Kinerja Properti Asia Tenggara Tumbuh Pesat Satu Dekade ke Depan, Apa Indikasinya?

Faktor pendorong positif meliputi peningkatan urbanisasi yang didorong oleh transformasi digital, regionalisasi perdagangan, institusionalisasi real estat, dan keberlanjutan.

Hanoi, Vietnam (Foto: Pixabay.com)
Hanoi, Vietnam (Foto: Pixabay.com)

RealEstat.id (Jakarta) – Kawasan Asia Tenggara diperkirakan akan menjadi salah satu kontributor pertumbuhan perekonomian global, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 4,7% di tahun 2023.

Angka ini mendekati tingkat pertumbuhan rata-rata Asia Tenggara sebelum pandemi, yakni sekitar 5% per tahun. Demikian laporan Southeast Asia Outlook 2023 yang dirilis konsultan properti global Cushman & Wakefield, Selasa (9/5/2023).

Dengan prospek yang terbilang menjanjikan ini, pasar properti di kawasan Asia Tenggara diprediksi bakal pulih di tahun 2023 ini dan akan menunjukkan kinerja yang kuat dalam satu dekade ke depan.

Baca Juga: Investasi Properti Komersial di Asia Pasifik Turun 27%, Apa Penyebabnya?

Pendorong utama pemulihan sektor properti Asia Tenggara salah satunya adalah dibukanya kembali China setelah pandemi.

Hal ini ditengarai menjadi faktor pendorong bagi kawasan Asia Pasifik dengan Asia Tenggara sebagai penerima manfaat utama. Sebagai imbasnya, akan terjadi pertumbuhan perdagangan dan ekonomi yang lebih kuat di seluruh Asia Tenggara.

Anshul Jain, Head of Asia Pacific Tenant Representation and Managing Director Cushman & Wakefield India & Southeast Asia mengatakan, kendati laju pertumbuhan ekonomi berbeda-beda di pasar, ekonomi Asia Tenggara sangat besar dan memiliki populasi terbesar ketiga setelah China dan India.

Baca Juga: 2023, Volume Investasi Properti Asia Pasifik Diprediksi Turun 10%, Perhotelan Justru Naik 6%

"Memanfaatkan tren perdagangan global dan lingkungan geopolitik saat ini, Asia Tenggara menawarkan beragam kesempatan investasi sebagai daerah yang tumbuh pesat," katanya.

Anshul menyoroti dampak positif dari pembukaan kembali China terhadap Asia Tenggara. Menurutnya, pembukaan kembali China adalah katalis bagi ekonomi Asia Tenggara mengingat China adalah tujuan ekspor utama.

'Permintaan konsumsi yang lebih tinggi dari China memberi harapan baik bagi investasi komersial, industri, dan residensial di wilayah tersebut. Aset hotel dan ritel juga dapat melihat peningkatan terkuat dalam jangka pendek karena adanya dorongan pariwisata yang kuat," katanya.

Baca Juga: Yuk Intip Kantor Baru Raja Charles III di Istana Buckingham

Laporan Cushman & Wakefield juga mengidentifikasi faktor penggerak positif lain yang akan berkontribusi pada pertumbuhan pasar Asia Tenggara dalam dekade mendatang:

• Peningkatan urbanisasi yang didorong oleh transformasi digital, yang akan menciptakan peluang pasar besar yang akan mendorong permintaan properti di Asia Tenggara.

• Peningkatan regionalisasi perdagangan dan diversifikasi rantai pasokan ke Asia Tenggara, yang akan mendorong investasi, terutama di ruang logistik dan industri.

Baca Juga: Transparansi Sektor Properti Asia Pasifik Meningkat, Indonesia Masuk Kategori Semi-Transparan

• Potensi percepatan institusionalisasi real estat di pasar Asia Tenggara yang berkembang sebagai kebijakan pembangunan, kemudahan berbisnis, dan efektivitas pemerintah membaik, terutama di Vietnam dan Indonesia.

• Keberlanjutan dilihat sebagai peluang yang meningkat di Asia Tenggara ketika ekonomi utama Asia Tenggara menetapkan target "bangunan hijau". Menurut Laporan Southeast Asia’s Green Economy 2022, pasar bangunan hijau dapat bernilai USD20 - USD25 miliar pada tahun 2030.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terkait

SKYE Suites Hotel Green Square, Sydney (Foto: Dok. Crown Group)
SKYE Suites Hotel Green Square, Sydney (Foto: Dok. Crown Group)
ONE Macquarie Park (Foto: Dok. ONE Global Capital)
ONE Macquarie Park (Foto: Dok. ONE Global Capital)