RealEstat.id (Medan) – Sektor properti nasional dinilai akan mulai memasuki fase pemulihan di tahun 2026 ini. Optimisme ini disampaikan oleh Chairman Samera Group, Adi Ming E, saat berbincang dengan awak media beberapa waktu lalu.
“Keyakinan ini sejalan dengan pandangan sejumlah pakar ekonomi yang menilai berbagai indikator makroekonomi kian membaik, ditopang keberlanjutan kebijakan pemerintah yang pro terhadap sektor perumahan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Adi Ming E mengatakan bahwa tahun 2026 sebagai momentum kebangkitan sektor properti yang telah lama dinantikan.
Dia menyebut 2025 sebagai tahun yang penuh tantangan, namun sekaligus menjadi fase konsolidasi bagi para pelaku industri.
Baca Juga: Samera Group Resmikan Rumah Contoh Damara 2 di Kawasan Bebas Banjir Samera Djohor
“Kami melihat 2026 sebagai titik balik. Banyak pakar juga menilai kepercayaan konsumen mulai pulih dan pergerakan pasar semakin sehat,” kata Adi.
Optimisme tersebut kian diperkuat dengan kebijakan pemerintah yang memperpanjang insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) properti hingga 31 Desember 2026.
Kebijakan ini dinilai memberikan ruang bagi pengembang untuk lebih inovatif dalam menghadirkan produk hunian.
“Inovasi tidak lagi sekadar gimmick penjualan, melainkan diwujudkan melalui peningkatan fasilitas, kualitas bangunan, serta spesifikasi unit,” paparnya.
Terkait properti sebagai instrumen investasi, termasuk untuk menandingi emas, Adi Ming E menilai tren tersebut belum menunjukkan pergeseran signifikan.
Baca Juga: Melesat, Kenaikan Harga Rumah di Medan Salip Jakarta dan Surabaya
Berdasarkan data internal perusahaan, imbuhnya, pembelian rumah masih didominasi oleh kebutuhan untuk dihuni, bukan semata spekulasi investasi.
“Meski demikian, dengan pemilihan lokasi yang tepat, pengelolaan kawasan yang baik, serta komitmen layanan purnajual, properti tetap memiliki potensi pertumbuhan nilai aset yang menjanjikan dalam jangka panjang,” ungkapnya.

Hadirkan Hunian Relevan, Adaptif, dan Bebas Banjir
Pada kesempatan tersebut, Adi Ming E menegaskan bahwa Samera Group merupakan developer yang berani meluncurkan produk perumahan dalam berbagai kondisi pasar.
Keberanian ini didasarkan pada keyakinan bahwa kebutuhan hunian masih sangat tinggi dan belum sepenuhnya diimbangi oleh ketersediaan unit.
Baca Juga: 5 Tips Membangun Rumah Anti Banjir
“Dengan memahami perubahan gaya hidup dan kebutuhan masyarakat urban, Samera Group berupaya menghadirkan hunian yang relevan dan adaptif,” tuturnya.
Tak hanya itu, Samera Group percaya diri mengangkat tagline ‘Perumahan Bebas Banjir’ pada kawasan hunian di Samera Djohor.
Dia mengungkapkan bahwa isu banjir bukan sekadar narasi pemasaran, melainkan komitmen fundamental dalam perencanaan kawasan.
“Kami tidak ingin menjual janji, tetapi menghadirkan kepastian hunian yang aman dan nyaman untuk puluhan tahun ke depan. Dan ketika kemarin ujian banjir itu datang, masyarakat merasakan buktinya,” terang Chairman Samera Group ini.
Dia menjelaskan, seluruh proyek perumahan Samera Group dirancang dengan standar yang sama terkait mitigasi banjir.
Baca Juga: Harga Rumah di Medan Meroket, Apa Faktor Penyebabnya?
Bahkan, kawasan hunian Samera Group tidak tergenang air, sekalipun banjir besar melanda Sumatera Utara beberapa waktu lalu.
Menurut Adi, pendekatan ini dilakukan melalui kajian historis kawasan serta perhitungan teknis yang matang sejak tahap awal pengembangan.
Dari sisi teknis, perhatian utama Samera Group terletak pada pemilihan elevasi lahan dan sistem drainase yang terintegrasi.
Dia mengatakan, kesalahan dalam menentukan dua aspek tersebut akan berdampak panjang terhadap kualitas hunian dan kenyamanan penghuni.
“Oleh karena itu, seluruh infrastruktur disiapkan bukan untuk kebutuhan sesaat, melainkan untuk penggunaan jangka panjang hingga lintas generasi,” pungkas Adi Ming E.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








