Lompat ke konten utama

RealEstat.id

Kunjungan Wisman Naik 53%, Sektor Perhotelan Jakarta Kembali Menggeliat

Selama Kuartal II 2026, sektor perhotelan mengalami rebound yang didorong oleh sejumlah acara berskala besar di Jakarta, sehingga okupansi meningkat menjadi 55,8%.
perhotelan hotel jakarta jabodetabek realestat.id dok kuartal semester i ii iii iv
Ilustrasi Foto: Realestat.id

RealEstat.id (Jakarta) –  Sektor perhotelan Jakarta mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada kuartal II 2026.

Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), ditambah penyelenggaraan sejumlah acara berskala besar di Ibu Kota, turut menopang aktivitas pasar hotel.

Kendati demikian, pemulihan tersebut belum sepenuhnya mampu mendorong tingkat okupansi ke level yang lebih tinggi.

Riset yang dilakukan Leads Property menyebut bahwa Jakarta menerima sekitar 844.100 kunjungan wisman dalam dua bulan pertama Kuartal II 2026.

“Angka tersebut meningkat 53% dibandingkan periode dua bulan pertama pada kuartal sebelumnya,” ungkap Martin Samuel Hutapea, Head of Research & Consultancy Leads Property.

Baca Juga: Sektor Perhotelan Jakarta Melemah, Tertekan Efisiensi Anggaran Pemerintah

Dia mengatakan, kondisi geopolitik di Timur Tengah turut mendorong peningkatan kedatangan wisatawan internasional dari kawasan tersebut.

Sementara itu, wisatawan asal China menjadi penyumbang terbesar kunjungan wisman ke Jakarta dengan 105.870 orang atau sekitar 12,5% dari total kedatangan.

Malaysia dan Singapura menyusul sebagai negara penyumbang wisman terbesar berikutnya, masing-masing dengan 83.281 dan 37.922 kunjungan.

Menurut Martin, selain meningkatnya jumlah wisatawan, pelemahan nilai tukar Rupiah juga menjadi salah satu faktor yang mendukung kedatangan wisatawan asing.

“Meskipun harga tiket pesawat mengalami kenaikan, depresiasi rupiah membuat biaya perjalanan dan pengeluaran selama berada di Indonesia menjadi relatif lebih kompetitif bagi wisatawan mancanegara,” tuturnya.

Baca Juga: Pasar Lesu, Hotel di Jakarta dan Bali Pilih Strategi Rebranding dan Peningkatan Layanan

Pasokan Hotel Bertambah, Okupansi Masih Terbatas

Dari sisi pasokan, total inventori hotel Jakarta pada kuartal II 2026 mencapai 57.382 kamar. Penambahan pasokan terutama berasal dari rebranding hotel bintang tiga Shankee Blok M serta masuknya Mercure Grogol dengan tambahan 95 kamar pada segmen hotel bintang empat.

Di tengah bertambahnya pasokan, tingkat okupansi hotel justru masih menghadapi tekanan. Pada kuartal II 2026, tingkat okupansi tercatat sebesar 55,8%.

Menurut Martin, penyelenggaraan sejumlah acara berskala besar di Jakarta turut memberikan dorongan terhadap permintaan hotel selama kuartal tersebut. Namun, peningkatan tersebut belum cukup untuk menutup kesenjangan okupansi.

“Selama kuartal ini, sektor perhotelan mengalami rebound yang didorong oleh sejumlah acara berskala besar di Jakarta sehingga okupansi meningkat menjadi 55,8%,” terangnya.

Namun, menurut Martin, angka tersebut masih belum mampu menutup kesenjangan tingkat okupansi karena aktivitas pemerintah yang menjadi salah satu sumber utama permintaan mengalami penurunan.

Baca Juga: Wisatawan Asing Meningkat, Perhotelan Indonesia Pulih pada September: SiteMinder

Pasokan Hotel Baru Jakarta di 2026

Proyek HotelSegmenLokasiJumlah Kamar
MaxOne Hotel Wahid HasyimBintang 3Menteng110
Park Royal JakartaBintang 4MH Thamrin162
Gelora MarriottBintang 5Palmerah235
Total507

Hotel Bintang Lima Catat Momentum Positif

Dari sisi tarif, rata-rata harga kamar atau Average Daily Rate (ADR) hotel Jakarta relatif stabil di kuartal II 2026, yakni sekitar Rp1,52 juta per kamar per malam.

Meski naik tipis 0,8% secara kuartalan, namun angka tersebut masih turun 2,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika dilihat berdasarkan kelas hotel, ADR hotel bintang lima mencapai sekitar Rp2,42 juta. Sementara itu, hotel bintang empat berada di kisaran Rp650.000 dan hotel bintang tiga sekitar Rp500.000 per kamar per malam.

Segmen hotel bintang lima menjadi salah satu yang mencatatkan momentum positif. Tingkat okupansinya meningkat 3,6% secara kuartalan, sejalan dengan permintaan terhadap pengalaman menginap yang lebih premium.

“Tren tersebut menunjukkan bahwa sebagian tamu hotel kini semakin mempertimbangkan aspek prestise, kualitas pelayanan, serta pengalaman sebagai bagian dari keputusan memilih akomodasi,” ungkap Martin.

Baca Juga: Optimistis Bisnis Perhotelan Tumbuh di 2026, Metland Siapkan Dua Hotel Baru dan Strategi Rebranding

Rebranding dan Efisiensi Jadi Strategi Pengelola Hotel

Leads Property memperkirakan, sektor perhotelan di Jakarta akan terus berkembang seiring dengan meningkatnya biaya konstruksi.

“Ke depan, strategi peremajaan (rejuvenation) dan rebranding bakal banyak dilakukan, terutama ketika masa kontrak pengelolaan hotel berakhir,” jelas Martin.

Sementara itu, untuk memperluas portofolio baru, unit-unit apartemen yang belum terjual berpotensi semakin banyak dibidik oleh pelaku industri perhotelan sebagai bagian dari strategi efisiensi biaya, di tengah tingginya kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) untuk pembangunan hotel baru.

Di tengah semakin terbatasnya permintaan yang berasal dari pemerintah, pelaku industri perhotelan akan semakin bergantung pada klien korporasi swasta dan free independent travelers (FITs) atau wisatawan individu, khususnya wisatawan mancanegara.

“Di sisi lain, pelemahan nilai tukar Rupiah menjadi salah satu faktor pendukung karena membuat biaya perjalanan ke Indonesia relatif lebih kompetitif bagi wisatawan asing,” pungkasnya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait