Lompat ke konten utama

RealEstat.id

Jababeka (KIJA) Rugi Bersih Rp6,4 Miliar di Semester I 2026, Ternyata Bukan Karena Bisnis Melemah

Pada Semester I 2026, Jababeka mencatat rugi bersih sebesar Rp6,4 miliar, dibandingkan laba bersih sebesar Rp627,6 miliar pada Semester I 2025.
KIJA Jababeka Residence Diminati Warga Investor Korea Korean Day realestat.id dok Semester I 2026
Kawasan Jababeka Residence. (Foto: Dok. Jababeka)

RealEstat.id (Jakarta) – PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (IDX: KIJA) membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp2,43 triliun pada Semester I 2026, turun 11% dibandingkan Rp2,72 triliun pada Semester I 2025.

Pada Semester I 2026, Jababeka juga mencatat rugi bersih sebesar Rp6,4 miliar, dibandingkan laba bersih sebesar Rp627,6 miliar pada Semester I 2025.

Rugi bersih tersebut terutama disebabkan oleh beban non-operasional yang bersifat satu kali (one-off) terkait refinancing Senior Notes Perseroan menjadi pinjaman bank, yang meliputi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen derivatif (lindung nilai/hedging), serta beban amortisasi yang dipercepat terkait Senior Notes yang jatuh tempo pada tahun 2027.

Biaya-biaya tersebut merupakan konsekuensi dari langkah strategis Perseroan dalam melakukan refinancing atas Senior Notes berdenominasi Dolar AS menjadi fasilitas pinjaman bank dalam mata uang Rupiah, yang diharapkan memberikan manfaat keuangan jangka panjang meskipun berdampak sementara terhadap kinerja keuangan Perseroan periode berjalan.

Refinancing dan pelunasan Senior Notes yang jatuh tempo pada tahun 2027 merupakan langkah strategis Perseroan untuk memperkuat struktur permodalan dan profil keuangannya.

Baca Juga: Tetap Solid di Kuartal I 2026, Jababeka (KIJA) Cetak Laba Rp164 Miliar

Transaksi ini memperpanjang jatuh tempo utang melalui fasilitas pinjaman baru bertenor 15 tahun, menyelesaikan refinancing secara proaktif lebih dari 18 bulan sebelum jatuh tempo, memperkuat likuiditas dan fleksibilitas keuangan, mengurangi risiko nilai tukar melalui penyelarasan mata uang pembiayaan dengan mata uang pelaporan Perseroan, serta menurunkan risiko refinancing di tengah volatilitas pasar.

Di luar pos-pos yang bersifat non-berulang tersebut, Jababeka tetap membukukan laba operasional, sebesar Rp524,0 miliar pada Semester I 2026, dibandingkan Rp822,8 miliar pada Semester I 2025.

Penurunan laba operasi selama semester pertama tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya pengakuan pendapatan dari penjualan lahan industri akibat perbedaan waktu pengakuan pendapatan di Kendal, sementara fundamental bisnis Perseroan tetap solid.

Pilar Infrastruktur terus menunjukkan pertumbuhan dengan kenaikan pendapatan sebesar 15% dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga meningkatkan kontribusi pendapatan berulang menjadi 57% dari total pendapatan konsolidasian, dibandingkan 45% pada Semester I 2025.

Hal ini mencerminkan semakin besarnya kontribusi bisnis infrastruktur dan sumber pendapatan berulang Perseroan terhadap struktur pendapatan yang lebih seimbang dan tangguh.

Baca Juga: Jababeka Dapat Pembiayaan Rp1,2 Triliun dari BRI untuk Ekspansi Kawasan Industri Kendal

Kinerja Pilar-pilar Bisnis Jababeka di Semester I 2026

Pendapatan dari Pilar Pengembangan Lahan dan Properti turun 32% menjadi Rp974,9 miliar dari Rp1.442,6 miliar pada Semester I 2025.

Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh pendapatan penjualan lahan industri sebesar Rp783,7 miliar, turun 41% dibandingkan tahun sebelumnya, yang terutama disebabkan oleh perbedaan waktu pengakuan pendapatan di Kendal.

Di sisi lain, penjualan lahan industri dan bangunan pabrik siap pakai meningkat signifikan menjadi Rp94,3 miliar dari Rp18,3 miliar, sementara penjualan lahan dan rumah hunian meningkat menjadi Rp33,7 miliar dari Rp22,7 miliar.

Hal ini mencerminkan permintaan yang tetap sehat terhadap properti industri maupun properti residensial.

Sementara itu, pendapatan dari Pilar Infrastruktur Jababeka meningkat 15% menjadi Rp1,39 triliun pada Semester I 2026 dibandingkan Rp1,22 triliun pada Semester I 2025.

Pertumbuhan tersebut antara lain didorong oleh segmen Listrik, yang meningkat menjadi Rp921,6 miliar dari Rp849,1 miliar, seiring meningkatnya konsumsi listrik tenant di Kendal dan Cikarang.

Baca Juga: Kantongi Pinjaman Jangka Panjang dari Bank Mandiri, Jababeka Refinancing Utang USD185 Juta

Pendapatan dari segmen Jasa dan Pemeliharaan (penyediaan air bersih, pengolahan air limbah, pengelolaan kawasan, dan layanan lainnya) meningkat 39% menjadi Rp347,2 miliar dari Rp250,2 miliar, terutama didorong oleh meningkatnya permintaan dari tenant di Kendal.

Pendapatan Cikarang Dry Port (CDP) meningkat menjadi Rp129,4 miliar dari Rp121,3 miliar, terutama didorong oleh kenaikan volume peti kemas yang ditangani sebesar 13% dibandingkan tahun sebelumnya serta pertumbuhan bisnis logistik pendukung.

Pendapatan berulang yang dihasilkan Pilar Infrastruktur mencapai 57% dari total pendapatan konsolidasian pada Semester I 2026, meningkat dari 45% pada Semester I 2025.

Di sisi ain, pendapatan dari Pilar Leisure & Hospitality relatif stabil sebesar Rp63,4 miliar, didukung oleh kontribusi yang konsisten dari bisnis golf yang menyumbang sekitar 65% dari total pendapatan pilar ini.

Meskipun kontribusinya terhadap total pendapatan Perseroan relatif kecil, stabilitas kinerja pilar ini mencerminkan keberhasilan strategi diversifikasi sumber pendapatan Perseroan.

Baca Juga: Sukses Digelar, Sakura Matsuri 2026 Hadirkan Pesona ‘Little Japan’ di Kota Jababeka

Laba Operasional Turun

Laba bruto konsolidasian tercatat sebesar Rp840,5 miliar pada Semester I 2026 dibandingkan Rp1,11 triliun pada Semester I 2025, dengan marjin bruto sebesar 34% dibandingkan 41% pada periode yang sama tahun lalu.

Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya kontribusi penjualan lahan industri yang secara umum memiliki marjin lebih tinggi, serta meningkatnya kontribusi Pilar Infrastruktur yang memberikan pendapatan berulang yang lebih stabil namun dengan marjin yang lebih rendah dibandingkan penjualan lahan.

Selain itu, segmen Listrik juga mencatatkan marjin yang sementara lebih rendah pada Semester I 2026 akibat faktor operasional yang menurut Perseroan bersifat sementara dan tidak mencerminkan potensi laba jangka panjang segmen tersebut.

Jababeka membukukan laba operasional sebesar Rp524,0 miliar pada Semester I 2026 dibandingkan Rp822,8 miliar pada Semester I 2025.

Penurunan tersebut terutama mencerminkan lebih rendahnya pendapatan lahan industri akibat perbedaan waktu pengakuan pendapatan di Kendal.

Baca Juga: Jababeka Infrastruktur Borong 6 Penghargaan TJSLP/CSR Awards 2026 yang Digelar Pemkab Bekasi

Kendati demikian, Perseroan tetap membukukan laba operasional yang didukung oleh pertumbuhan berkelanjutan bisnis Infrastruktur yang menghasilkan pendapatan berulang.

Manajemen tetap optimistis bahwa portofolio bisnis yang terdiversifikasi serta meningkatnya pendapatan berulang akan terus menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan.

Perseroan mencatat rugi bersih sebesar Rp6,4 miliar pada Semester I 2026. Meskipun tetap membukukan laba pada tingkat operasional, hasil tersebut dipengaruhi oleh beban non-operasional yang timbul dari refinancing Senior Notes Perseroan menjadi pinjaman bank, termasuk rugi selisih kurs sebesar Rp280,7 miliar, kerugian sebesar Rp154,6 miliar atas penghentian instrumen derivatif (lindung nilai/hedging), serta beban amortisasi yang dipercepat atas penebusan (redemption) Senior Notes 2027sebesar Rp24,9 miliar.

Sebagai perbandingan, pada Semester I 2025, Perseroan mencatat rugi selisih kurs sebesar Rp22,5 miliar dan membukukan laba bersih sebesar Rp627,6 miliar.

Adjusted EBITDA Jababeka pada Semester I 2026 mencapai Rp747,7 miliar, turun 25% dibandingkan Rp995,3 miliar pada Semester I 2025, terutama mencerminkan penurunan kinerja operasional sebagaimana dijelaskan di atas.

Baca Juga: Jababeka dan China Silk Road Group Dirikan Innovation Center, Dorong Investasi Indonesia–Tiongkok

Target Marketing Sales Rp3,75 Triliun di 2026

Marketing sales dari Pilar Pengembangan Lahan & Properti mencapai Rp1,18 triliun pada Semester I 2026, atau setara 32% dari target marketing sales Perseroan tahun 2026.

Marketing sales dari Cikarang dan wilayah lainnya (termasuk joint venture) menyumbang 29%, terutama didorong oleh penjualan lahan industri seluas 3 hektare kepada perusahaan tekstil Indonesia dan 0,7 hektare kepada perusahaan importir bahan bangunan asal Tiongkok.

Sementara itu, Kendal menyumbang 71% dari total marketing sales, didukung oleh penjualan lahan seluas 7 hektare kepada produsen baterai serta 9,7 hektare kepada produsen peralatan rumah tangga asal Indonesia.

Target marketing sales Perseroan untuk tahun 2026 sebesar Rp3,75 triliun, yang terdiri atas Rp1,25 triliun dari Cikarang dan wilayah lainnya.

Target ini meliputi Rp800 miliar dari penjualan lahan industri dan bangunan pabrik di Cikarang serta Rp450 miliar dari penjualan properti residensial dan komersial di Cikarang (termasuk joint venture) dan lokasi lainnya, sementara Rp2,5 triliun sisanya diharapkan berasal dari Kendal.

Baca Juga: Serah Terima Jababeka Bizpark Tahap 1, Bukti Nyata Tingginya Kepercayaan Para Pelaku Usaha

“Kinerja kami pada semester pertama mencerminkan semakin besarnya kontribusi bisnis infrastruktur yang menghasilkan pendapatan berulang, yang kini telah menyumbang lebih dari separuh pendapatan konsolidasian Perseroan,” tutur Budianto Liman, Wakil Direktur Utama PT Kawasan Industri Jababeka Tbk.

Meskipun kinerja keuangan pada semester pertama dipengaruhi oleh lebih rendahnya kontribusi bisnis pengembangan lahan dibandingkan semester pertama tahun lalu yang sangat kuat, rugi bersih yang dilaporkan terutama disebabkan oleh biaya satu kali yang bersifat non-operasional berupa rugi selisih kurs dan penghentian instrumen derivatif terkait refinancing Senior Notess.

“Di luar pos-pos yang tidak berulang tersebut, Jababeka tetap mencatatkan laba pada tingkat operasional. Kami terus melihat permintaan yang baik terhadap lahan industri baik di Cikarang maupun Kendal, sembari tetap fokus pada eksekusi yang disiplin di seluruh lini bisnis serta memperkuat basis pendapatan berulang kami,” ujar Budianto Liman.

Ke depan, Jababeka terus berupaya mencapai target marketing sales tahun 2026 sebesar Rp3,75 triliun, di mana hingga akhir semester pertama telah terealisasi sebesar 32%.

Di saat yang sama, Perseroan juga terus memperbesar kontribusi pendapatan berulang melalui Pilar Infrastruktur.

“Manajemen meyakini bahwa permintaan yang berkelanjutan dari tenant industri di kawasan Cikarang dan Kendal akan terus mendukung pertumbuhan jangka panjang pendapatan berulang dari utilitas, logistik, dan layanan pengelolaan kawasan,” tutup Budianto.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait