RealEstat.id (Jakarta) – Pengembangan kawasan industri di Semarang Raya alias Kedungsepur (Kendal, Demak, Semarang, Purwodadi, dan Salatiga) mulai memasuki babak baru.
Kawasan ini tidak lagi dikenal hanya sebagai destinasi manufaktur dengan biaya kompetitif, tetapi mulai berkembang menjadi salah satu koridor industri terintegrasi yang menjanjikan di Indonesia.
Didukung oleh pembangunan infrastruktur yang terus berlanjut, keberadaan dua Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), serta ketersediaan lahan industri yang masih luas, Semarang Raya semakin menarik minat investor.
Investor dari dalam maupun luar negeri menyatakan minatnya untuk masuk ke Kota Atlas ini, kendati sektor manufaktur global masih dibayangi ketidakpastian.
Baca Juga: Kawasan Industri Bergeser ke Timur, Purwakarta dan Subang Jadi Magnet Baru Investasi di 2026
Riset Colliers Indonesia menyebut, sepanjang semester pertama 2026, penyerapan lahan industri di Semarang Raya tetap berada di kisaran 51 hektare.
Permintaan pun semakin beragam, tidak lagi didominasi industri garmen dan tekstil, tetapi mulai bergeser ke sektor-sektor bernilai tambah lebih tinggi seperti elektronik, farmasi, logistik, hingga pusat data (data centre).
Di saat yang sama, persaingan antar kawasan industri juga mengalami perubahan. Keunggulan tidak lagi hanya ditentukan oleh harga lahan, melainkan oleh kesiapan infrastruktur, kualitas ekosistem bisnis, serta layanan yang mampu mendukung kebutuhan investor secara menyeluruh.
Menurut Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, pergeseran ini menunjukkan bahwa pasar kawasan industri mulai bergerak menuju fase pertumbuhan yang lebih berkualitas.
Baca Juga: Pasar Gudang Modern Greater Jakarta Makin Ketat, Tingkat Hunian Tembus 95,8% di Awal 2026
“Guna menjaga daya saing jangka panjang, pengembang kawasan industri perlu terus memperkuat kesiapan infrastruktur, keandalan utilitas, konektivitas logistik, serta pengembangan ekosistem bisnis yang terintegrasi, dibandingkan hanya mengandalkan harga lahan yang kompetitif,” katanya.
Di sisi lain, imbuhnya, penyediaan pabrik siap pakai (ready-built factory) dan gudang modern juga akan semakin penting untuk mengakomodasi kebutuhan investor yang memilih melakukan investasi secara bertahap sebelum membangun fasilitas permanen.
Dengan pembangunan infrastruktur yang terus berlanjut serta berlanjutnya strategi China+1, yakni diversifikasi basis produksi ke negara lain di luar Tiongkok, Semarang Raya berada pada posisi yang semakin kuat untuk menarik investasi manufaktur yang lebih beragam.
“Di samping itu, kawasan ini juga akan menjadi tujuan baru bagi pengembangan infrastruktur digital dalam jangka menengah,” pungkas Ferry Salanto.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








