Lompat ke konten utama

RealEstat.id

Cara Aman Menggunakan AC Saat Hujan Abu Vulkanik, Ini Penjelasan Lengkapnya!

Risiko utama penggunaan AC saat hujan abu vulkanik terletak pada unit outdoor, karena memiliki kondensor yang berfungsi melepaskan panas dari sistem pendingin.
rumah ac sharp hujan abu vulkanik realestat.id dok
Rumah yang terdampak hujan abu vulkanik (Foto: Realestat.id)

RealEstat.id (Jakarta) – Hujan abu vulkanik tidak hanya mengganggu aktivitas di luar rumah, tetapi juga perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi kondisi udara di dalam hunian dan sejumlah peralatan rumah tangga, termasuk pendingin ruangan atau air conditioner (AC).

Ketika udara luar dipenuhi abu vulkanik, muncul pertanyaan apakah AC aman digunakan saat hujan abu vulkanik. Pasalnya, abu dapat menempel pada berbagai komponen, terutama unit outdoor yang berada di luar bangunan.

Menurut PSG Manager for AC & Air Purifier PT Sharp Electronics Indonesia, Yudha Eka Putra, AC split pada umumnya masih dapat digunakan saat hujan abu karena sistem tersebut tidak mengambil udara dari luar untuk dialirkan ke dalam ruangan.

“Meski demikian, jika hujan abu vulkanik cukup lebat atau abu sudah menumpuk di outdoor unit, sebaiknya AC dimatikan sementara untuk mencegah gangguan dan kerusakan,” tuturnya.

Baca Juga: Penjualan AC Diproyeksi Melonjak Saat Kemarau Panjang, Sharp Siapkan Sejumlah Strategi

Yudha Eka Putra menjelaskan, pada sebagian besar produk AC split untuk hunian, udara yang didinginkan merupakan udara dari dalam ruangan.

Udara tersebut disirkulasikan kembali melalui unit indoor, bukan mengambil udara luar melalui unit outdoor.

“Oleh karena itu, abu vulkanik dari luar tidak secara otomatis masuk ke dalam ruangan melalui AC split biasa,” terangnya.

Meski demikian, bukan berarti hunian sepenuhnya terbebas dari risiko masuknya abu. Partikel abu masih dapat masuk melalui pintu dan jendela yang terbuka maupun celah pada lubang instalasi AC yang tidak tertutup rapat.

Untuk memastikan apakah AC mengambil udara dari luar atau tidak, pemilik rumah dapat memeriksa buku manual atau spesifikasi produk.

“Perhatikan apakah AC memiliki fitur seperti Fresh Air, Ventilation, atau Outdoor Air Intake. Jika fitur tersebut tidak tersedia, umumnya AC hanya melakukan sirkulasi udara di dalam ruangan,” kata Yudha.

Baca Juga: Tips Memilih dan Merawat AC agar Hemat Listrik dan Awet

Lebih lanjut dia menerangkan, risiko utama penggunaan AC saat hujan abu vulkanik terletak pada unit outdoor, karena memiliki kondensor yang berfungsi melepaskan panas dari sistem pendingin.

Ketika permukaan kondensor dan kisi-kisinya tertutup abu, aliran udara dapat terhambat sehingga proses pelepasan panas menjadi tidak optimal.

“Kondisi tersebut dapat membuat AC menjadi kurang dingin dan bekerja lebih berat. Dalam jangka tertentu, konsumsi listrik juga berpotensi meningkat,” ungkap Yudha.

Jika penumpukan abu semakin parah, kompresor dapat bekerja lebih keras dan suhu komponen meningkat. Sistem perlindungan AC bahkan dapat membuat unit mati secara otomatis ketika mendeteksi kondisi yang berisiko menyebabkan overheat.

Selain kondensor, abu yang masuk ke sistem AC juga dapat mengotori filter indoor, evaporator, blower, hingga mengganggu komponen kelistrikan. “Paparan abu dalam jangka panjang juga dapat mempercepat korosi pada bagian tertentu,” ujarnya.

Baca Juga: 7 Cara Menjaga Rumah Tetap Sehat Saat Hujan Abu Vulkanik

yudha eka putra sharp indonesia realestat.id dok
Yudha Eka Putra, PSG Manager for AC & Air Purifier PT Sharp Electronics Indonesia (Foto: Istimewa)

Kapan AC Sebaiknya Dimatikan?

Menurut Yudha Eka Putra, saat hujan abu vulkanik ringan, AC split masih dapat digunakan, dengan catatan pintu dan jendela rumah ditutup rapat.

Namun, situasinya berbeda ketika hujan abu semakin lebat. Jika abu mulai terlihat menumpuk pada outdoor unit, sebaiknya AC dimatikan sementara sampai kondisi kembali membaik.

“Jika hujan abu ringan, AC masih bisa digunakan dengan kondisi pintu dan jendela tertutup. Tapi, saat hujan abu lebat atau outdoor unit mulai tertutup abu, lebih aman mematikan AC sampai kondisi membaik dan unit sudah diperiksa,” kata Yudha.

Keputusan mematikan AC juga menjadi penting apabila udara luar terlihat sangat berdebu atau jarak pandang berkurang akibat konsentrasi abu yang tinggi.

Jika kondisi masih memungkinkan dan AC tetap digunakan, pengguna dapat memilih mode Cool dengan pengaturan suhu yang wajar.

Baca Juga: 7 Rekomendasi AC Low Watt 1/2 PK Terbaik 2025: Hemat Listrik dan Bikin Tagihan Tetap Irit!

Yudha menekankan, penggunaan mode Turbo dalam waktu lama sebaiknya dihindari ketika outdoor unit sudah terpapar abu cukup banyak.

Pasalnya, mode tersebut membuat sistem bekerja lebih intensif sehingga beban kerja unit dapat meningkat.

Apabila AC memiliki fitur Fresh Air atau Ventilation, fitur tersebut sebaiknya dimatikan selama terjadi hujan abu.

Tujuannya untuk mencegah masuknya udara luar apabila perangkat memang memiliki mekanisme mengambil udara dari luar.

Pada AC yang menggunakan sistem recirculation, udara di dalam ruangan akan digunakan kembali sehingga tidak mengambil udara luar. Mekanisme inilah yang umumnya digunakan pada AC split residensial.

Baca Juga: Cara Setting & Kode Remote AC Sharp Universal, Lengkap!

Setelah Hujan Abu Berhenti

Setelah hujan abu vulkanik berhenti, bukan berarti AC dapat langsung dinyalakan kembali. Pemilik rumah sebaiknya terlebih dahulu memeriksa kondisi unit outdoor.

“Jika terlihat terdapat lapisan abu yang menutupi permukaan atau kisi-kisi kondensor, lakukan pembersihan sebelum AC kembali digunakan,” kata Yudha.

Hal ini penting, karena abu yang menempel dapat menghambat aliran udara dan mengurangi kemampuan kondensor dalam membuang panas.

Untuk kondisi dengan penumpukan abu yang cukup berat, pemeriksaan dan pembersihan sebaiknya dilakukan oleh teknisi AC.

Meski demikian, imbuhnya, tidak semua bagian AC perlu dibersihkan sendiri oleh konsumen. Filter indoor dan permukaan luar unit indoor umumnya dapat dibersihkan sesuai petunjuk penggunaan produk.

Peluncuran Sharp Airest AC Air Purifier realestat.id dok
Sharp tidak ingin konsumen memilih antara AC dan air purifier, sehingga Airest mengintegrasikan keduanya menjadi satu sistem yang bekerja secara harmonis. (Foto: Dok. Realestat.id)

Baca Juga: AC Saja Tidak Cukup! Sharp Edukasi Pentingnya Dehumidifier untuk Kesehatan

Filter yang dapat dicuci cukup dilepas, dibersihkan, kemudian dikeringkan sebelum dipasang kembali. Jika filter sudah rusak atau terlalu tersumbat, penggantian filter dapat menjadi pilihan yang lebih tepat.

Sementara itu, pembersihan evaporator, blower, kondensor, dan komponen kelistrikan sebaiknya dilakukan teknisi profesional.

“Kesalahan dalam proses pembersihan dapat menyebabkan kerusakan pada komponen AC,” tegas Yudha Eka Putra.

Khusus untuk outdoor unit yang terkena banyak abu, matikan listrik AC terlebih dahulu. Jangan langsung menyiram tumpukan abu menggunakan air atau menyemprotnya dengan tekanan tinggi.

Air dapat membuat abu semakin menempel dan masuk lebih dalam ke celah-celah fin kondensor. Semprotan bertekanan tinggi juga berisiko merusak komponen tertentu.

Baca Juga: Sharp Luncurkan AC Black Series, Bikin Ruangan Sejuk dan Makin Estetis

Jangan Andalkan AC untuk Membersihkan Abu di Udara

Yudha menjelaskan, salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah AC bukan alat utama untuk membersihkan udara dari abu vulkanik.

Filter standar pada AC memang dapat menangkap sebagian debu atau partikel berukuran lebih besar. Namun, kemampuan tersebut tidak sama dengan filter HEPA yang dirancang untuk menangkap partikel udara berukuran sangat kecil.

“Karena itu, setelah hujan abu, ruangan sebaiknya terlebih dahulu dibersihkan dan filter AC diperiksa sebelum perangkat kembali digunakan,” terangnya.

Untuk membantu membersihkan udara dari partikel yang masih tersisa, penggunaan air purifier dengan HEPA filter dapat menjadi pilihan. Kapasitas air purifier juga perlu disesuaikan dengan luas ruangan.

Salah satu pilihan yang dapat digunakan adalah Air Purifier Sharp yang dilengkapi teknologi Triple Filtration, terdiri dari prefilter untuk menangkap abu atau debu berukuran besar, deodorizer filter untuk membantu menetralisir bau, serta HEPA filter untuk membantu menangkap partikel halus berukuran mikroskopis yang masih tersisa.

Baca Juga: Sharp Indonesia Luncurkan Airest: AC dan Air Purifier dalam Satu Perangkat Canggih

“Perangkat tersebut juga dilengkapi Plasmacluster Ion Technology yang ditujukan untuk membantu menciptakan udara yang lebih sehat di dalam ruangan,” ujarnya.

Menurut Yudha, air purifier lebih tepat digunakan untuk membantu menyaring partikel udara di dalam ruangan, sedangkan AC berfungsi utama mengatur suhu dan kenyamanan termal.

Pasalnya, peranti ini memiliki fungsi berbeda, keduanya dapat digunakan secara bersamaan ketika kondisi memungkinkan. AC menjaga ruangan tetap sejuk, sementara air purifier membantu menyaring partikel udara.

Alternatif lainnya adalah menggunakan perangkat yang menggabungkan fungsi pendingin ruangan dan air purifier dalam satu perangkat, seperti AC Sharp Airest.

“Produk ini menggunakan filter HEPA grade MERV 14 yang diklaim mampu menyaring hingga 99,9% partikel debu yang berbahaya bagi kesehatan,” pungkasnya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait