5 Langkah Jitu Tingkatkan 'Employee Engagement' dalam Perusahaan

Semakin besar keterlibatan karyawan (employee engagement) maka semakin besar pula peluang keberhasilan sebuah perusahaan.

Kris Banarto (Foto: Dok. RealEstat.id)
Kris Banarto (Foto: Dok. RealEstat.id)

RealEstat.id (Jakarta) - Employee engagement atau keterlibatan karyawan mutlak diperlukan oleh organisasi bisnis. Tingginya persaingan bisnis menuntut organisasi kreatif khususnya dalam menentukan strategi produk. Tanpa adanya produk yang unggul jangan harap dapat memenangi pasar.

Selain kepemimpinan organisasi yang kuat, juga dibutuhkan keterlibatan karyawan. Mendayagunakan karyawan menjadi faktor penting keberhasilan organisasi.

Baca Juga: Kenali 6 Ciri Pemimpin yang Disukai Karyawan

Semakin besar keterlibatan karyawan (employee engagement) maka semakin besar pula peluang keberhasilan organisasi. Tantangan perusahaan untuk membuat sistem yang dapat memberdayakan karyawan melalui perintah yang terdesentralisasi.

Penelitian Employee Engagement
Menurut hasil penelitian dari Gallup State of the Global Workplace menemukan hanya 15% karyawan di seluruh dunia terlibat aktif dalam pekerjaan. Terlibat aktif berarti mereka menginvestasikan waktu, tenaga, pikiran untuk berkontribusi terhadap organisasi.

Hal yang membuat prihatin, sebesar 67% (sebuah angka yang besar), mereka ini tidak terlibat secara aktif. Kelompok ini merasa puas atas pencapaiannya. 

Baca Juga: Business Model Canvas: Kiat Sukses Perusahaan Start-up

Praktis kontribusi mereka terhadap organisasi hanya sedikit, tidak pedulikan produktivitas dan profitabilitas perusahaan. Sedangkan sisanya 18% adalah mereka yang berperilaku negatif, menciptakan lingkungan toxic (racun) dan cukup vokal. 

Manajer telah kehilangan banyak waktu terhadap mereka karena sulit untuk diubah. Kelompok ini menjadi catatan manajer apakah mereka harus diberhentikan?

Sebaran Keterlibatan Karyawan (Dokumen pribadi)

Temuan tersebut menjadi tantangan para pemilik bisnis dan pemimpin perusahaan untuk memberdayakan karyawan secara maksimal. Sebagai gambaran kondisi yang terjadi di Amerika Serikat, bahwa produktivitas yang turun telah merugikan pemerintah sebesar USD550 miliar.

Lingkungan bisnis saat ini bergerak lebih cepat dari sebelumnya, organisasi menghadapi perubahan dan dituntut lebih cepat melakukan tindakan. Sebut saja industri perbankan harus menghadapi serbuan uang elektronik. Jumlah tabungan bank tergerus gegara adanya aplikasi layanan pembayaran tersebut.

Baca Juga: Empat Pilar Strategi Co-creation untuk Kesuksesan Bisnis

Dengan sumber daya yang ada mereka dituntut tumbuh lebih cepat dan berbuat lebih banyak. Para manajer harus berpikir keras untuk mengelola SDM agar dapat memenuhi tujuan organisasi dan memenangkan pasar.

Peran Manajer
Peran yang diberikan manajer adalah menerjemahkan dan mengkomunikasikan visi dan misi organisasi, melibatkan karyawan serta membangun tim yang hebat.

Manajer secara aktif memprioritaskan keterlibatan karyawan (employee engagement) dengan merekrut orang yang tepat dan mengembangkan bakatnya. Membangun budaya kerja cepat, adaptif, transparan, dapat dipercaya dan dipertanggung jawabkan.

Namun tidak sedikit organisasi yang gagal melibatkan karyawannya dikarenakan memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Terkadang dalam praktiknya terjadi salah paham antara manajer dan karyawan karena pendekatannya kurang tepat.

Baca Juga: Marketing 4.0 dengan Pendekatan 5A, Apakah Efektif?

Berikut ini 5 langkah yang dilakukan manajer untuk meningkatkan keterlibatan karyawan.

1. Menempatkan orang yang tepat
Menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat (the right man on the righ place), dimulai dari identifikasi karyawan menyangkut pengetahuan, keahlian, dan sikap karyawan.

Dilanjutkan dengan penempatan sesuai dengan kebutuhan organisasi yang disesuaikan dengan uraian tugas, wewenang dan tanggung jawab. Penempatan karyawan pada posisi yang tepat akan membuat organisasi menjadi efektif.

2. Mengadakan pelatihan
Pelatihan dan pengembangan merupakan bagian dari program manajer setiap departemen dalam organisasi. Praktisi HRD dapat membantu menyusun program pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan.

Melakukan evaluasi mengenai efektivitas program dan melakukan perbaikan secara terus menerus dan berkelanjutan. Pelatihan dan pengembangan yang tepat akan meningkatkan produktivitas kerja.

Baca Juga: Begini 5 Cara Mempertahankan Sales Team Tetap "On Fire"

3. Menyelaraskan bakat dengan visi perusahaan
Menyelaraskan bakat dan gairah (passion) setiap karyawan dengan visi, misi dan budaya organisasi. Dengan menyelaraskan maka karyawan dapat mengembangkan potensinya.

Pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan bakat dan gairah akan memperoleh kinerja yang maksimal dan kepuasan dalam bekerja. Karyawan dengan bebas melakukan kreativitas untuk kemajuan organisasi.

4. Komunikasi, pemantauan, dan evaluasi
Setelah manajer menyusun program dan menempatkan karyawan, selanjutnya melakukan implementasi. Di dalam implementasi dibutuhkan komunikasi, pemantauan (monitoring) dan melakukan evaluasi.

Komunikasi secara terbuka untuk menerima masukan dari karyawan, memonitor apakah uraian tugas dapat dieksekusi dengan baik. Dan melakukan evaluasi secara objektif atas kinerja karyawan. 

5. Memberikan penghargaan
Penghargaan dan hukuman merupakan alat untuk menghargai karyawan yang berkinerja baik dan hukuman diberikan kepada karyawan yang berkinerja buruk.

Penghargaan tidak selamanya berupa materi, namun dapat berupa non materi misalnya promosi jabatan, jaminan sosial, pujian dan pengakuan dari manajemen dan manajer. Penghargaan akan memacu karyawan mencapai kinerja puncak.

Baca Juga: Midas Touch: Jadi Pengusaha Properti Sukses dengan Metafora 5 Jari

Penutup
Niat baik pemilik bisnis penting untuk mewujudkan produktivitas perusahaan, dengan memilih manajer-manajer yang tepat. Mereka ini berada di depan dalam memaksimalkan keterlibatan karyawan dalam organisasi.

Setiap karyawan harus memahami tantangan besar yang dihadapi perusahaan dengan memberikan kontribusi yang positif kepada organisasi. Karena keberhasilan perusahaan akan mengiringi kesejahteraan karyawan.

Sisi positif dari rendahnya keterlibatan karyawan menjadi tantangan dan peluang organisasi untuk mendorong produktivitas. Semakin tinggi angka keterlibatan karyawan akan meningkatkan produktivitas dan profitabilitas.

Kris Banarto, MM, CPM adalah praktisi bisnis properti, pemerhati etika bisnis dan blogger yang saat ini menjabat sebagai General Manager Sales & Marketing Gapuraprima Group. Artikel ini adalah pendapat pribadi penulis.

Berita Terkait

Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)
Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)
Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)
Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)
Kris Banarto (Foto: Dok. RealEstat.id)
Kris Banarto (Foto: Dok. RealEstat.id)
Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)
Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)