RealEstat.id (Jakarta) – Kain tenun tradisional Dayak Iban asal Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, semakin mendapat tempat di industri fesyen nasional.
Melalui program Aram Bekelala Tenun Iban, Yayasan Kawan Lama berhasil mendorong peningkatan pendapatan perempuan penenun hingga 360% sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.
Hasil pendampingan selama hampir dua tahun tersebut diperkenalkan melalui kolaborasi Yayasan Kawan Lama bersama Cita Tenun Indonesia, desainer Wilsen Willim, dan Pendopo dalam ajang Jakarta Fashion Week (JFW) 2027.
Kolaborasi ini menghadirkan 15 rancangan busana kontemporer berbahan tenun Dayak Iban yang mengangkat teknik tradisional Sidan dan Pileh.
Baca Juga: Lestarikan Budaya dan Pariwisata, Yayasan Kawan Lama Rilis ‘Merajut Asa Sumba’
Kehadiran karya tersebut menjadi langkah untuk mempertemukan kekayaan budaya lokal dengan perkembangan industri fesyen modern.
Pendapatan Naik 360%
Berdasarkan laporan program Aram Bekelala Tenun Iban, rata-rata pendapatan para penenun meningkat hingga 360%.
Sementara itu, nilai penjualan kain tenun telah berhasil melampaui Rp500 juta.
Melansir dari keterangan tertulis Senin (02/11/2026), Ketua Pengurus Yayasan Kawan Lama, Tasya Widyakrisnadi mengatakan pelestarian budaya perlu berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas dan peluang ekonomi masyarakat yang menjaganya.
“Kehadiran tenun Iban dalam Jakarta Fashion Week menjadi salah satu cara memperkenalkan karya para perempuan penenun kepada pasar yang lebih luas,” ujar Tasya.
Baca Juga: Yayasan Kawan Lama Helat Program Aram Bekelala Tenun Iban untuk Penenun Kapuas Hulu
Selama pelaksanaan program, lanjut dia, penguatan keterampilan hadir melalui pendekatan Training of Trainers.
Sebanyak 20 penenun perempuan dilatih menjadi fasilitator lokal dan kemudian menjangkau lebih dari 80 penenun lainnya.
Program ini juga mendokumentasikan 58 motif kain tenun lokal dan mengembangkan lima inovasi motif baru.
Selain itu, eksplorasi pewarna alami berbahan 23 jenis tanaman lokal berhasil memperluas variasi warna dari enam menjadi 69 pilihan.
Tenun Tradisional Masuk Pasar Fesyen Kontemporer
Perluasan akses pasar menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan nilai ekonomi tenun Dayak Iban.
Melalui Pendopo, sebanyak 29 motif kain tenun Iban telah tersedia bagi konsumen hingga 2026.
Sementara itu, kolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia dan Wilsen Willim menghadirkan interpretasi baru kain tradisional melalui 15 rancangan busana kontemporer.
Ketua Kelompok Tenun Kenyalang Mandang Ketangkung dari Dusun Lauk Rugun, Anastasia Sunta mengungkapkan bahwa pendampingan tersebut membawa perubahan nyata bagi para penenun.
“Melalui program Aram Bekelala Tenun Iban, kami merasakan perubahan yang berarti. Keterampilan semakin berkembang, pendapatan keluarga semakin baik, dan terbuka harapan untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak kami,” kata Anastasia.r
Ia juga berharap semakin banyak generasi muda tertarik mempelajari tenun Pileh, salah satu warisan leluhur yang kini semakin jarang ditekuni generasi penerus.
Dengan demikian, tenun Dayak Iban memiliki potensi sebagai sumber penghidupan dan penggerak ekonomi komunitas lokal.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








