RealEstat.id (Jakarta) – Pasar properti industri di Jabodetabek menunjukkan daya tahan yang solid di tengah dinamika ekonomi global dan penyesuaian rantai pasok regional.
Di saat sejumlah negara menghadapi perlambatan investasi manufaktur, kawasan industri di Jabodetabek dan sekitarnya justru tetap bergerak aktif, ditopang permintaan dari sektor logistik dan manufaktur yang terus ekspansif.
Tren relokasi dan diversifikasi basis produksi di Asia melalui strategi China +1 dan China + many menjadi katalis penting.
Indonesia pun kian dilirik sebagai destinasi investasi alternatif yang menjanjikan, berkat kombinasi pasar domestik yang besar, stabilitas harga lahan, serta dukungan infrastruktur yang semakin matang.
Baca Juga: Pasar Lahan Industri Greater Jakarta Tetap Solid di Tengah Tekanan Pasok
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat menuturkan, masuknya pasokan baru membuat dinamika pasar semakin selektif dan kompetitif.
Dalam beberapa tahun ke depan, suplai lahan industri diprediksi bertambah signifikan, terutama dari submarket di koridor Timur Jakarta.
“Kondisi ini mendorong pengembang untuk semakin adaptif dalam strategi pemasaran dan penetapan harga,” kata Syarifah Syaukat.
Knight Frank Indonesia mencatat, memasuki akhir 2025, serapan lahan industri tercatat kompetitif meski belum menyamai performa tahun 2024.
Baca Juga: Di Tengah Gejolak Global, Pasar Properti Indonesia Diproyeksikan Rebound di 2026
Menurut Syarifah Syaukat, sepanjang tahun 2025, total serapan lahan industri di Jabodetabek mencapai sekitar 318,3 hektare.
Sektor-sektor yang paling aktif menyerap lahan industri di 2025 meliputi:
• Konstruksi (heavy equipment)
• Manufaktur
• FMCG
• EV-related
• Tekstil
Menariknya, sektor EV-related menyumbang sekitar 18% dari total serapan lahan industri di 2025. Bahkan dalam lima tahun terakhir, sektor ini tercatat sebagai penyerap lahan tertinggi, diikuti oleh sektor data center.
“Hal ini menegaskan transformasi industri menuju ekosistem kendaraan listrik dan ekonomi berbasis teknologi sebagai penggerak baru pasar properti industri,” tuturnya.
Baca Juga: Sektor Industri Jabodetabek Kian Solid, Tenant Asal China dan e-Commerce Jadi Motor Utama
Optimisme transaksi di 2025 juga ditandai dengan agresivitas koridor Barat Jakarta, khususnya Serang–Cilegon, yang mendominasi serapan lahan.
Strategi penjualan dengan pendekatan langsung kepada investor, ketersediaan lahan yang luas, harga relatif stabil, serta UMR yang kompetitif menjadi faktor penarik utama.
Di sisi lain, koridor Timur Jakarta tetap menunjukkan daya tarik, terutama Bekasi, Karawang, dan Subang, yang mengalami kenaikan rerata harga lahan akibat tingginya permintaan.
Secara keseluruhan, hingga semester II 2025, total stok kawasan industri di Jabodetabek tercatat sekitar 15.920 hektare, dengan tambahan pasokan baru terutama di koridor Timur.
Adapun submarket Cilegon–Serang dan Bekasi menjadi kawasan yang paling potensial di penghujung 2025.
Sektor konstruksi tercatat sebagai occupier paling aktif pada akhir tahun, sementara secara tahunan sektor EV-related dan manufaktur menjadi penyerap lahan terbesar.
Baca Juga: Sektor Industri Indonesia: Didorong Populasi, Tersandung Regulasi
Sementara itu, Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia, menegaskan bahwa Jabodetabek telah berkembang menjadi ekosistem industri paling matang di Indonesia.
Dukungan infrastruktur yang komprehensif—mulai dari akses pelabuhan, jaringan jalan tol, ketersediaan tenaga kerja, hingga basis permintaan domestik yang kuat—menjadi keunggulan komparatif utama kawasan ini.
Menurutnya, kombinasi faktor tersebut menjadikan Jabodetabek sebagai pilihan strategis bagi investor, baik untuk fase awal investasi maupun ekspansi lanjutan.
Dengan sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga performa kawasan, Jabodetabek dinilai tetap berpeluang memetik pertumbuhan positif meski harus bersaing dalam lanskap industri regional yang semakin kompetitif.
Melihat tren saat ini, prospek pasar properti industri Jabodetabek masih berada di jalur ekspansi, dengan sektor EV, manufaktur berorientasi ekspor, serta data center sebagai motor pertumbuhan baru dalam beberapa tahun ke depan.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








