Lompat ke konten utama

RealEstat.id

Pasar Ekspatriat di Jakarta Menguat, Hunian Fully Furnished dan Serviced Apartment Kian Diminati

Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat turut menjadi faktor yang memengaruhi dinamika pasar hunian Ekspatriat di Jakarta.
apartemen sewa jakarta realestat.id dok ekspatriat hunian
Ilustrasi Foto: Realestat.id

RealEstat.id (Jakarta) – Pasar hunian ekspatriat di Jakarta memasuki fase ekspansi baru di sepanjang Semester I 2026.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh mulai terealisasinya berbagai proyek investasi berskala besar di sektor energi, pertambangan, teknologi, dan industri di sejumlah wilayah Indonesia.

Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto mengatakan, kondisi pasar hunian ekspatriat di Jakarta saat ini berbeda dengan siklus pemulihan sebelumnya yang lebih banyak dipengaruhi oleh normalisasi ekonomi.

Menurutnya, pertumbuhan pasar kali ini ditopang oleh investasi jangka panjang yang mulai masuk ke tahap realisasi.

Baca Juga: Apartemen Sewa Jakarta Bangkit, Ekspatriat dan Korporasi Jadi Motor Pemulihan

“Perkembangan tersebut secara bertahap mendorong arus masuk tenaga profesional ekspatriat secara lebih berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap hunian berkualitas di Jakarta,” kata Ferry.

Namun, peningkatan permintaan tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan hunian yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Secara umum, stok hunian ekspatriat di Jakarta masih tergolong memadai.

Kendati demikian, pilihan unit yang memenuhi ekspektasi penyewa semakin terbatas, terutama untuk hunian modern yang telah direnovasi, fully furnished, dan siap ditempati.

Kondisi tersebut membuat persaingan untuk mendapatkan rumah tapak premium dan apartemen berkualitas tinggi di kawasan hunian ekspatriat semakin ketat.

“Situasi ini juga memperkuat posisi pemilik properti dalam mempertahankan tingkat harga sewa” terang Ferry Salanto, menambahkan.

Baca Juga: Knight Frank: Ekspatriat Asia Dominasi Permintaan Apartemen Sewa di Jakarta

Faktor Nilai Tukar Rupiah

Di sisi lain, pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) turut menjadi faktor yang memengaruhi dinamika pasar.

Sebagian besar rumah tapak premium dan apartemen non-servis masih menggunakan denominasi USD dalam transaksi sewanya.

Sementara itu, banyak perusahaan multinasional menetapkan anggaran hunian bagi karyawannya dalam Rupiah.

“Pelemahan nilai tukar Rupiah pada akhirnya dapat menekan daya beli perusahaan dan memperlebar kesenjangan antara anggaran hunian yang tersedia dengan harga sewa yang ditawarkan pemilik properti,” urai Ferry.

Baca Juga: Keterbatasan Pasokan dan Bujet Jadi Kendala Pasar Hunian Ekspatriat di Jakarta

Menghadapi kondisi tersebut, perusahaan mulai mengubah strategi dalam menyediakan akomodasi bagi tenaga ekspatriat.

Langkah yang ditempuh antara lain dengan meningkatkan intensitas negosiasi harga sewa, memperluas pilihan lokasi hunian, hingga meningkatkan penggunaan serviced apartment yang umumnya menawarkan tarif sewa dalam Rupiah.

Perubahan kebutuhan juga terlihat dari profil ekspatriat yang datang ke Indonesia. Meningkatnya jumlah tenaga profesional lajang, khususnya mereka yang bekerja berdasarkan penugasan berbasis proyek, ikut mendorong permintaan terhadap apartemen fully furnished dan serviced apartment.

Jenis hunian tersebut dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan ekspatriat karena menawarkan fleksibilitas, fasilitas yang lengkap, serta kemudahan dalam pengelolaan tempat tinggal selama masa penugasan.

Baca Juga: Bidik Ekspatriat, Fifty Seven Promenade Hadirkan Layanan Sewa Eksklusif

Selain faktor lokasi dan harga, aspek keberlanjutan dan gaya hidup modern juga semakin menjadi pertimbangan dalam memilih hunian.

Fasilitas seperti stasiun pengisian daya kendaraan listrik (EV charging), lingkungan pet-friendly, hingga berbagai fasilitas penunjang gaya hidup kini semakin diperhitungkan oleh calon penyewa.

Menurut Ferry, perubahan preferensi tersebut turut mencerminkan semakin kuatnya penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG) di lingkungan perusahaan.

“Pada saat yang sama, perubahan tersebut juga menunjukkan adanya pergeseran gaya hidup ekspatriat yang semakin mengutamakan kenyamanan, fleksibilitas, dan kualitas lingkungan tempat tinggal,” ujarnya.

Baca Juga: Pasar Apartemen Sewa Jakarta: Tak Hanya Diminati Ekspatriat dan Corporate Client

Prospek Masih Positif

Lebih lanjut, Ferry Salanto mengungkapkan, ke depan, prospek pasar hunian ekspatriat Jakarta diperkirakan masih positif.

Berlanjutnya realisasi proyek-proyek investasi jangka panjang di berbagai sektor diyakini akan menopang arus masuk tenaga kerja ekspatriat, baik sepanjang Semester II 2026 maupun dalam beberapa tahun mendatang.

Meski demikian, kinerja pasar hunian ekspatriat akan semakin ditentukan oleh kemampuan pelaku industri dalam menjembatani kesenjangan antara anggaran hunian yang ditetapkan perusahaan dengan ekspektasi harga sewa dari pemilik properti.

Di sisi lain, terang Ferry, peningkatan kualitas stok hunian yang telah tersedia juga menjadi faktor penting.

“Penyediaan hunian yang lebih modern, berkualitas, fleksibel, dan sesuai dengan kebutuhan gaya hidup ekspatriat dinilai menjadi kunci bagi pasar properti Jakarta untuk menangkap peluang pertumbuhan permintaan di masa mendatang,” pungkasnya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait