Lompat ke konten utama

RealEstat.id

SCG Perkuat Pengembangan Semen Rendah Karbon dan Material Bangunan Hijau di Indonesia

SCG berkomitmen untuk terus memperkuat kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan di Indonesia guna membangun pasar regional material bangunan rendah karbon.
SCG Resmikan Batching Plant Baru Desa Sidakarya Denpasar Bali Realestat.id dok Material Semen Rendah Karbon
Batching Plant SCG di Bali

RealEstat.id (Jakarta) – SCG kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong pengembangan semen rendah karbon (low-carbon cement), material bangunan sirkular, serta solusi konstruksi hijau di Indonesia.

Komitmen tersebut disampaikan dalam rangkaian Indonesia–Thailand Business Forum yang digelar Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) bersama Thai Chamber of Commerce Indonesia (TCCI) di Fairmont Hotel, Jakarta, Jumat (4/7/2026).

Forum ini diselenggarakan bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, ke Indonesia.

Mengusung tema Advancing the Indonesia–Thailand Strategic Partnership: Building Integrated Value Chains in Industry, Services, and the Halal Economy, forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, asosiasi bisnis, dan sektor swasta dari kedua negara untuk membahas peluang perdagangan bilateral, investasi, hingga penguatan kerja sama industri.

Baca Juga: Tips Memilih Material Dinding Rumah Modern: Bata Ringan, Beton, atau Panel?

Dalam sambutannya, Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menyoroti peluang perluasan kerja sama ekonomi antara Thailand dan Indonesia melalui empat sektor utama.

Keempatnya meliputi ketahanan pangan dan pengembangan industri halal, peningkatan konektivitas melalui frekuensi penerbangan bilateral, penguatan ketahanan energi termasuk investasi energi bersih, serta pengembangan layanan keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital kedua negara.

Dalam forum tersebut, SCG turut ambil bagian dalam sesi panel bertajuk Building Integrated Industrial Value Chains: From Resources to Downstreaming Advanced Manufacturing.

Diskusi ini membahas peluang pengintegrasian sumber daya alam dan pasar domestik Indonesia yang besar dengan strategi hilirisasi industri, sekaligus memanfaatkan kekuatan Thailand di sektor manufaktur, otomotif, elektronik, food processing, dan jaringan distribusi regional.

Baca Juga: Penggunaan Material Bangunan jadi Kunci Ciptakan Hunian Sehat dan Aman bagi Keluarga

SCG diwakili oleh Anawat Pornpunyapat, President Director PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi, yang memaparkan pengalaman perusahaan dalam mendukung pengembangan dan distribusi produk semen rendah karbon, material sirkular, serta solusi konstruksi hijau di Indonesia, khususnya untuk sektor industri dan proyek infrastruktur.

Menurut Anawat, penguatan penetrasi produk bangunan hijau di Indonesia dilakukan melalui tiga strategi utama, yakni meningkatkan pemahaman dan kepercayaan konsumen terhadap produk hijau, memperkuat strategi pasar dan jaringan distribusi, serta meningkatkan efisiensi biaya di tingkat produksi.

“Kami tetap berkomitmen untuk mengembangkan solusi konstruksi ramah lingkungan sambil terus meningkatkan efisiensi manufaktur, inovasi produk ramah lingkungan (eco-friendly), dan kolaborasi dengan pemangku kepentingan terkait untuk berkontribusi pada transisi Indonesia menuju infrastruktur rendah karbon,” ungkapnya saat sesi panel.

SCG menilai, adopsi produk konstruksi ramah lingkungan masih sering terkendala oleh rendahnya kesadaran serta pemahaman teknis di kalangan pelaku industri.

Baca Juga: Tips Memilih Material Bangunan Rumah yang Tahan Cuaca Tropis Indonesia

Oleh karena itu, SCG menghadirkan produk bangunan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki kekuatan, daya tahan, dan keandalan yang setara dengan produk konstruksi konvensional.

Melalui produk low-carbon cement, SCG memanfaatkan material inovatif yang meningkatkan daya tahan jangka panjang serta ketahanan terhadap paparan bahan kimia.

Tidak berhenti pada pengembangan semen rendah karbon, perusahaan juga secara aktif memberikan edukasi produk dan membangun dialog terbuka dengan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan pemahaman mengenai kinerja dan keandalan produk konstruksi rendah karbon.

Untuk memperkuat ketersediaan solusi konstruksi ramah lingkungan, SCG terus memperluas jaringan distribusinya guna memastikan pasokan produk yang konsisten di seluruh wilayah prioritas.

Selain itu, perusahaan juga memperluas portofolio Smart Value, High Value-Added (HVA), dan produk ramah lingkungan guna menjawab pertumbuhan pasar konstruksi berkelanjutan yang semakin pesat.

Baca Juga: PVC, Gypsum, atau GRC: Apa Material Plafon yang Cocok untuk Hunian Anda?

Pada kesempatan yang sama, SCG menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan di Indonesia guna membangun pasar regional untuk material bangunan rendah karbon.

Selama lebih dari 30 tahun beroperasi di Indonesia, perusahaan telah membangun berbagai kemitraan strategis dengan mitra lokal melalui berbagi teknologi dan pengetahuan, peningkatan kapabilitas manufaktur sirkular, serta pengembangan kolaborasi yang inklusif.

Dengan pengalaman lebih dari 113 tahun dalam inovasi konstruksi, SCG berkomitmen untuk berbagi inovasi konstruksi rendah karbon di Indonesia.

Perusahaan berbagi keahlian teknis, praktik operasional, serta kapabilitas penelitian yang diharapkan dapat mendukung penerapan teknologi dan produk bangunan rendah karbon secara lebih luas, sekaligus menyesuaikannya dengan kondisi dan kebutuhan di Indonesia.

Selain itu, melalui investasi dalam teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) di Kabupaten Sukabumi, SCG bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat Kabupaten Sukabumi untuk mengolah municipal solid waste (MSW) menjadi bahan bakar alternatif.

Baca Juga: Inovasi Material Bangunan Ramah Lingkungan Bantu Kurangi Emisi Karbon

Dalam mewujudkan kolaborasi yang berkelanjutan, SCG mengusung Public-Private-People Partnership (PPPP), sebuah model kolaborasi yang memperluas konsep Kemitraan Publik-Swasta (Public-Private Partnership/PPP) tradisional dengan melibatkan masyarakat (People) sebagai pemangku kepentingan aktif.

Kolaborasi inklusif ini memainkan peran penting dalam mempercepat pertukaran pengetahuan, mendorong inovasi, serta mendukung implementasi solusi secara praktis.

Melalui pendekatan kolaboratif tersebut, SCG terus berbagi pengalaman dan berdiskusi mengenai berbagai pendekatan dalam pengembangan inovasi hijau di Indonesia.

“Kami akan terus bekerja sama dengan pemangku kepentingan terkait di seluruh Indonesia untuk memajukan teknologi, memperkuat kemampuan lokal, dan berkontribusi pada pengembangan material konstruksi rendah karbon sesuai dengan peraturan dan standar industri yang berlaku,” pungkas Anawat.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait