Lompat ke konten utama

RealEstat.id

Pasar Perkantoran CBD Jakarta Mulai Pulih, Green Office Kian Diminati Tenant

Stok ruang kantor di CBD Jakarta relatif tidak berubah dalam tiga tahun terakhir dan diperkirakan baru kembali mendapat tambahan mulai 2028.
Perkantoran CBD Jakarta Kuartal I II III IV 2024 2025 2026 Realestat.id dok
Perkantoran CBD Jakarta. (Foto: Realestat.id)

RealEstat.id (Jakarta) – Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang masih berlangsung di tingkat lokal, regional, hingga global, sektor properti terus menghadapi dinamika yang cukup kompleks.

Kondisi tersebut turut memengaruhi kinerja berbagai subsektor properti, termasuk pasar perkantoran di kawasan Central Business District (CBD) Jakarta.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat mengatakan, sektor perkantoran menjadi salah satu tolok ukur penting dalam melihat performa properti komersial.

“Selain mencerminkan kondisi pasar properti, kinerja perkantoran juga berkaitan erat dengan aktivitas investasi, ekspansi dunia usaha, hingga penciptaan lapangan kerja. Pergerakan sektor ini sekaligus memberikan efek berganda terhadap berbagai sektor ekonomi lainnya,” tuturnya.

Menurut Syarifah Syaukat, transaksi sewa ruang kantor pada paruh pertama tahun ini tidak hanya berasal dari tenant eksisting yang melakukan ekspansi maupun penyesuaian ruang, tetapi juga dari tenant baru, baik perusahaan lokal maupun global.

Baca Juga: Menguak Tren Ruang Perkantoran Masa Depan: Fleksibel, Ramah Lingkungan, dan Berbasis Teknologi

Di sisi lain, sektor pemerintahan saat ini menjadi salah satu kontributor utama terhadap serapan ruang kantor di kawasan CBD Jakarta.

“Tenant Pemerintah cukup mendominasi serapan ruang kantor di CBD Jakarta saat ini,” ujar Sari, sapaan akrabnya.

Di tengah proses pemulihan pasar, tren relokasi perusahaan ke gedung perkantoran dengan kualitas lebih baik semakin intensif.

Fenomena ini tidak terlepas dari strategi flight to quality yang masih menjadi pertimbangan utama bagi para occupier.

Syarifah menjelaskan, perusahaan-perusahaan kini tidak hanya mempertimbangkan faktor harga ketika memilih ruang kantor.

Kualitas bangunan, lokasi strategis, kemudahan akses, fasilitas pendukung, hingga fleksibilitas yang diberikan landlord turut menjadi faktor penting dalam menentukan keputusan sewa.

Baca Juga: Pasar Perkantoran CBD Jakarta Terus Menunjukkan Perbaikan di 2026

Gedung perkantoran dengan kualitas premium dan aksesibilitas yang baik pun menjadi salah satu objek yang semakin banyak diburu oleh occupier.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan pasar perkantoran tidak semata-mata ditentukan oleh pertumbuhan permintaan, tetapi juga oleh kemampuan gedung dalam memenuhi kebutuhan tenant yang terus berkembang.

Salah satu segmen yang memiliki daya tawar kuat adalah green office. Konsep perkantoran berkelanjutan semakin mendapatkan perhatian seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap lingkungan kerja yang sehat, efisien, dan memenuhi standar keberlanjutan.

Data Knight Frank Indonesia menyebut, stok green office di CBD Jakarta saat ini mencapai sekitar 37% dari total stok perkantoran.

Menariknya, gedung-gedung green office tersebut mampu menarik sekitar 41% tenant baru yang masuk ke pasar CBD Jakarta.

“Angka tersebut memperlihatkan bahwa aspek keberlanjutan mulai menjadi faktor kompetitif dalam persaingan pasar perkantoran Jakarta,” kata Syarifah Syaukat.

Baca Juga: Tren Flight to Green Menguat, Pasar Perkantoran CBD Jakarta Kian Selektif di 2026

Hunian Kantor CBD Jakarta Capai 80%

Berdasarkan pembaruan kinerja pasar yang disampaikan Knight Frank, pasokan ruang kantor di CBD Jakarta saat ini masih berada di kisaran 7,33 juta meter persegi.

Sementara itu, tingkat hunian atau okupansi menunjukkan tren pemulihan. Meskipun berlangsung secara bertahap, tingkat hunian perkantoran CBD Jakarta tercatat meningkat tipis hingga mencapai sekitar 80%.

Dari sisi harga, rata-rata tarif sewa ruang kantor juga mulai menunjukkan penguatan. Pertumbuhan harga sewa tercatat sekitar 3% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Sepanjang 2025, serapan ruang perkantoran di kawasan CBD Jakarta tercatat mencapai 47.466 meter persegi.

Baca Juga: Pasokan Bertumbuh, Green Office Perkuat Daya Saing Perkantoran CBD Jakarta

Adapun sejumlah sektor yang berpotensi menjadi sumber permintaan ruang kantor antara lain pemerintahan, pertambangan dan minyak, teknologi informasi, logistik, serta sektor yang berkaitan dengan energi.

Syarifah Syaukat menerangkan, kondisi pasokan juga menjadi salah satu faktor yang mendukung prospek pemulihan pasar.

“Stok ruang kantor di CBD Jakarta relatif tidak berubah dalam tiga tahun terakhir dan diperkirakan baru kembali mengalami penambahan mulai 2028,” urainya.

Dengan demikian, dalam dua tahun ke depan, pasar perkantoran Jakarta diperkirakan masih akan menghadapi kondisi pasokan yang relatif terbatas.

Situasi tersebut berpotensi memberikan ruang bagi pemulihan tingkat hunian dan harga sewa apabila permintaan terus mengalami peningkatan.

Baca Juga: Pasar Perkantoran Jakarta: Menuju Fase Pemulihan, Meski Oversupply Membayangi

Sementara itu, Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip menjelaskan, fleksibilitas serta kemampuan gedung dalam beradaptasi terhadap kebutuhan green amenities akan menjadi faktor pembeda dalam persaingan pasar perkantoran ke depan.

“Ke depan, flexibility dan adaptasi terhadap kualitas green amenities menjadi faktor pembeda. Dengan pasokan yang masih akan tetap dalam dua tahun ke depan maka tren pemulihan performa perkantoran CBD berpotensi berlanjut, tentu didukung stabilitas sosial dan ekonomi yang lebih kondusif,” kata Willson.

Dengan kombinasi meningkatnya okupansi, penguatan harga sewa, terbatasnya pasokan baru, serta meningkatnya minat terhadap gedung berkualitas dan berstandar hijau, pasar perkantoran CBD Jakarta memasuki fase pemulihan yang lebih menjanjikan.

“Namun, keberlanjutan tren tersebut tetap akan bergantung pada kondisi ekonomi, aktivitas ekspansi perusahaan, serta kemampuan pemilik gedung dalam menawarkan ruang perkantoran yang fleksibel, berkualitas, dan sesuai dengan tuntutan bisnis modern,” pungkasnya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait