RealEstat.id (Jakarta) – Transisi hijau di ASEAN memasuki fase yang semakin menuntut aksi konkret. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan risiko perubahan iklim, Indonesia bersama negara-negara ASEAN mendorong agar agenda keberlanjutan tidak berhenti pada komitmen saja.
Akan tetapi juga terejawantahkan menjadi langkah nyata yang tetap menjaga pertumbuhan ekonomi dan daya saing kawasan.
Pesan tersebut mengemuka dalam forum ESG Symposium 2026 di Bangkok, Thailand, beberapa waktu lalu.
Mengusung tema “ASEAN in Action: Powering Inclusive Green Transition”, forum yang digelar oleh SCG ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, organisasi internasional, dan akademisi untuk membahas masa depan transisi hijau.
Bagi sektor korporasi, isu tersebut semakin strategis karena perubahan energi dan iklim berpengaruh langsung terhadap biaya operasional, rantai pasok, ketersediaan sumber daya, hingga keberlanjutan bisnis.
Baca Juga: Ini Dia 3 Proyek Strategis dari SCG ESG Symposium di Indonesia
Tiga Agenda ESG yang Menjadi Perhatian ASEAN
ESG Symposium 2026 memusatkan pembahasan pada tiga agenda, yakni Energy Transition, Just Transition, dan Climate Adaptation.
Pada agenda Energy Transition, peserta membahas kebutuhan ASEAN untuk mempercepat penggunaan energi bersih sekaligus menjaga keamanan dan keterjangkauan energi.
Tantangannya adalah memastikan transisi tersebut tidak justru menciptakan tekanan baru terhadap perekonomian.
Sementara itu, Just Transition menempatkan manusia dan pelaku ekonomi lokal sebagai bagian penting dari perubahan.
Baca Juga: SCG Perkuat Pengembangan Semen Rendah Karbon dan Material Bangunan Hijau di Indonesia
Adapun Climate Adaptation menyoroti kesiapan menghadapi dampak perubahan iklim, termasuk persoalan ketahanan air yang berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat maupun dunia usaha.
Indonesia turut mengambil bagian dalam pembahasan tersebut. Dr. Dino Patti Djalal, Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), berpartisipasi dalam sesi Energy Transition.
Perspektif Indonesia dalam agenda Climate Adaptation juga disampaikan Puspita Suryaningtyas dari Kementerian PPN/Bappenas, serta Heru Permana dari Kementerian Kehutanan.
Dari ESG ke Dampak Nyata di Lapangan
SCG juga membawa contoh implementasi ESG di Indonesia. Salah satunya pemanfaatan Refuse-Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif untuk produksi semen.
Dalam satu tahun, inisiatif tersebut telah mengolah 62.790 ton sampah kota.
Di sisi sosial, program Gerakan Desa Berdikari (GESARI) yang berjalan sejak 2019 telah mendukung lebih dari 78 UMKM lokal melalui penguatan kapasitas dan akses pasar.
Sementara program Clean Water for All diarahkan untuk memperkuat ketahanan air dengan menggabungkan teknologi dan partisipasi masyarakat.
Baca Juga: Resmikan Batching Plant di Bandung, SCG Dukung Transformasi Infrastruktur Modern Berkelanjutan
Presiden & CEO SCG, Thammasak Sethaudom menilai pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan tidak semestinya ditempatkan sebagai dua kepentingan yang bertentangan.
“ASEAN tidak semestinya dihadapkan pada pilihan antara pertumbuhan ekonomi atau masa depan yang lebih hijau,” kata Thammasak.
Karena itu, lanjut Thammasak, transisi energi, dan adaptasi iklim perlu berjalan secara paralel. Sementara kolaborasi perlu bergerak melampaui diskusi menuju aksi nyata
Pandangan serupa disampaikan Dr. Ilham Kadri, Chair of the Executive Committee WBCSD, melalui konsep “Power of And”, yakni mendorong keberlanjutan dan profitabilitas secara bersamaan.
“Keberlanjutan tidak lagi dipandang sebagai trade-off terhadap kinerja bisnis, melainkan sebagai faktor yang semakin penting dalam memperkuat ketahanan, daya saing, dan penciptaan nilai jangka panjang,” tandas Ilham Kadri.
Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News








