RealEstat.id (Jakarta) – Permintaan pendingin ruangan atau air conditioner (AC) diperkirakan meningkat seiring prediksi musim kemarau yang lebih panjang di tahun 2026 ini.
Kondisi cuaca panas berkepanjangan dinilai menjadi salah satu faktor utama yang mendorong masyarakat semakin bergantung pada perangkat pendingin udara, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun komersial.
Tak hanya itu, AC saat ini tidak lagi dianggap sebagai barang sekunder, melainkan bagian penting dari kenyamanan rumah tangga modern.
Air Conditioner Product Strategy PT Sharp Electronics Indonesia, Dhion Brahmansyah, mengatakan tren peningkatan penjualan AC saat musim panas sebenarnya sudah terlihat pada beberapa tahun sebelumnya.
Pada musim kemarau 2024 misalnya, penjualan AC Sharp melonjak signifikan hingga 115% dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: AC Saja Tidak Cukup! Sharp Edukasi Pentingnya Dehumidifier untuk Kesehatan
Menurut Dhion, proyeksi musim kemarau panjang yang disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berpotensi kembali memicu kenaikan permintaan AC di berbagai wilayah Indonesia pada tahun ini.
“Jelang musim panas memang AC menjadi produk yang paling dicari sebagai fungsi pendingin. Kami melihat potensi lonjakan permintaan AC kembali meningkat seiring prediksi musim kemarau panjang 2026,” ujarnya.
Dhion mengungkapkan, lonjakan penjualan tertinggi sebelumnya tercatat terjadi di wilayah Sulawesi dengan pertumbuhan mencapai 120%.
Sementara itu, imbuhnya, wilayah Sumatra menjadi daerah dengan kenaikan penjualan terbesar kedua, yakni sekitar 110%.
Menurutnya, peningkatan suhu udara dan perubahan pola cuaca membuat masyarakat di luar Pulau Jawa kini semakin memperhatikan kenyamanan termal di rumah maupun tempat usaha.
Baca Juga: Sharp Luncurkan AC Black Series, Bikin Ruangan Sejuk dan Makin Estetis
“Hal ini sekaligus memperluas pasar AC nasional yang sebelumnya lebih terkonsentrasi di kota-kota besar,” jelas Dhion Brahmansyah.
Untuk mengantisipasi kenaikan permintaan tersebut, PT Sharp Electronics Indonesia memastikan kapasitas produksi AC tetap optimal. Perusahaan menjalankan produksi full shift dengan total kapasitas mencapai 90 ribu unit AC per bulan.
Sharp juga mengandalkan pabrik AC lokal yang berada di Karawang, Jawa Barat, guna menjaga stabilitas pasokan dan mempercepat distribusi produk ke berbagai daerah.
Dengan sistem produksi lokal tersebut, perusahaan dapat mempersiapkan kebutuhan material dalam jangka panjang sehingga tetap mampu memenuhi permintaan pasar saat terjadi lonjakan pembelian.
Lebih lanjut Dhion menjelaskan, di tengah tingginya permintaan, industri elektronik juga menghadapi tantangan kenaikan biaya produksi akibat pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dan meningkatnya harga bahan baku global.
Baca Juga: Cara Setting & Kode Remote AC Sharp Universal, Lengkap!
Meski kondisi tersebut bisa mendorong kenaikan harga AC di pasar, Sharp menegaskan penyesuaian dilakukan untuk menjaga kualitas produk serta keberlangsungan distribusi di Indonesia.
“Sharp Indonesia memastikan pasokan AC tetap tersedia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Tanah Air,” kata Dhion Brahmansyah, menambahkan.
Dari sisi distribusi, Sharp memperkuat jaringan penjualan melalui program Sharp Onigiri Club yang melibatkan sub-dealer dan toko prioritas hingga wilayah pelosok.
Strategi ini dilakukan untuk memperluas akses konsumen terhadap produk AC sekaligus meningkatkan edukasi mengenai pemilihan kapasitas dan teknologi AC yang sesuai dengan kebutuhan wilayah masing-masing.
Untuk daerah dengan suhu lebih tinggi, urai Dhion, Sharp mendorong penggunaan AC inverter yang dinilai lebih efisien dalam menjaga kestabilan suhu sekaligus hemat energi.
“Selain itu, perusahaan juga terus memperkuat edukasi kepada dealer agar konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga fitur kesehatan udara, efisiensi listrik, dan kualitas instalasi,” ujarnya.
Baca Juga: Daftar Kode Remote AC Sharp Universal Lengkap dengan Cara Pengaturannya
Dhion menilai prospek pasar AC di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan masih sangat positif. Faktor iklim tropis, pertumbuhan kawasan urban, meningkatnya hunian vertikal, hingga kebutuhan kenyamanan rumah menjadi pendorong utama pertumbuhan industri pendingin ruangan nasional.
Menurutnya, saat ini konsumen semakin selektif dalam memilih AC. Fitur hemat listrik, pendinginan cepat, tingkat kebisingan rendah, daya tahan produk, hingga fitur kesehatan udara menjadi pertimbangan utama sebelum membeli.
Menjawab kebutuhan tersebut, Sharp menghadirkan sejumlah teknologi unggulan seperti Super Jet Stream untuk pendinginan cepat, Coanda Air Flow yang membuat hembusan udara lebih merata, serta teknologi Plasmacluster Ion untuk membantu menjaga kualitas udara tetap bersih dari virus, bakteri, jamur, dan bau.
Selain itu, AC Sharp juga menghadirkan teknologi Watt Fit dengan J-Tech Inverter yang diklaim mampu menghemat energi hingga 65%.
“Beberapa model terbaru juga telah dilengkapi fitur AIoT yang memungkinkan pengguna mengontrol AC melalui smartphone kapan saja dan di mana saja,” tuturnya.
Baca Juga: Pabrik AC Sharp di Karawang Siap Penuhi Kebutuhan Indonesia dan Asia
Secara umu, terang Dhion, perkembangan teknologi smart AC di Indonesia sendiri dinilai terus meningkat, terutama di segmen konsumen urban dan menengah ke atas.
Konsumen mulai tertarik pada fitur kontrol jarak jauh, pengaturan jadwal penggunaan, hingga monitoring konsumsi listrik secara real time.
Namun demikian, Dhion mengakui sebagian masyarakat masih menjadikan harga awal pembelian, kapasitas pendinginan, dan konsumsi daya listrik sebagai pertimbangan utama sebelum beralih ke AC pintar.
Menghadapi 2026, Sharp memproyeksikan pertumbuhan penjualan AC berada di kisaran 110% hingga 115% dibandingkan pencapaian tahun 2025.
“Kami menargetkan tidak hanya peningkatan volume penjualan, tetapi juga memperbesar kontribusi produk inverter dan memperkuat kualitas distribusi nasional,” pungkasnya.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








