RealEstat.id (Jakarta) – Dinamika pasar properti global membuat investor tidak hanya mencari aset dengan kenaikan nilai (capital gain) yang tinggi.
Aset properti yang mampu menghasilkan pendapatan berulang (recurring income), mempertahankan penyewa, dan membuka peluang likuiditas juga menjadi pertimbangan utama.
One Grand Eastlakes—shopping centre milik One Global Capital yang berlokasi di Sydney, Australia—menjadi bukti nyata potensi penciptaan nilai (value creation) melalui investasi properti yang strategis.
Diakuisisi pada akhir 2024 senilai AUD19,5 juta, properti komersial ini mengalami kenaikan valuasi menjadi AUD33 juta pada akhir 2025. Angka ini meningkat AUD13,5 juta atau sekitar 69% dari nilai akuisisi awal.
Tren positif ini terus berlanjut pada 2026. CBRE mencatat, nilai properti mencapai AUD38 juta, naik AUD5 juta atau sekitar 15% dibandingkan valuasi di akhir 2025.
Secara keseluruhan, nilai One Grand Eastlakes Shopping Centre telah meningkat AUD18,5 juta atau sekitar 95% sejak akuisisi.
Baca Juga: Pasca Akuisisi dan Rebranding, Valuasi One Global Gallery Melambung
Perkembangan ini mencerminkan potensi apresiasi nilai aset yang signifikan, sekaligus menegaskan pentingnya strategi akuisisi yang tepat dalam mengoptimalkan nilai investasi properti secara berkelanjutan.
Valuasi aset ini telah meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan nilai akuisisi awal dalam waktu kurang dari dua tahun.
Perkembangan tersebut menempatkan pengelolaan aset, kualitas penyewa, dan strategi investasi jangka menengah, sebagai aspek penting dalam investasi properti komersial Australia.

Valuasi Naik, Okupansi Penuh
Bagi Iwan Sunito, Chairman dan Group CEO One Global Capital, perkembangan One Grand Eastlakes—sebelumnya bernama One Global Gallery—berkaitan erat dengan strategi yang dirancang sejak awal akuisisi.
Menurutnya, pencapaian ini menjadi kabar yang menggembirakan bagi perusahaan dan para investor. Sejak awal, pihaknya menyusun strategi dengan mempertimbangkan fundamental aset, potensi pendapatan, serta peluang peningkatan nilai dalam jangka waktu investasi yang terencana.
“Perkembangan valuasi ini menjadi salah satu indikator yang perlu dievaluasi bersama kinerja operasional dan kondisi pasar,” ujar Iwan Sunito.
Selain valuasi, kinerja operasional menjadi bagian penting dari rekam jejak One Grand Eastlakes Shopping Centre.
Tingkat okupansi pusat ritel ini telah mencapai 100%, di mana supermarket ALDI dan Woolworths menjadi penyewa utama.
Tak hanya itu, omzet bulanan Woolworths pun mengalami peningkatan dari sekitar AUD150.000 menjadi lebih dari AUD520.000 sejak awal pengambilalihan.
Mengenai potensi realisasi nilai aset tersebut, Rob Pignataro, Managing Agent Strathfield Partners—yang mendapat kepercayaan memasarkan dan menjual One Grand Eastlakes—menyoroti keunikan pusat perbelanjaan ini.
Menurutnya, sangat jarang sebuah pusat perbelanjaan dengan luas 3.300 m² memiliki penyewa berkualitas tinggi (triple-A tenants) seperti Aldi, Australia Post, dan Woolworths.
“Dengan karakteristik dan kualitas penyewa tersebut, estimasi nilai pasar properti ini berkisar AUD40 juta hingga AUD46 juta,” ujar Rob Pignataro.
Baca Juga: Setahun Akuisisi, One Global Capital Bagikan Dividen Perdana Sebesar AUD1,8 Juta
Tawarkan Opsi Strategis
Rencana divestasi merupakan bagian dari mandat investasi (investment mandate) yang telah ditetapkan sejak awal.
Periode kepemilikan selama tiga tahun bertujuan untuk merealisasikan nilai investasi dan mengembalikan modal kepada para investor (sell and return).
One Grand Eastlakes Shopping Centre dirancang sebagai investasi dengan horizon kepemilikan hingga akhir 2027.
Seiring dengan perkembangan valuasi aset dan prospek realisasi nilai yang semakin terbuka, One Global Capital kini mempertimbangkan sejumlah opsi strategis bersama para pemegang saham untuk menentukan langkah yang paling optimal bagi kepentingan investor.
Selain opsi penjualan, perusahaan juga membuka kemungkinan memperpanjang periode kepemilikan hingga satu tahun.
Opsi ini dapat menjadi pertimbangan bila para pemegang saham menilai tambahan waktu berpotensi memberikan ruang untuk mengoptimalkan nilai aset dan investasi.
Baca Juga: Transformasi Besar One Global Capital: Dari Pengembang ke Platform Investasi Real Estat Dunia
Pada akhirnya, keputusan untuk merealisasikan keuntungan melalui penjualan atau mempertahankan aset untuk periode yang lebih panjang, berdasarkan pada evaluasi menyeluruh terhadap prospek pendapatan, harga jual yang realistis, biaya transaksi, serta potensi hasil bersih yang dapat didistribusikan kepada investor.
Pendekatan ini menegaskan bahwa strategi investasi One Global Capital tidak hanya berorientasi pada peningkatan valuasi aset, tetapi juga pada optimalisasi realisasi nilai dan pengembalian investasi bagi para pemegang saham.

One Five Dock Menyusul
Dampak dari kinerja One Grand Eastlakes Shopping Centre tidak hanya tercermin pada perkembangan valuasi.
Menurut Iwan Sunito, pihaknya kini mulai mendapat banyak pertanyaan dari calon investor mancanegara, seperti dari Timur Tengah ataupun Amerika Serikat. Umumnya, mereka tertarik menjajaki peluang investasi bersama One Global Capital.
“Kesuksesan One Grand Eastlakes Shopping Centre telah memancing ketertarikan dari calon investor lintas negara,” katanya. Mereka mulai menghubungi kami untuk mencari tahu peluang investasi berikutnya.”
Baca Juga: Bangun Hotel Mewah, One Global Capital Akuisisi Lahan di Macquarie Park Senilai Rp181 Miliar
Iwan menuturkan, ini bukan sekadar tentang kenaikan valuasi, tetapi juga membangun kepercayaan melalui strategi akuisisi, pengelolaan aset, dan penciptaan nilai yang terukur.
Ketertarikan tersebut menjadi salah satu pertimbangan One Global Capital dalam mempersiapkan gebrakan berikutnya. Salah satunya dengan rencana peluncuran proyek terbaru di Sydney, One Five Dock, pada pertengahan 2027.
“Kami melihat adanya peluang untuk membawa momentum ini ke tahap berikutnya melalui One Five Dock. Kami ingin memberikan kesempatan kepada para investor untuk menjajaki peluang baru, dengan tetap mengedepankan fundamental aset dan disiplin investasi,” tambahnya.
Bagi perusahaan, langkah ini bukan semata-mata memperluas portofolio, melainkan membangun kesinambungan strategi investasi yang bertumpu pada pemilihan aset, pengelolaan yang disiplin, dan penciptaan nilai jangka panjang.
Iwan menjelaskan, kepercayaan investor tidak dibangun hanya melalui proyeksi, tetapi melalui kemampuan menunjukkan bagaimana sebuah strategi dijalankan dan nilai diciptakan.
“One Grand Eastlakes menjadi bagian dari perjalanan tersebut, sementara One Five Dock merupakan langkah berikutnya yang kami tahun depan,” tuturnya.
Baca Juga: Sydney tetap Jadi Magnet bagi Investor dan Pelaku Bisnis Global, Iwan Sunito Ungkap Alasannya
Prospek Properti Komersial Australia
One Grand Eastlakes berkembang di tengah pasar properti komersial Australia yang tetap menarik, meskipun kondisi perekonomian global masih dinamis.
Mengutip data CBRE Australia, investasi properti komersial Australia pada semester pertama 2026 meningkat 16% secara tahunan menjadi AUD19 miliar.
Di sektor ritel, pusat perbelanjaan yang melayani kebutuhan sehari-hari, memiliki karakteristik yang berbeda dibanding yang menawarkan hiburan dan gaya hidup.
Kehadiran tenant supermarket dan penjual kebutuhan pokok, berpotensi mendukung arus kunjungan yang relatif konsisten.
Meski demikian, kinerja setiap aset tetap tak terlepas dari faktor lokasi, persaingan, kondisi penyewa, dan struktur sewa.
Bagi investor Indonesia yang mempertimbangkan diversifikasi ke luar negeri, memahami karakteristik aset dan risiko pasar menjadi sama pentingnya dengan melihat potensi apresiasi modal.
Lantas, mengapa properti ritel berbasis komunitas menarik bagi investor Indonesia? Fitri Hilman, Director Commercial Services, Savills Indonesia, menilai segmen ini layak dicermati karena didukung oleh kebutuhan sehari-hari masyarakat dan potensi pendapatan sewa yang berulang (recurring income).
Dalam menilai properti ritel berbasis komunitas (community retail asset), investor perlu melihat lebih dari sekadar lokasi.
Kualitas dan keberlanjutan bisnis penyewa, kesesuaian tenant mix dengan kebutuhan masyarakat sekitar, tingkat okupansi, serta potensi pertumbuhan pendapatan sewa menjadi faktor penting.
“Bagi investor Indonesia yang melakukan ekspansi ke pasar Australia, aset seperti ini menawarkan peluang memperoleh pendapatan sewa yang relatif stabil. Syaratnya, harus didukung oleh fundamental lokasi dan pengelolaan aset yang baik,” ujar Fitri Hilman.
Berdasarkan perspektif tersebut, daya tarik investasi lintas negara tidak seharusnya dinilai hanya dari kenaikan valuasi.
“Investor juga perlu memahami risiko nilai tukar, biaya pendanaan, pajak, biaya pengelolaan, serta likuiditas saat aset akan dijual,” pungkasnya.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








