RealEstat.id (Jakarta) – Pasar properti hotel di Bali mulai memasuki fase pertumbuhan yang lebih selektif.
Setelah mengalami pemulihan sektor pariwisata dalam beberapa tahun terakhir, pelaku industri kini tidak lagi hanya mengejar peningkatan jumlah wisatawan saja.
Akan tetapi mulai berfokus pada penciptaan nilai dan keberlanjutan bisnis.
Meski kunjungan wisatawan mancanegara diperkirakan terus meningkat pada semester kedua 2026, pertumbuhan permintaan hotel diproyeksikan berlangsung secara tidak merata.
Baca Juga: BI Rate Naik Jadi 5,50%, Bagaimana Dampaknya terhadap Properti? Ini Analisis Colliers Indonesia
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Mulai dari ketidakpastian geopolitik global dan kenaikan biaya perjalanan domestik.
“Semakin kuatnya persaingan dari destinasi wisata regional seperti Thailand, Vietnam, Jepang, dan Korea Selatan, juga turut memberi pengaruh terhadap industri perhotelan Bali,” ujarnya.
Investasi Hotel Mewah Masih Menjanjikan
Meski demikian, imbuh Ferry Salanto, pengembangan hotel premium dan resor mewah di Bali masih terus berlangsung.
Tren ini menunjukkan bahwa investor tetap memiliki optimisme terhadap fundamental sektor pariwisata Pulau Dewata.
Terutama, dalam menarik wisatawan internasional dengan tingkat pengeluaran yang lebih tinggi.
Baca Juga: Pasokan Hotel Baru di Bali Didominasi Bintang 5, Ini Daftarnya
Bagi pelaku pasar, kondisi tersebut mencerminkan pergeseran strategi investasi properti.
Dari mengejar volume menuju pembangunan aset hospitality yang memiliki diferensiasi kuat dan mampu menghasilkan nilai jangka panjang.
Keberhasilan sebuah hotel kini semakin ditentukan oleh kemampuannya memilih segmen pasar yang tepat.
Menurut laporan terbaru Colliers Indonesia, hotel yang menawarkan pengalaman menginap autentik, konsep wellness, fasilitas ramah keluarga, hingga layanan yang lebih personal akan memiliki daya saing lebih tinggi dibandingkan hotel yang hanya mengandalkan harga.
Selain meningkatkan tingkat hunian, pendekatan tersebut juga berpotensi menjaga tarif kamar tetap kompetitif sekaligus meningkatkan profitabilitas di tengah persaingan yang semakin ketat.
Baca Juga: Wisata Bali dan Phuket Makin Terhubung, TransNusa Resmikan Rute Internasional Baru
Fokus pada Nilai
Pelaku industri perhotelan dinilai perlu mengubah strategi bisnis dari sekadar mengejar okupansi menuju penguatan positioning dan penciptaan nilai bagi tamu.
Diversifikasi segmen pasar, pengembangan sumber pendapatan di luar penjualan kamar, hingga menghadirkan produk berbasis pengalaman menjadi langkah yang semakin relevan.
Pemanfaatan kekayaan budaya, alam, dan kearifan lokal Bali juga menjadi nilai tambah yang sulit ditiru oleh destinasi lain.
Strategi tersebut diyakini mampu memperkuat daya tarik hotel sekaligus meningkatkan loyalitas wisatawan.
Baca Juga: Wisatawan Asing Meningkat, Perhotelan Indonesia Pulih pada September
Dengan persaingan yang semakin kompetitif, hotel yang mampu beradaptasi terhadap perubahan preferensi wisatawan diperkirakan akan memiliki daya tawar harga yang lebih kuat dan kinerja bisnis yang lebih berkelanjutan.
“Bagi investor properti, kondisi ini menjadi sinyal bahwa prospek pasar hotel Bali tetap menarik,” terang Ferry Salanto.
Namun, lanjutnya, keberhasilan investasi ke depan akan semakin bergantung pada kualitas konsep.
Diferensiasi produk, serta kemampuan aset dalam menciptakan pengalaman yang bernilai bagi tamu juga turut menentukan keberlangsungan bisnis hospitality di Bali.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








