RealEstat.id (Jakarta) – Hujan abu vulkanik tidak hanya membuat lingkungan rumah terlihat kotor. Partikel abu yang terbawa udara juga dapat masuk ke dalam hunian melalui pintu, jendela, ventilasi, maupun celah-celah bangunan.
Karena itu, menjaga rumah tetap sehat saat hujan abu vulkanik perlu dilakukan dengan lebih dari sekadar membersihkan lantai dan perabot.
Penghuni juga perlu mengurangi masuknya abu ke dalam rumah, menjaga kualitas udara, serta membatasi paparan terhadap anggota keluarga.
Abu vulkanik dapat menimbulkan iritasi pada mata, kulit, dan saluran pernapasan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut abu dan gas dari erupsi gunung api dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Lantas, bagaimana cara menjaga rumah tetap sehat saat hujan abu vulkanik?
Baca Juga: 8 Cara Membasmi Kutu Kasur Secara Ampuh dan Aman, Bikin Tidur Kian Nyaman!
1. Tutup Pintu, Jendela, dan Celah Rumah
Langkah pertama yang perlu dilakukan ketika abu vulkanik mulai turun adalah membatasi udara luar masuk ke dalam rumah.
Tutup pintu dan jendela serta celah lain yang memungkinkan abu masuk. Jika terdapat celah cukup besar di sekitar pintu atau jendela, penghuni dapat menggunakan bahan penutup sementara untuk membantu mengurangi infiltrasi abu.
U.S. Geological Survey (USGS) juga merekomendasikan agar pintu dan jendela tetap tertutup selama hujan abu.
Area masuk rumah sebaiknya dibatasi agar abu yang menempel pada sepatu atau pakaian tidak terbawa ke ruangan lain.
Jika memungkinkan, sediakan satu area khusus di dekat pintu masuk untuk melepas sepatu atau pakaian luar yang terkena abu.
Baca Juga: Penggunaan Material Bangunan jadi Kunci Ciptakan Hunian Sehat dan Aman bagi Keluarga
2. Perhatikan Ventilasi Rumah
Ventilasi memang penting untuk menjaga kualitas udara di dalam rumah. Namun, ketika udara luar dipenuhi abu vulkanik, membuka jendela atau ventilasi justru dapat meningkatkan masuknya partikel ke dalam hunian.
Selama hujan abu berlangsung, kurangi pertukaran udara dengan lingkungan luar. Setelah kondisi membaik dan udara luar dinyatakan lebih aman, ventilasi rumah dapat kembali digunakan secara bertahap.
Hal yang sama berlaku untuk exhaust fan atau sistem ventilasi mekanis yang mengambil udara dari luar. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi sistem dan rekomendasi otoritas setempat.
3. Perhatikan Penggunaan AC Saat Hujan Abu Vulkanik
Penggunaan AC menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian ketika terjadi hujan abu.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC)—lembaga Amerika Serikat yang fokus pada kesehatan masyarakat dan pencegahan penyakit—selama hujan abu, unit pendingin udara dan kipas yang berpotensi memasukkan udara luar ke dalam bangunan sebaiknya dimatikan.
USGS juga mengingatkan bahwa sistem HVAC dan unit AC memiliki komponen yang rentan terhadap masuknya abu, terutama bagian air intake dan filter.
Karena sistem AC berbeda-beda, penghuni sebaiknya memahami terlebih dahulu apakah unit di rumah menggunakan udara luar atau hanya mensirkulasikan udara di dalam ruangan.
Setelah hujan abu mereda, periksa kondisi unit outdoor, filter, dan saluran masuk udara sebelum AC digunakan kembali.
Filter juga mungkin membutuhkan pemeriksaan dan penggantian lebih sering setelah terjadi hujan abu.
Baca Juga: Cuaca Dingin Ekstrem, Begini Cara Bikin Rumah Tetap Nyaman
4. Gunakan Air Purifier
Air purifier dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu menjaga kualitas udara dalam ruangan ketika kondisi udara di luar kurang baik.
Jika menggunakan perangkat tersebut, tempatkan di ruangan yang paling sering digunakan keluarga dan pastikan filter dibersihkan atau diganti sesuai petunjuk produsen.
Namun, air purifier bukan pengganti langkah utama untuk mengurangi masuknya abu. Menutup pintu dan jendela serta mengikuti arahan dari otoritas tetap menjadi langkah penting selama terjadi hujan abu.
5. Bersihkan Abu dengan Cara yang Tepat
Abu vulkanik tidak sama dengan debu rumah biasa. Partikelnya dapat bersifat abrasif dan mudah kembali beterbangan ketika disapu atau ditiup.
Karena itu, hindari menyapu abu kering secara berlebihan. USGS merekomendasikan metode pembersihan yang meminimalkan debu beterbangan, seperti menggunakan kain lembap atau metode penyedotan yang sesuai.
Untuk permukaan keras, kain atau alat pel yang sedikit lembap dapat digunakan. Sementara untuk karpet dan furnitur tertentu, penyedot debu dengan filtrasi partikel yang sesuai dapat membantu mengangkat abu.
Jangan menggunakan kipas atau meniup abu dengan udara bertekanan karena tindakan tersebut dapat membuat partikel kembali tersebar di udara.
Baca Juga: Tips Lengkap Bikin Rumah Lebih Sejuk dan Adem Tanpa AC, Mudah Kok!
6. Batasi Aktivitas Anak dan Kelompok Rentan
Saat hujan abu masih berlangsung, aktivitas di luar rumah sebaiknya dikurangi. Anak-anak juga sebaiknya tidak bermain di halaman atau area terbuka yang masih dipenuhi abu.
Perhatian lebih perlu diberikan kepada anggota keluarga yang rentan terhadap gangguan pernapasan.
Jika seseorang mengalami keluhan setelah terpapar abu, seperti kesulitan bernapas atau gejala yang menetap, segera ikuti petunjuk tenaga kesehatan.
CDC menyarankan masyarakat tetap berada di dalam ruangan ketika memungkinkan dan menggunakan respirator partikulat yang sesuai apabila harus berada di luar atau melakukan pembersihan abu.
7. Pantau Informasi Resmi dan Kondisi Lingkungan
Menjaga rumah tetap sehat tidak berarti penghuni harus bertahan di dalam rumah dalam semua situasi.
Jika hujan abu berlangsung lama atau terdapat potensi bahaya lain dari aktivitas gunung api, penghuni harus mengikuti informasi dan instruksi resmi dari pemerintah maupun otoritas kebencanaan.
CDC menekankan pentingnya mengikuti peringatan dan instruksi otoritas setempat. Pada kondisi tertentu, penghuni mungkin perlu meninggalkan rumah dan melakukan evakuasi.
Artinya, rumah hanya menjadi salah satu tempat perlindungan sementara. Keselamatan penghuni tetap menjadi prioritas utama.
Baca Juga: Tips Rumah Sejuk dan Sehat Tanpa AC: Lihat Pergerakan Matahari!
Setelah Hujan Abu Berhenti
Berakhirnya hujan abu bukan berarti seluruh risiko langsung hilang. Abu yang telah mengendap di halaman, jalan, atap, dan permukaan bangunan dapat kembali beterbangan akibat angin atau aktivitas manusia.
Karena itu, proses pembersihan perlu dilakukan secara hati-hati. Abu di dalam rumah sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu, sementara pembersihan area luar dilakukan dengan metode yang mengurangi risiko abu kembali masuk ke dalam bangunan.
Periksa pula kondisi atap, talang, ventilasi, dan unit AC. Penumpukan abu di atap perlu diperhatikan karena berat tambahan dapat memberikan beban pada struktur bangunan, terutama ketika abu menjadi basah.
WHO menyebut akumulasi abu di atap dapat menyebabkan kerusakan bahkan meningkatkan risiko runtuhnya bangunan.
Baca Juga: 5 Tips Mudah Membersihkan Debu di Dalam Rumah
Dimulai dari Kesiapsiagaan
Menjaga rumah sehat saat hujan abu vulkanik pada dasarnya adalah upaya mengurangi paparan keluarga terhadap abu dan menjaga kualitas udara di dalam hunian.
Menutup pintu dan jendela, mengendalikan ventilasi, memperhatikan penggunaan AC, membersihkan abu dengan metode yang tepat, serta memantau informasi resmi merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan penghuni.
Namun, tidak ada langkah perlindungan rumah yang lebih penting daripada keselamatan. Jika otoritas meminta masyarakat untuk mengungsi, segera tinggalkan rumah dan ikuti jalur evakuasi yang telah ditentukan.
Dengan kesiapsiagaan yang baik, rumah tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga dapat menjadi ruang perlindungan yang membantu keluarga menghadapi kondisi darurat akibat aktivitas vulkanik.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








