Lompat ke konten utama

RealEstat.id

SCG Catat Kinerja Positif pada Semester I 2026, EBITDA Naik 35%

SCG membukukan pendapatan penjualan Rp146,3 triliun di sepanjang semester I 2026, dengan laba mencapai Rp10 triliun.
scg semester i ii 2026 2027 realestat.id dok
Foto: Istimewa

RealEstat.id (Jakarta) – SCG, perusahaan konglomerasi asal Thailand, mencatat kinerja yang lebih kuat sepanjang semester I 2026.

Strategi proaktif melalui pengendalian biaya, optimalisasi energi, pengadaan bahan baku, serta disiplin keuangan mendorong EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp24,1 triliun atau 1.337 juta dolar AS, naik 35% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Indonesia menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan penjualan tertinggi bagi SCG. Pada kuartal II 2026, penjualan di Indonesia tumbuh 39% secara tahunan dalam mata uang lokal menjadi Rp6,51 triliun atau sekitar USD360 juta.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang bisnis petrokimia SCGC melalui produk yang diproduksi Long Son Petrochemicals (LSP) di Vietnam untuk pasar Indonesia.

Baca Juga: ESG Symposium 2026: Indonesia Dorong ASEAN Bergerak dari Krisis ke Aksi Hijau

President and CEO SCG, Thammasak Sethaudom mengatakan, perusahaan terus memperkuat ketahanan bisnis di tengah dinamika ekonomi global dengan meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing.

“Keberhasilan penerapan strategi jangka pendek dan menengah turut mendorong perbaikan kinerja di seluruh unit bisnis,” ujarnya.

Secara keseluruhan, SCG membukukan pendapatan penjualan Rp146,3 triliun atau USD8.086 juta sepanjang semester I 2026, dengan laba mencapai Rp10 triliun atau USD553 juta. Khusus kuartal II, pendapatan penjualan mencapai Rp76,8 triliun dan laba Rp6,5 triliun.

Perkuat Bisnis di Indonesia

Di Indonesia, SCG terus memperkuat bisnis melalui pengembangan produk, peningkatan layanan, serta efisiensi operasional.

Melalui Jayamix by SCG, perusahaan memperkenalkan Jayamix Advanced Waterproof Concrete dan membangun batching plant baru di Marunda, Jakarta Utara.

Baca Juga: SCG Perkuat Pengembangan Semen Rendah Karbon dan Material Bangunan Hijau di Indonesia

Fasilitas tersebut ditujukan untuk memperkuat pasokan beton siap pakai serta meningkatkan layanan bagi pelanggan di Jakarta Utara dan Bekasi.

Jayamix juga memperbarui sertifikasi Green Label untuk lima kategori produk beton siap pakai. Skornya meningkat dari 91% menjadi 92,5%.

Selain itu, sistem Truck Mixer GPS Tracking diperbarui dengan fitur pemantauan lokasi secara real-time.

Di sektor logistik, SCG Barito Logistics bekerja sama dengan PT Krakatau Bandar Samudera untuk layanan penyimpanan ISO tank dan kontainer kering serta layanan lift-on/lift-off di Krakatau International Port.

SCG juga melanjutkan program keberlanjutan melalui SCG MENTARI. Program pengelolaan sampah berbasis komunitas tersebut telah mengumpulkan lebih dari 40.700 kilogram sampah melalui empat Waste Station.

Baca Juga: Resmikan Batching Plant di Bandung, SCG Dukung Transformasi Infrastruktur Modern Berkelanjutan

Sementara melalui SCG GESARI, perusahaan mendukung pengembangan Desa Wisata Karangpara dan kewirausahaan lokal.

Sejak 2019, program ini telah memberikan manfaat kepada lebih dari 78 UMKM di lima desa sekitar.

Strategi Bisnis dan Transformasi

Pada bisnis semen dan material konstruksi, SCG Cement-Building Materials mencatat perbaikan kinerja yang didukung pertumbuhan pasar di Vietnam dan Indonesia.

Integrasi bisnis melalui pendekatan One CBM turut mendorong pertumbuhan penjualan lintas kategori sebesar 15% secara tahunan.

Di bisnis petrokimia, SCGC memperkuat kinerja melalui peningkatan margin, optimalisasi operasional pabrik, pengadaan bahan baku dari jalur di luar Hormuz, serta peningkatan penjualan produk bernilai tambah tinggi.

Baca Juga: Hadirkan Solusi Inovatif dan Adaptif, Jayamix Resmikan Batching Plant di Bali

SCGC juga melanjutkan proyek peningkatan penggunaan bahan baku etana di kompleks LSP, Vietnam, yang ditargetkan beroperasi pada akhir 2027.

Pada periode yang sama, SCGC melakukan divestasi 14,86% saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. senilai sekitar Rp14,04 triliun.

Dana tersebut akan digunakan untuk mengurangi utang dan mendukung pengembangan proyek LSP Ethane.

Sementara itu, SCGP mencatat perbaikan kinerja, terutama dari operasional di Indonesia yang kembali membukukan laba.

Perbaikan tersebut ditopang peningkatan volume penjualan kemasan domestik, optimalisasi biaya, bauran energi, dan efisiensi produksi.

Baca Juga: Bantu Entaskan Stunting, SCG Kembali Helat Program SCG ASIK

Memasuki semester II 2026, SCG masih melihat tantangan berupa ketidakpastian geopolitik, persaingan harga, inflasi, dan volatilitas biaya energi.

Untuk menghadapinya, perusahaan akan melanjutkan transformasi bisnis melalui restrukturisasi, pengembangan produk bernilai tambah tinggi, optimalisasi jaringan manufaktur ASEAN, serta pemanfaatan robotik dan kecerdasan buatan.

SCG juga menargetkan peningkatan efisiensi operasional dan penguatan kolaborasi dengan mitra bisnis untuk menjaga pertumbuhan serta ketahanan bisnis sepanjang 2026.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait