Business Model Canvas: Kiat Sukses Perusahaan Start-up

Business Model Canvas (BMC) adalah strategi manajemen dengan pendekatan sembilan elemen yang digunakan dalam proses perencanaan sebelum menjalankan bisnis.

Kris Banarto (Foto: Dok. RealEstat.id)
Kris Banarto (Foto: Dok. RealEstat.id)

RealEstat.id (Jakarta) - Business Model Canvas atau disingkat BMC adalah sebuah alat yang terdiri dari sembilan elemen dalam satu halaman untuk membuat perencanaan bisnis. Model ini dikembangkan oleh Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur (2010).

Menurut data dari Kementerian Perindustrian, jumlah wirausaha di Indonesia saat ini sekitar 3% dari total populasi. Angka itu jauh dibandingkan negara lain di kawasan Asia. Berdasarkan data Global Enterpreneurship Index tahun 2018 mengenai wirausaha, Indonesia menempati peringkat 94. Di bawah Vietnam (87), Filipina (76), Thailand (71), Malaysia (58), Brunei Darussalam (53) dan Singapura (27).

Wirausaha memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan perekonomian nasional. Peran itu antara lain: menciptakan lapangan kerja, meningkatkan PDB (Produk Domestik Bruto), meningkatkan taraf hidup dan mengurangi kemiskinan.

Baca Juga: Empat Pilar Strategi Co-creation untuk Kesuksesan Bisnis

Kementerian Perindustrian menargetkan pada tahun 2030, Indonesia memiliki jumlah wirausaha sebesar 4%, sebuah angka yang realistis, namun harus dibarengi dengan kerja keras dari segenap elemen bangsa.

Pentingnya mencetak wirausaha baru telah disadari oleh beberapa perguruan tinggi dengan memasukkan mata kuliah entrepreneurship ke dalam kurikulum dan atau kegiatan kampus. Lulusan baru perguruan tinggi tidak harus sebagai pegawai, tetapi didorong menjadi wirausaha.

Salah satu kendala yang dihadapi para wirausaha rintisan atau start-up adalah keberanian untuk memulai bisnis. Terkadang jiwa pegawai masih melekat dalam dirinya.

Selain itu, belum ada gambaran jelas langkah-langkah apa saja yang harus di lakukan. Apakah menentukan produk atau jasa terlebih dahulu, membuat sistem atau mencari tempat usaha?

Yves Pigneur dan Alexander Osterwalder dalam sebuah seminar (sumber Thestartupscene.me)
Yves Pigneur dan Alexander Osterwalder (Foto: Thinkers50.com)

Pengertian Business Model Canvas (BMC)
BMC merupakan strategi manajemen berupa pendekatan yang terdiri dari 9 elemen, yang digunakan dalam proses perencanaan sebelum bisnis. Model perencanaan bisnis ini diperkenalkan oleh Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur tahun 2010. Business Model Canvas akan membantu kegiatan bisnis  ke dalam kerangka sederhana berisi elemen-elemen yang mewakili proses bisnis.

Baca Juga: Marketing 4.0 dengan Pendekatan 5A, Apakah Efektif?

BMC Penting untuk Start-up
Business Model Canvas penting untuk pengusaha pemula yang baru merintis usaha. Dari 9 elemen yang ada akan menganalisis pada setiap elemen secara runtut. Setiap elemen akan menganalisis apakah ide bisnis layak untuk dipasarkan. Jadi ketika dalam satu elemen ide bisnis tidak dapat menerjemahkan dengan baik, bisa jadi ide bisnisnya kurang prospektif.

Tujuan BMC
Business Model Canvas bertujuan untuk mempermudah organisasi dalam merancang bisnis. Kegiatan itu meliputi memasukkan poin-poin penting ke dalam elemen, menganalisis sumber daya organisasi, kolaborasi yang perlu dijalin dengan pihak luar, merencanakan pemasaran, pemasukan dan pengeluaran dana.

Ini 9 elemen BMC (sumber Thestrategygroup.com)
9 elemen BMC (sumber: Thestrategygroup.com)

Sembilan Elemen BMC
Pemilik bisnis dapat membuat tim untuk menyusun Business Model Canvas, memberikan pengarahan mengenai visi dan misi perusahaan agar mereka mempunyai gambaran besar ide bisnis yang akan direncanakan.

1. Customer Segments
Elemen pertama yang harus di isi adalah segmentasi konsumen, produk atau layanan yang akan dijalankan menyasar pada segmen mana? Jika mau membuka rumah makan misalnya target mana yang akan diambil? Apakah para pegawai kantor, warga perumahan, mahasiswa atau buruh pabrik?

Baca Juga: Begini 5 Cara Mempertahankan Sales Team Tetap "On Fire"

2. Value Proposition
Value Proposition atau rancangan nilai apa yang ada dalam produk atau layanan yang ditawarkan. Sebisa mungkin produk atau layanan memiliki nilai yang unik dibandingkan dengan pesaing yang sudah ada. Misalnya Yamaha meluncurkan sepeda motor matic 1.500 cc berbadan bongsor "NMAX" yang laris manis di pasaran.

3. Channels
Channels atau alat pemasaran yang akan digunakan harus dapat menyasar sesuai dengan customer segments yang dituju dan melakukan campaign nilai-nilai dari produk atau jasa. Media promosi dapat dilakukan melalui website, blog, media sosial, brosur, media elektronik, media cetak dan sebagainya.

4. Revenue Streams
Revenue Stream atau aliran pendapatan menjadi muara sebuah proses bisnis. Jangan sampai bisnis sudah berjalan namun pendapatan belum memadai. Perusahaan dapat membuat target pendapatan baik jangka pendek, menengah dan panjang.

Baca Juga: Midas Touch: Jadi Pengusaha Properti Sukses dengan Metafora 5 Jari

5. Key Resource
Organisasi bisnis menyusun Key Resource atau sumber daya utama yang dimiliki perusahaan. Hal ini berkaitan dengan implementasi elemen ke dua yaitu value proposition. Mulai dari pemanfaatan aset, sumber daya manusia dan kegiatan operasional organisasi. Jika mempunyai aset tanah misalnya, apakah mau dibangun mini market, rumah makan atau usaha lainnya?

6. Customer Relationship
Hubungan dengan pelanggan atau Customer Relationship harus dijalin dengan baik oleh perusahaan. Jangan sampai perusahaan kehilangan pelanggan-pelanggan yang loyal. Menjaga hubungan baik dengan pelanggan dapat dilakukan dengan cara membuat kartu member, mendirikan komunitas dan terus melakukan komunikasi melalui media yang ada.

Baca Juga: 5 Jurus Sakti Salesman Properti Luluhkan Hati Konsumen

7. Key Activities
Key Activities atau aktivitas utama yang dilakukan oleh perusahaan. Aktivitas itu berfokus pada produk dan layanan. Value creation atau kreasi nilai menjadi penting. Selain itu perusahaan mesti melakukan komunikasi dengan pelanggan dan masyarakat.

8. Key Partnership
Elemen kemitraan utama akan mengorganisir key activities agar efektif dan efisien. Tidak ada salahnya untuk mencoba membangun kemitraan atau kolaborasi dengan perusahaan lain. Kemitraan Toyota dan Daihatsu yang menghasilkan mobil Rush-Terrios, Avanza-Xenia, Agya-Ayla menjadi contoh yang baik.

9. Cost Structure
Elemen terakhir yang tidak kalah penting dengan elemen lainnya adalah Cost Structure atau struktur biaya. Yang akan membiayai setiap proses bisnis. Bagian keuangan sebaiknya membuatnya skala prioritas pembiayaan dan merencanakan sumber pembiayaan apakah harus mengajukan pinjaman ke bank atau menerbitkan obligasi.

Baca Juga: 6 Strategi Mudah Pemasaran Properti Dari Nol

Penutup
BMC menjadi jawaban para pengusaha yang akan meluncurkan produk baru dalam membuat rencana bisnis. Perusahaan tidak perlu menghabiskan banyak waktu, tenaga dan biaya. Namun dengan adanya BMC perusahaan dengan mudah memasukkan poin-poin ke dalam 9 elemen, efektif dan efisien.

BMC dapat menjadi blue print perusahaan dalam membuat kebijakan, menetapkan tujuan dan sasaran, menyusun strategi dan implementasi hanya dalam satu kanvas. Kiranya BMC dapat sebagai alat untuk mendorong lahirnya pengusaha baru. Kita berharap target 4% pengusaha pada tahun 2030 dapat tercapai.

Kris Banarto, MM, CPM adalah praktisi bisnis properti, pemerhati etika bisnis dan blogger yang saat ini menjabat sebagai General Manager Sales & Marketing Gapuraprima Group. Artikel ini adalah pendapat pribadi penulis.

Berita Terkait

Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)
Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)
Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)
Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)
Kris Banarto (Foto: Dok. RealEstat.id)
Kris Banarto (Foto: Dok. RealEstat.id)
Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)
Juneidi D. Kamil, Pakar Hukum Properti (Foto: RealEstat.id)