Insentif PPN DTP Jadi Preferensi Konsumen Apartemen Jabodetabek, Tapi Tak Signifikan

Dibandingkan dengan daerah lain, area sekunder menunjukkan pertumbuhan yang lebih mencolok, dengan kenaikan harga sebesar 3,9% (YoY) dan 0,9% (QoQ).

Apartemen di Jakarta. (Foto: realestat.id)
Apartemen di Jakarta. (Foto: realestat.id)

RealEstat.id (Jakarta) – Pergerakan pasar apartemen di Jabodetabek masih terlihat lambat di Kuartal I 2024. Pada tingkat tertentu, hal ini dipengaruhi oleh pesta politik lima tahunan: pemilihan umum dan presiden.

Konsultan properti Cushman & Wakefield Indonesia menyebut, tidak ada proyek apartemen baru yang diluncurkan di Jabodetabek selama kuartal pertama 2024. Tercatat, hanya ada satu proyek apartemen yang rampung, yakni Cleon Mansion di Jakarta Garden City, Jakarta Timur.

Penyelesaian proyek ini menambah 310 unit apartemen ke pasar, sekaligus menjadikan total pasokan kumulatif apartemen di Jabodetabek mencapai 384.640 unit.

Baca Juga: Tiga Kawasan ini Rajai Pasokan Apartemen Jabodetabek di 2024

Angka ini mencerminkan peningkatan pasokan apartemen di Jabodetabek sebesar 0,08% secara kuartalan (QoQ) dan peningkatan 2,7% secara tahunan (YoY).

"Diperkirakan, pasar apartemen di Jabodetabek akan tetap lemah hingga akhir tahun 2024 ini. Sementara, pasar diprediksi juga akan menghadapi terbatasnya pasokan baru," kata Arief RahardjoDirector of Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia.

Di sisi lain, imbuhnya, penerapan insentif PPN DTP diperkirakan akan mempengaruhi preferensi konsumen terhadap proyek yang sudah selesai dan siap ditempati.

Cushman & Wakefield Indonesia mencatat, penjualan apartemen di wilayah Jabodetabek di Kuartal I 2024 tetap stabil, dengan tingkat penjualan sebesar 93,8%. Angka ini menunjukkan sedikit peningkatan tahunan sebesar 0,6%.

Baca Juga: Apartemen Jabodetabek: Penjualan Melemah, Pasar Sewa Justru Menarik

"Secara bersamaan, tingkat hunian (okupansi) mengalami peningkatan sebesar 2,3% dari kuartal sebelumnya, yakni mencapai 60,6%," ungkap Arief Rahardjo.

Dengan terbatasnya pasokan, pra-penjualan proyek apartemen yang direncanakan meningkat sebesar 2,7% menjadi 60,4%, menyisakan sekitar 39.000 unit inventaris di masa depan belum terjual.

Proyek segmen menengah ke bawah hingga menengah terus mendominasi aktivitas pra-penjualan, dengan menyumbang 68% dari total transaksi. KPR dan transaksi tunai tetap menjadi metode pembayaran utama.

Kendati demikian, insentif PPN DTP tidak memberikan dampak besar pada pasar apartemen, karena pengembang menunda pengadopsian insentif tersebut dan pengumuman perpanjangan regulasi tersebut hingga Februari tidak memberikan urgensi untuk implementasi insentif tersebut.

Baca Juga: Tiga Sektor Properti Paling Diminati di Kuartal IV 2023: Riset JLL Indonesia

Pada kuartal pertama tahun 2024, pertumbuhan harga rata-rata apartemen Jabodetabek terlihat masih moderat, dengan peningkatan sebesar 0,6% (QoQ) dan 2,3% (YoY), mencapai Rp48.500.000 per meter persegi.

Data Cushman & Wakefield memperlihatkan, daerah CBD mengalami peningkatan sebesar 2,4% (YoY), sementara lokasi utama mengalami lonjakan sebesar 1,2% (YoY).

Sementara itu, dibandingkan dengan daerah lain, area sekunder menunjukkan pertumbuhan yang lebih mencolok, dengan kenaikan harga sebesar 3,9% (YoY) dan 0,9% (QoQ).

"Untuk beradaptasi dengan kondisi pasar, para pengembang telah menerapkan strategi seperti menawarkan paket furnitur lengkap, insentif, dan syarat pembayaran yang fleksibel untuk menarik pembeli dan merangsang penjualan," kata Arief.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terkait

Interior Apartemen Verde Two, Jakarta. (Foto: Realestat.id)
Interior Apartemen Verde Two, Jakarta. (Foto: Realestat.id)
Ruko Multiguna Taman Tekno X, BSD City (Foto: Dok. Sinar Mas Land)
Ruko Multiguna Taman Tekno X, BSD City (Foto: Dok. Sinar Mas Land)
Ruang Kantor (Foto: Dok. Freepik.com)
Ruang Kantor (Foto: Dok. Freepik.com)