segmen Infrastruktur, khususnya dari segmen ketenagalistrikan, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor operasional.

Jababeka mencatat laba bersih sebesar Rp391,7 miliar pada Kuartal III 2026, turun 38% dibandingkan Rp634,6 miliar pada Kuartal III 2025.

Kinerja tersebut dipengaruhi oleh beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) terkait refinancing Senior Notes Perseroan menjadi pinjaman bank, yang meliputi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen derivatif (lindung nilai/hedging), serta beban amortisasi yang dipercepat terkait Senior Notes yang jatuh tempo pada tahun 2027.

Biaya tersebut merupakan konsekuensi dari langkah strategis Perseroan untuk melakukan refinancing atas Senior Notes berdenominasi Dolar AS menjadi fasilitas pinjaman bank dalam mata uang Rupiah.

Baca Juga: Jababeka Akuisisi 51% Saham Kawasan Industri Seafer di Kendal Senilai Rp340,86 Miliar

Langkah ini diharapkan memberikan manfaat keuangan jangka panjang, meskipun berdampak sementara terhadap kinerja keuangan pada periode berjalan.

EBITDA Jababeka pada Kuartal III 2026 tercatat sebesar Rp1,36 triliun, naik 4% dibandingkan Rp1,30 triliun pada Kuartal III 2025.

Marketing Sales Capai Rp1,52 Triliun

Segmen Pengembangan Lahan & Properti meriah marketing sales sekitar Rp1,52 triliun pada Kuartal III 2026. Hal ini mencerminkan aktivitas bisnis yang tetap berlanjut di berbagai kawasan industri Perseroan di tengah kondisi lingkungan investasi yang semakin menantang.

Marketing sales dari Cikarang dan wilayah lainnya, termasuk joint venture, didukung oleh penjualan lahan industri seluas 3 hektare kepada perusahaan tekstil Indonesia, 1 hektare kepada perusahaan di sektor ketenagalistrikan, serta 0,7 hektare kepada perusahaan importir bahan bangunan asal Tiongkok.

Sementara itu, penjualan di Kendal didukung oleh transaksi lahan seluas 7 hektare kepada produsen baterai dan 6 hektare kepada produsen kulit sintetis yang keduanya berasal dari Tiongkok, serta 9,7 hektare kepada produsen peralatan rumah tangga asal Indonesia.

Baca Juga: Jababeka (KIJA) Rugi Bersih Rp6,4 Miliar di Semester I 2026, Ternyata Bukan Karena Bisnis Melemah

Kondisi pasar saat ini mendorong investor untuk mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati dalam menentukan keputusan investasi.

Sementara itu, realisasi transaksi masih bergantung pada pertimbangan komersial dan jadwal masing-masing investor.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, Perseroan tetap berfokus pada pemeliharaan hubungan dengan pasar, penguatan sales pipeline, serta mengonversi peluang bisnis menjadi realisasi Marketing Sales.

Perseroan tetap melihat adanya permintaan mendasar (underlying demand) di kawasan industri yang dikelolanya, didukung oleh daya tarik jangka panjang Indonesia sebagai destinasi manufaktur dan investasi.

Dengan ekosistem industri yang telah berkembang, infrastruktur terintegrasi, serta lokasi strategis di Cikarang dan Kendal, Perseroan berada pada posisi yang kuat untuk menangkap peluang investasi di masa mendatang.

Baca Juga: Jababeka Dapat Pembiayaan Rp1,2 Triliun dari BRI untuk Ekspansi Kawasan Industri Kendal

2027 Lebih Kondusif

Muljadi Suganda mengatakan, Jababeka tetap berfokus pada penguatan basis pendapatan berulang (recurring revenue) melalui segmen Infrastruktur serta mempertahankan posisinya sebagai salah satu pengembang kawasan industri terkemuka di Indonesia.

Meskipun kondisi pasar dan lingkungan makroekonomi masih menjadi tantangan bagi pencapaian marketing sales pada tahun 2026, Perusahaan tetap optimistis terhadap prospek bisnis properti industri dalam jangka menengah.

Ke depan, Perusahaan memperkirakan prospek bisnis akan menjadi lebih kondusif pada tahun 2027, didukung oleh pengembangan kawasan industri yang berkelanjutan serta permintaan yang mendasar dari para penyewa industri (industrial tenants).

“Perusahaan akan menyampaikan panduan resmi (formal guidance) terkait target marketing sales tahun 2027 pada awal tahun 2027,” pungkasnya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait