Kenaikan Biaya Konstruksi Tidak Akan Matikan Pasar Apartemen Indent di Australia

Investor kembali masuk ke pasar apartemen Australia, karena harga sewa yang meningkat dapat mengimbangi kenaikan suku bunga.

Properti di Sydney, Australia (Foto: Pixabay.com)
Properti di Sydney, Australia (Foto: Pixabay.com)

RealEstat.id (Jakarta) – Konsumen properti Australia harus bersiap menghadapi kenaikan harga apartemen secara progresif dalam beberapa tahun ke depan. Sementara itu, di sisi lain, keterbatasan pasokan bahan baku dan kekurangan tenaga kerja tetap terjadi.

"Kami melihat peningkatan persentase dua digit dalam biaya pembangunan apartemen baru setiap tahun di masa mendatang,” kata Iwan Sunito, Komisaris dan CEO Crown Group, pengembang properti yang berbasis di Sydney, Australia, menanggapi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Australia di awal Mei 2022.

Menurut Iwan Sunito, investor kembali masuk ke pasar apartemen Australia, karena harga sewa yang meningkat. Dan hal ini memungkinkan mereka mengimbangi kenaikan suku bunga.

Baca Juga: Pintu Internasional Dibuka, Pasar Apartemen di Australia Hadapi Masalah Serius

Ketersediaan unit apartemen ‘off the plan’ (indent) dan apartemen yang sudah selesai dibangun  semakin berkurang dari hari ke hari. Hal ini merupakan tanda bahwa owners-occupiers dan investor sangat aktif di pasar saat ini.

Dia menjelaskan, sangat masuk akal jika konsumen membeli properti sekarang, untuk menghindari kenaikan harga dua digit karena meningkatnya biaya konstruksi dan material, ditambah keterbatasan tenaga kerja.

Terutama bagi investor properti mancanegara, dari China dan Indonesia, yang ingin mendapatkan stok unit apartemen yang sudah rampung sebagai investasi properti melalui penawaran harga yang ‘terjangkau.

Baca Juga: Pandemi, Harga Properti Australia Justru Naik Melebihi Prediksi

“Itulah sebabnya saya percaya bahwa saat ini adalah waktu terbaik untuk melakukan pembelian properti pascapandemi, Pasalnya, pasar properti Australia, terutama Sydney, tidak pernah berhenti bergerak maju,” kata Iwan.

Lebih lanjut, pria kelahiran Surabaya ini menuturkan, masyarakat Indonesia adalah komunitas investor terbesar kedua bagi Crown Group yang telah merasakan keuntungan besar investasi properti Australia, terutama di Sydney.

“Mereka (investor) yang sedang mempertimbangkan untuk mengakuisisi unit apartemen, harus bertindak sekarang dengan membeli dari pengembang apartemen terpercaya dengan rekam jejak yang jelas dan membangun tepat waktu. Dengan bertindak sekarang, mereka mengunci harga hari ini. Hal itu memungkinkan mereka untuk terus menabung untuk pembelian berikutnya di masa mendatang,” jelas Iwan.

Baca Juga: Crown Group: Terkait Kredit Properti, Perbankan Indonesia Bisa Tiru Australia

Sedikit berbeda dengan tipe pembeli home occupiers. Meskipun harga  akan meningkat, namun kebutuhan akan hunian akan tetap ada. Pasalnya, dengan penduduk yang semakin bertambah, Australia masih mengalami housing shortage.

Saat ini jumlah penduduk Australia adalah 26.063.139 jiwa dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 1% setiap tahunnya. Menurut data dari Treasury.gov.au dengan tren saat ini jumlah penduduk Australia diprediksi akan mencapai 35,9 juta jiwa pada tahun 2050.

Dampak penutupan perbatasan internasional terkait pandemi COVID-19, mengakibatkan penurunan jumlah migrasi selama enam kuartal secara berturut-turut. Pertumbuhan penduduk selama 12 bulan terakhir sepenuhnya disebabkan oleh peningkatan alami (penambahan 136.200 jiwa), sementara migrasi dari luar negeri negatif (berkurang 67.300 jiwa) selama periode tersebut.

Baca Juga: Crown Group: Pemilik Apartemen di Australia Tetap Pegang Sertifikat Fisik

Berdasarkan Biro Statistik Australia, pada akhir Juni 2019, 88.740 orang kelahiran Indonesia tinggal di Australia, 29,4% lebih banyak dari jumlah (68.570) pada 30 Juni 2009. Ini adalah salah satu komunitas migran terbesar di Australia, setara dengan 1,2% komunitas migran Australia dan 0,3% dari total populasi Australia.

Pembeli potensial telah memperkirakan kenaikan tarif untuk beberapa waktu dan telah mengantisipasinya dengan memiliki tabungan tambahan, dikarenakan pandemi dan pengetatan ikat pinggang. Diperkirakan bahwa rumah tangga Australia berhasil menghemat sekitar Rp1.400 triliun selama pandemic Covid-19.

“Pasokan hunian yang terbatas dan peningkatan jumlah pembeli berarti banyak konsumen yang tidak sanggup memiliki rumah tapak dan  unit apartemen adalah pilihan yang lebih terjangkau. Iwan Sunito meyakini skenario ini hanya akan semakin parah dalam dua tahun ke depan dimana akan lebih banyak unit apartemen yang akan terjual dibandingkan rumah tapak,” pungkas Iwan Sunito.

Redaksi@realestat.id

Berita Terkait

SKYE Suites Hotel Green Square, Sydney (Foto: Dok. Crown Group)
SKYE Suites Hotel Green Square, Sydney (Foto: Dok. Crown Group)
Rumah dua lantai hasil cetak 3D di Houston (Foto: dok. HANNAH)
Rumah dua lantai hasil cetak 3D di Houston (Foto: dok. HANNAH)
Bangunan termahal di dunia (Foto: istimewa)
Bangunan termahal di dunia (Foto: istimewa)
Singgasana Raja Charles III di Istana Buckingham. (Foto: rct.uk/bbc)
Singgasana Raja Charles III di Istana Buckingham. (Foto: rct.uk/bbc)