Metode SCAMPER: Agar Proyek Perumahan Laris Manis

Metode SCAMPER akan membantu pengembang perumahan dalam menemukan ide-ide baru dengan cara sederhana untuk menghasilkan inovasi produk.

Kris Banarto (Foto: Dok. RealEstat.id)
Kris Banarto (Foto: Dok. RealEstat.id)

RealEstat.id (Jakarta) - Dalam sebuah perusahaan pengembang properti, Research and Development (R&D) mempunyai peranan penting untuk mengembangkan produk unggul dan unik. Tanpa mengembangkan, maka produk properti seperti perumahan tidak akan mampu bersaing di pasar.

Di sisi lain, produk tanpa riset dan pengembangan tidak akan dapat memuaskan konsumen. Padahal, kepuasan konsumen menjadi penentu kinerja penjualan yang bermuara pada keuntungan perusahaan.

Untuk dapat secara terus menerus melakukan inovasi produk, dibutuhkan kreativitas karyawan baik yang berada di bagian R&D maupun di bagian produksi.

Baca Juga: Penting: Penerapan Marketing Mix 7P untuk Properti

Metode SCAMPER
Metode yang dapat dilakukan developer perumahan untuk mengembangkan kreativitas adalah dengan metode SCAMPER: Substitute, Combine, Adapt, Modify, Put to Another Use, Eliminate, dan Reverse. Metode SCAMPER akan membantu pengembang perumahan dalam menemukan ide-ide yang baru dengan cara yang sederhana. Ide itu berguna untuk menghasilkan inovasi produk baru dan menerapkannya.

Salah satu organisasi bisnis yang membutuhkan inovasi terus menerus (continous innovation) adalah industri properti. Kenapa? Karena perilaku konsumen cukup dinamis, ditambah dengan persaingan yang ketat antar sesama pengembang.

Seperti diketahui industri properti mempunyai multiplier effect terhadap 175 sektor, mulai dari semen, pasir, keramik, besi, baja, kayu, aluminium, keramik, paving, genteng, sampai dengan paku. Dengan demikian, dalam ekosistem bisnis ada keterikatan yang saling berhubungan antara ekonomi dan industri properti. Kondisi ekonomi meningkat maka industri properti bertumbuh sebaliknya industri properti bergairah maka ekonomi menggeliat.

Baca Juga: 5 Langkah Penting Studi Kelayakan Proyek Perumahan

Berikut ini contoh sederhana penerapan metode SCAMPER dalam proyek perumahan:

1. Substitute (Mengganti)
Substitusi dapat berarti mengganti beberapa hal, misalnya komponen produk, bahan-bahan, material dan mesin. Penggantian tersebut dilakukan setelah mempelajari produk pesaing dan mempelajari tren yang ada.

Misalnya, dalam hal spesifikasi bangunan, mengganti bata merah dengan bata ringan, yang mempunyai kelebihan, tidak membebani struktur bangunan, lebih presisi sehingga dinding menjadi rapi dan tahan terhadap getaran.

Kemudian rangka atap dan kusen dari kayu sudah ditinggalkan dan memakai baja ringan. Untuk rumah dengan harga mahal mengganti keramik dengan marmer.

2. Combine (Menggabungkan)
Lakukan penggabungan atau kombinasi produk. Saat ini banyak pengembangan yang menambah fasilitas di dalam cluster. Misalnya konsep apartemen diterapkan di perumahan.

Ukuran rumah tidak terlalu besar, hanya 2 atau 3 kamar tidur. Tetapi di dalam cluster dilengkapi dengan fasilitas yang lengkap layaknya apartemen. Fasilitas tersebut misalnya kolam renang, lintasan lari, taman bermain. Dengan demikian penghuni akan betah, dan serasa tinggal di apartemen.

Baca Juga: Strategi Promosi Pengembang Properti saat Wabah COVID-19

3. Adapt (Beradaptasi)
Artinya adaptasikan produk atas tuntutan pelanggan dengan cara mengubah konsep produk. Untuk mengetahui keinginan konsumen, sebaiknya lakukan penelitian atas keinginan konsumen.

Sekarang ini banyak konsumen dari kalangan milenial dan wanita. Kenapa wanita? Karena mereka yang biasa mengatur rumah dan perabotan di dalamnya.

Desain gaya minimalis menjadi pilihan karena simpel, elegan dan mudah untuk mengatur perabotan. Juga bangunan dominan menggunakan kaca, agar cahaya memadai.

Atap bangunan dibuat tinggi untuk memberikan kecukupan oksigen di dalam ruangan, dan didukung dengan jendela dan ventilasi untuk sirkulasi udara.

4. Modify (Memodifikasi)
Metode untuk memodifikasi produk misalnya ukuran, bentuk, kemasan dan warna. Modifikasi dalam perumahan menyangkut layout di dalam rumah.

Sekarang ini bentuk tanah cenderung melebar. Misalnya, dari ukuran luas tanah 96 meter dengan ukuran klasik (6x16 meter) telah mengalami perubahan dimensi, dengan luas tanah yang sama tetapi dibuat ukuran menjadi 7x13,7 meter atau 8x12 meter. Dimensi tanah yang melebar ini membuat suasana lega dan tampak depan (fasad) terlihat lebih luas dan mewah.

Baca Juga: Ini Dia, Lima Kelemahan Bangunan di Indonesia

5. Put to Another Use (Gunakan untuk Penggunaan Lain)
Maksudnya dapat memanfaatkan produk untuk digunakan kepada hal berbeda, selain dari penggunaan yang sudah ada. Dengan demikian, produk dapat digunakan secara multifungsi.

Berbicara mengenai proyek perumahan, apakah bisa dibuat konsep selain sebagai rumah tinggal juga dapat digunakan untuk vila atau tempat istirahat. Dengan demikian pengembang dapat membuat alternatif pengembangan bangunan, misalnya lahan untuk dibuat taman atau gazebo.

Konsep perumahan bernuansa vila, memerlukan sisa tanah yang luas dan fasilitas pendukung agar penghuni betah, misalnya arena bermain anak, kolam renang dan tempat fitness.

6. Eliminate (Menghilangkan)
Menghilangkan atau menyederhanakan elemen-elemen suatu produk. Tujuannya, agar harga dapat bersaing atau dapat diserap pasar.

Hal ini dapat dilakukan dengan menurunkan spesifikasi bangunan, membuat tipe rumah ukuran kecil, ukuran tanah kecil tetapi dibuat dua lantai, mengurangi lebar jalan, dan sebagainya.

Mengurangi ukuran tanah di industri properti dilakukan, mengingat harga tanah sudah semakin tinggi, terutama di kota-kota besar. Bahkan ada beberapa developer menjual rumah dengan luas tanah 60 m2.

Baca Juga: Pilihan Investasi yang Aman Saat Krisis Pandemi COVID-19

7. Reverse (Membalik)
Melakukan reverse dengan cara mengatur ulang apa yang sudah dilakukan. Proses bisnis diatur ulang agar lebih cermat dalam menyusun rencana dan melakukan eksekusi.

Dalam industri perumahan dapat dilakukan dengan membuat konsep kluster secara matang. Contohnya, menentukan segmentasi, targeting dan positioning, diimplementasi ke dalam konsep cluster, harga jual, luas tanah dan bangunan, spesifikasi dan desain rumah.

Kemudian desain gerbang cluster dan pagar, infrastruktur jalan dan saluran, lebar jalan, taman dan fasilitas umum/sosial. Jaringan telepon, air, internet, CCTV, TV kabel, dan sebagainya.

Kris Banarto, MM, CPM (Asia), CPHRM adalah praktisi bisnis properti, pemerhati etika bisnis dan blogger yang saat ini menjabat sebagai General Manager Sales & Marketing Gapuraprima Group. Artikel ini adalah pendapat pribadi penulis.

Berita Terkait

Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)
Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)
Miftahul Ulum (Foto: Dok. Pribadi)
Miftahul Ulum (Foto: Dok. Pribadi)
Kris Banarto (Foto: Dok. RealEstat.id)
Kris Banarto (Foto: Dok. RealEstat.id)
Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)
Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)