Asrinesia Rilis Buku 'Palagan Cirebon': Perjuangan Tentara Pelajar Yon 400 Cirebon

Buku 'Palagan Cirebon' mengupas kisah perjuangan para Tentara Pelajar Yon 400 Cirebon, yang tak bisa dipisahkan dari perjuangan Bangsa Indonesia.

Peluncuran Buku 'Palagan Cirebon' di Gedung Joang 45, Kamis (23/6/2022).
Peluncuran Buku 'Palagan Cirebon' di Gedung Joang 45, Kamis (23/6/2022).

RealEstat.id (Jakarta) - "Gunung Ciremai, saksi bisu sejarah perjuangan Tentara Pelajar Yon 400 Cirebon". Demikian buku 'Palagan Cirebon' ini dibuka. Memang, kisah heroik tentara pelajar di kancah perang kemerdekaan tak senyaring cerita perjuangan lain yang telah masyhur—bahkan banyak masyarakat yang tidak mengetahuinya.

Untuk menghargai perjuangan Tentara Pelajar Yon 400 Cirebon, sekaligus mengedukasi generasi penerus akan pentingnya sebuah kemerdekaan, IKKEL 400 bekerja sama dengan Asrinesia, merilis buku 'Palagan Cirebon: Tentara Pelajar Yon 400 Cirebon'.

Bercerita tentang perjuangan Tentara Pelajar Yon 400 Cirebon pada masa perang kemerdekaan 1945-1949, buku bersampul biru setebal 284 halaman yang ditulis oleh Sri Pasifik dan Sri Murdiningsih ini diluncurkan secara resmi di Gedung Joang 45 Jalan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (23/6/2022).

Baca Juga: Kemerdekaan Atas Kesejahteraan Perumahan Rakyat

Sri Pasifik menjelaskan, peluncuran buku 'Palagan Cirebon' mengupas kisah perjuangan para Tentara Pelajar Yon 400 Cirebon, yang tak bisa dipisahkan dari perjuangan Bangsa Indonesia.

Menurutnya, merangkum sebuah sejarah lewat catatan harian para eks Tentara Pelajar Yon 400 Cirebon memang tidak mudah. Bahkan, untuk melengkapi data asli, penulis mesti melakukan napak tilas ke daerah pedalaman Cirebon, yang pernah menjadi kancah perjuangan para pelaku sejarah Palagan Cirebon.

"Buku ini diberi judul 'Palagan Cirebon', sesuai dengan asal para Tentara Pelajar Yon 400 Cirebon, yaitu dari Batalyon Siliwangi," jelas Sri Pasifik, yang akrab disapa Ibu Ipuk tersebut.

Baca Juga: Keunikan Arsitektur Rumah Pasundan: Dirindukan, namun Nyaris Punah

Perempuan berusia 79 tahun tersebut menuturkan, Tentara pelajar Yon 400 Cirebon sendiri merupakan organisasi elit dan resmi yang didirikan pada 24 Maret 1947. Batalyon ini berisi para pejuang berusia belia, belasan hingga 20 tahun, yang telah menjadi ujung tombak perjuangan Indonesia saat itu.

Sri Pasifik menyebut, beberapa tokoh Tentara Pelajar yang disajikan dalam buku Palagan Cirebon, antara lain Yogi S. Memet, Sutadi Sukarya, Sersan Bagja, Hamid Attamimi, Sulaeman Kartasumitra, dan Saleh Basarah.

"Kami berharap dengan diluncurkannya buku perjuangan Palagan Cirebon menjadi pilihan masyarakat Indonesia terutama kawula muda untuk terus berjuang demi kemajuan dan kejayaan Indonesia. Perjuangan dan kejayaan suatu negara terletak di tangan atau cita-cita para pemuda,” kata Sri Pasifik.

Asrinesia Rilis Buku 'Palagan Cirebon'- Kisah Ketangguhan Tentara Pelajar Yon 400 Cirebon realestat.id dok
Foto: RealEstat.id

Pada kesempatan tersebut, Baskara Sukarya, anak Sutadi Sukarya mengungkapkan rasa harunya membaca kisah perjuangan almarhum sang ayah—yang baru wafat Bulan April 2022—diabadikan dalam buku Palagan Cirebon.

Menurutnya, yang terpenting saat ini adalah menjaga kemerdekaan, karena kemerdekaan bukan sesuatu yang mudah didapat. Tugas kita adalah bagaimana menjaga dan mempertahankan kemerdekaan bangsa ini sesuai dengan apa yang tertera di UUD 45 dan Pancasila.

"Terima kasih kepada Ibu Sri Pasifik dan Ibu Sri Murdiningsih yang telah dengan apik dan teliti menyajikan perjuangan para Tentara Pelajar saat itu, termasuk ayah saya: Sutadi Sukarya," tutur Baskara.

Baca Juga: Bank BTN dan NU Circle Kembali Gelar Program 'Santri Developer Kebangsaan'

Menurut Jai Singh Yadav, Jai Singh Yadav, Visiting Associate Professor untuk Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM), TP Jawa Barat, TP Jawa Tengah dan TRIP Jawa Timur merupakan pasukan elit yang terdiri dari anak-anak pelajar. Mereka ini tidak berada dalam satu milisi, tetapi memiliki komandan batalyon dan persenjataan sendiri.

Para tentara pelajar ini bertempur sama beraninya dengan Brigade XVII Siliwangi. Masih merujuk penelitian Jai Singh Yadav, Tentara Pelajar seperti ini merupakan satu-satunya yang ada di dunia.

Pada tahun 1950, TP, TRIP dan CPS didemobillsasikan berdasarkan ketemuan dari Dephankam dengan Surat No. 193/M.P/50 tanggal 9 Mei 1950. Mereka difasilitasi negara untuk bersekolah kemball, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Yang ingin melanjutkan dinas militer difasilitasi Kementerian Pertahanan, sedangkan yang melanjutkan ke perguruan tinggi difasilitasi oleh Kemendikbud.

Baca Juga: Akhir 2021, Metland Mulai Operasikan Hotel Horison Ultima Kertajati

Sinopsis Buku 'Palagan Cirebon'
Cirebon diserang Tentara Belanda tanggal 22 Juli 1947 dari darat, laut dan udara. Kondisi persenjataan TNI tak memadai, sedangkan Tentara Pelajar sebagian sedang mengawal perbekalan ke pedalaman. Bupati Cirebon Makmoen Sumadipradja tak bersedia bekerja sama dengan Belanda dan mendirikan pemerintahan darurat sipil di desa Sukasari. Sedangkan pemerintahan darurat militer berada di Sagarahiang di bawah komando Umar Wirahadikusumah.

Cirebon seutuhnya tidak jatuh ke tangan Belanda. Gagalnya perjanjian Renville membuat Siliwangi harus Hijrah ke ibu Kota negara di Yogyakarta. Kemudian saat pemboman pangkalan udara Maguwo, Brigade XVII Sillwangi diperintahkan oleh Letjen Sarbini untuk kembali ke Jawa Barat untuk mempertahankan Jawa Barat yang dikenal dengan nama Long March. Hijrah dan Long March Siliwangi sangat dikenal pada masanya.

Redaksi@realestat.id

Berita Terkait

Mal Ciputra Cibubur (Foto: RealEstat.id)
Mal Ciputra Cibubur (Foto: RealEstat.id)
Dari kiri ke kanan: Joanna Elizabeth Samuel - Marketing Manager Fabric Care Wings Group, Franda - Publik figur, Emma Teytaud - Koordinator Pengajaran Kerjasama Bahasa Prancis Institut Français d’Indonésie, dan Sannia Alattas - Fragrance Expert. (Foto: istimewa)
Dari kiri ke kanan: Joanna Elizabeth Samuel - Marketing Manager Fabric Care Wings Group, Franda - Publik figur, Emma Teytaud - Koordinator Pengajaran Kerjasama Bahasa Prancis Institut Français d’Indonésie, dan Sannia Alattas - Fragrance Expert. (Foto: istimewa)
Dari kiri ke kanan: Shirley Pranoto (General Manager - Pashouses), Bin Anindita (COO & Co-Founder - Pashouses), Mulyawan Gani (Chief Transformation Officer - Sinar Mas Land) dan Bayu Seto (Partner - Living Lab Ventures) dalam penandatanganan perjanjian kerja sama antara Living Lab X, Divisi Incubation & Partnership dari Living Lab Ventures dengan Pashouses untuk pengembangan rumalaku.id yang akan melayani pemasaran rumah tapak secondary di BSD City dan sekitarnya.
Dari kiri ke kanan: Shirley Pranoto (General Manager - Pashouses), Bin Anindita (COO & Co-Founder - Pashouses), Mulyawan Gani (Chief Transformation Officer - Sinar Mas Land) dan Bayu Seto (Partner - Living Lab Ventures) dalam penandatanganan perjanjian kerja sama antara Living Lab X, Divisi Incubation & Partnership dari Living Lab Ventures dengan Pashouses untuk pengembangan rumalaku.id yang akan melayani pemasaran rumah tapak secondary di BSD City dan sekitarnya.
Sinar Mas Land Virtual Assistant (SILVIA)
Sinar Mas Land Virtual Assistant (SILVIA)