Lompat ke konten utama

RealEstat.id

Pasar Apartemen Ibu Kota Bergerak Positif, Jakarta Selatan Pasok Proyek Baru Hingga 2029

Pada Semester I 2026, pasar apartemen Jakarta mencatat peluncuran dua tower baru yang menandai menggeliatnya aktivitas setelah beberapa tahun lebih konservatif.
Tips Beli Apartemen Jakarta Jabodetabek semester Kuartal I II III IV 2025 2026 realestat.id dok
Foto: Realestat.id

RealEstat.id (Jakarta) – Dalam beberapa tahun terakhir, pasar apartemen di Jakarta masih tumbuh secara terbatas, ditandai dengan angka penjualan tahunan yang terus terkoreksi. Malahan, kondisi ini sudah mulai terindikasi sejak sebelum pandemi.

Apartemen segmen menengah ke atas dan segmen premium, saat ini terdeteksi memiliki resiliensi yang cukup stabil cenderung aktif.

Hal ini ditandai dengan lebih dari separuh pasokan baru apartemen di Jakarta berasal dari kelas menengah ke atas sampai premium. Bahkan, dalam tahun ini seluruh stok baru yang masuk berasal dari segmen premium.

Berdasarkan riset Knight Frank Indonesia, total pasokan apartemen di Jakarta hingga Semester I 2026 mencapai 249.107 unit.

Baca Juga: Pasar Apartemen Jakarta Masih Tertekan di Tengah Pergeseran Preferensi Konsumen

Sepanjang Semester I 2026, pasar apartemen Jakarta hanya memperoleh tambahan 360 unit yang berasal dari satu proyek baru di kawasan Prime Non-CBD. Kendati penambahan pasokan relatif terbatas, permintaan pasar tetap menunjukkan tren positif.

Syarifah Syaukat, Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, mengatakan bahwa pasar apartemen Jakarta kini bergerak ke arah yang lebih sehat.

Kenaikan harga dan tingkat penjualan yang terus membaik menunjukkan konsumen semakin selektif dalam memilih hunian, terutama yang menawarkan lokasi strategis, akses transportasi yang baik, serta nilai investasi jangka panjang.

Pasar apartemen Jakarta saat ini tidak lagi hanya mengandalkan kuantitas pasokan, tetapi lebih didorong oleh kualitas proyek dan lokasi.

Baca Juga: Dua Wajah Pasar Apartemen Jakarta di Tengah Menguatnya Permintaan End-User

“Proyek yang memiliki akses transportasi yang baik, berada di kawasan berkembang, serta menawarkan konsep hunian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern memiliki performa yang lebih baik dibandingkan proyek lainnya,” ujar Syarifah.

Data Knight Frank Indonesia menunjukkan rata-rata tingkat penjualan apartemen di Jakarta telah mencapai 96,3%, meningkat sekitar 0,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi harga, rata-rata unit eksisting kini berada di level Rp34,4 juta per meter persegi, naik 0,7% secara tahunan.

Sementara itu, harga rata-rata unit baru tercatat mencapai Rp51,5 juta per meter persegi, atau meningkat 1,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan ini menunjukkan pengembang masih memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian harga, terutama pada proyek yang menawarkan konsep, fasilitas, dan lokasi premium.

Baca Juga: Pasar Apartemen Jakarta Stabil, Segmen Upper–Luxury Jadi Penggerak Utama

Jika dilihat berdasarkan segmen pasar, permintaan terbesar masih berasal dari segmen middle, disusul upper-middle dan high-end.

Hal ini mengindikasikan bahwa pasar kelas menengah tetap menjadi motor utama penjualan apartemen di Jakarta, meskipun minat terhadap proyek premium mulai meningkat.

Pada Semester I 2026, pasar apartemen Jakarta juga mencatat peluncuran dua tower baru, menandai kembali bergairahnya aktivitas pengembangan setelah beberapa tahun berlangsung lebih konservatif.

Knight Frank Indonesia memperkirakan tren tersebut akan terus berlanjut, dengan proyeksi tambahan 2.814 unit apartemen baru yang akan hadir sepanjang Semester II 2026 hingga 2029.

Menariknya, sekitar 89% dari proyek-proyek masa depan tersebut akan berlokasi di Jakarta Selatan, mempertegas posisi kawasan tersebut sebagai pusat pengembangan hunian vertikal baru.

Baca Juga: Resmi Diluncurkan, Two Sudirman Private Residences Siap Jadi Hunian Private Tertinggi di Jakarta

Pasokan Baru Apartemen Jakarta
Tahun PenyelesaianTotal UnitPre-Sales (Unit)Pre-Sales (%)
2H 202638438299,4%
20271.11891181,5%
20281008686,0%
20291.21217314,3%
Total2.8141.55155%

Sumber: Knight Frank Indonesia

Apartemen Terkoneksi Transportasi Publik Makin Dilirik

Infrastruktur yang terus berkembang, akses menuju kawasan bisnis, serta tingginya permintaan menjadi faktor utama yang mendorong pengembang tetap fokus di wilayah ini.

Salah satu tren yang semakin terlihat adalah meningkatnya performa apartemen yang berada di sekitar kawasan Transit Oriented Development (TOD).

Berdasarkan hasil riset Knight Frank Indonesia, proyek yang berlokasi dekat jaringan transportasi publik mampu mencatat pertumbuhan harga sekitar 1% hingga 4%, dengan tingkat penjualan 1% hingga 2% lebih tinggi dibandingkan apartemen pada umumnya.

Menurut Syarifah Syaukat, perubahan preferensi masyarakat terhadap hunian yang terkoneksi dengan transportasi massal menjadi salah satu pendorong utama kinerja proyek-proyek tersebut.

Baca Juga: Leads Property: 45.000 Unit Apartemen di Jakarta Belum Laku Terjual

“Konsumen saat ini semakin memperhatikan kemudahan mobilitas dalam memilih hunian. Kedekatan dengan stasiun MRT, LRT maupun KRL tidak hanya meningkatkan kenyamanan penghuni, tetapi juga memberikan nilai tambah terhadap investasi properti dalam jangka panjang,” jelasnya.

Dari sisi pergerakan harga, sebanyak 29% proyek apartemen eksisting di Jakarta telah melakukan penyesuaian harga selama Semester I 2026. Sementara pada proyek baru, kenaikan harga terjadi pada sekitar 22% proyek.

Kondisi ini menunjukkan pasar masih bergerak secara bertahap dengan mempertimbangkan daya beli konsumen serta kondisi ekonomi yang terus membaik.

Di segmen premium, aktivitas pengembang juga mulai meningkat. Proyek-proyek baru pada kategori high-end kini lebih aktif dipasarkan dibandingkan periode sebelumnya.

Meski demikian, tingkat penyerapannya masih berada di kisaran 1,5% dari total stok selama semester ini, menunjukkan bahwa pasar premium tetap memiliki peluang meskipun pembeli cenderung lebih selektif.

Baca Juga: Pasokan Melimpah, Pengembang Masih Enggan Bangun Apartemen Baru di Jakarta

Secara geografis, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur menjadi dua wilayah dengan tingkat penjualan tertinggi, masing-masing mencapai 0,4% dari total stok yang tersedia.

Kedua kawasan tersebut dinilai memiliki kombinasi ideal antara aksesibilitas, fasilitas perkotaan, serta pengembangan infrastruktur yang terus berlangsung.

Sementara itu, berdasarkan submarket, kawasan Prime Non-CBD menjadi wilayah dengan tingkat serapan tertinggi sebesar 0,6%, diikuti kawasan Non-CBD sebesar 0,2%, dan CBD sebesar 0,1%.

“Tren ini menunjukkan bahwa konsumen kini semakin terbuka terhadap kawasan di luar pusat bisnis yang menawarkan harga lebih kompetitif namun tetap memiliki aksesibilitas yang baik,” pungkasnya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait