RealEstat.id

Konsep Ruang Paripurna Bikin Township Jadi Solusi Hunian Modern yang Nyaman dan Terintegrasi

Bagi masyarakat perkotaan dengan mobilitas tinggi dan kompleksitas kehidupan modern, konsep township memberikan solusi melalui kedekatan fasilitas dan kemudahan layanan dalam satu kawasan.

Yayat Supriatna Pengamat Tata Kota Township realestat.id dok
Yayat Supriatna, Pengamat Tata Kota (Foto: Dok. Pribadi)

RealEstat.id (Jakarta) – Setidaknya dalam dua dekade terakhir, wajah kawasan perkotaan di Indonesia mengalami perubahan signifikan, terutama dalam cara pengembang merancang hunian.

Bila sebelumnya pembangunan kawasan perumahan lebih banyak berfokus pada penyediaan unit hunian, kini banyak pengembang besar beralih mengembangkan kawasan kota mandiri (township).

Menurut pengamat tata kota Yayat Supriatna, konsep township menjadi semakin menarik karena menawarkan pengalaman tinggal yang lebih lengkap.

Bagi masyarakat perkotaan yang menghadapi mobilitas tinggi dan kompleksitas kehidupan modern, imbuhnya, konsep township memberikan solusi melalui kedekatan fasilitas dan kemudahan layanan dalam satu kawasan.

“Dengan konsep township, orang-orang merasa paripurna tinggal dalam sebuah kawasan, di mana di dalam lingkungan tersebut mereka merasa dilayani,” tutur Yayat Supriatna, menjawab pertanyaan Realestat.id.

Baca Juga: Hunian di Kota Mandiri Kian Diminati Milenial, Momentum Positif Bagi Paramount Gading Serpong

Dia menerangkan, dalam perspektif tata ruang, konsep township dapat dipahami sebagai ruang paripurna, yakni sebuah lingkungan yang menyediakan berbagai kebutuhan hidup dalam jarak yang dekat dan mudah dijangkau.

“Prinsip utamanya mencakup lima aspek utama: kedekatan, kemudahan, kelancaran, keamanan, dan kenyamanan,” terang Yayat.

Dengan konsep ini, penghuni tidak hanya membeli rumah sebagai tempat tinggal, tetapi juga menikmati ekosistem kehidupan yang lebih efisien.

Di sini, fasilitas seperti area komersial, perkantoran, sekolah, ruang publik, hingga layanan kesehatan berada dalam satu kawasan terintegrasi.

Semakin mudah akses terhadap berbagai kebutuhan tersebut, semakin tinggi pula tingkat kenyamanan yang dirasakan penghuni.

Baca Juga: Tahap Pertama Laris Manis, Summarecon Tangerang Rilis Rona Homes Tahap 2 dengan Desain dan Layout Baru

Bahkan dalam banyak kasus, masyarakat bersedia membayar harga rumah yang lebih tinggi selama pelayanan dan fasilitas yang diberikan sepadan.

Inilah yang kemudian melahirkan konsep one stop living, di mana aktivitas bekerja, berbelanja, berinteraksi sosial, hingga rekreasi dapat dilakukan tanpa harus keluar jauh dari kawasan tempat tinggal.

Banyak Keunggulan, Minim Narasi

Yayat Supriatna menerangkan, konsep township juga terkait dengan kualitas hidup masyarakat kota. Dengan jarak tempuh yang lebih pendek dan fasilitas yang tersedia dalam satu kawasan, tekanan mobilitas harian dapat berkurang.

Penghuni tidak perlu lagi menghadapi kepanikan setiap pagi akibat kemacetan perjalanan menuju kantor. Bahkan, bila jarak rumah dan tempat kerja sangat dekat, penghuni bila makan siang di rumah.

Selain itu, faktor keamanan keluarga menjadi nilai tambah yang penting. Dengan demikian, orang tua dapat bekerja lebih fokus, karena lingkungan tempat tinggal dinilai aman dan fasilitas pendidikan maupun aktivitas anak berada di dalam kawasan.

Baca Juga: Ekosistem Kota Kian Solid, Paramount Gading Serpong Siap Bawa Tangerang Raya Naik Level

Dalam skala yang lebih luas, lingkungan yang tertata juga membuka ruang bagi terbentuknya komunitas. Di dalam township, kehidupan sosial cenderung lebih terorganisir yang mampu membangun identitas kawasan sekaligus kebanggaan bagi para penghuni.

“Nah, dalam jangka panjang, faktor-faktor tersebut juga berpotensi meningkatkan nilai properti di kawasan township tersebut,” ungkapnya.

Meski menawarkan banyak keunggulan, Yayat menilai pengembang sering kali belum maksimal dalam mengkomunikasikan nilai kehidupan yang tercipta di dalam township.

Menurutnya, banyak proyek township dipromosikan hanya melalui aspek fisik seperti luas lahan, jumlah fasilitas, atau desain kawasan. Padahal, yang sebenarnya menjadi daya tarik adalah narasi tentang pengalaman hidup di dalamnya.

“Tidak pernah diceritakan bagaimana kenyamanan dan kemudahannya. Tidak ada testimoni atau cerita kehidupan di dalam kawasan,” ujarnya.

Padahal, jika pengalaman penghuni seperti tingkat stres yang lebih rendah, kualitas kesehatan yang lebih baik, atau kenyamanan mobilitas dapat dipublikasikan, hal tersebut dapat menjadi narasi kuat dalam pemasaran properti.

Baca Juga: Akses Tol Jakarta-Tangerang KM 25 Segera Beroperasi, Prospek Paramount Petals Kian Menjanjikan

Township dan Gaya Hidup Kota Modern

Lebih jauh, township juga berperan dalam membentuk gaya hidup masyarakat kota modern. Sebuah kota atau kawasan hunian dapat menentukan standar kehidupan yang pada akhirnya mempengaruhi perilaku warganya.

“Misalnya, jika sebuah kawasan menyediakan pedestrian yang nyaman, masyarakat akan lebih terdorong berjalan kaki,” jelas Yayat.

Jika sistem utilitas seperti gas, air panas, dan air bersih disediakan secara baik, masyarakat juga akan mengikuti standar kehidupan tersebut.

Dengan kata lain, kota modern seharusnya membangun ekosistem pelayanan. Siapa yang mengikuti ekosistem kota akan merasakan kenyamanan hidup, sementara mereka yang berada di luar sistem akan menghadapi berbagai keterbatasan layanan.

“Pengembang yang membangun township sebenarnya tidak sekadar membangun rumah. Mereka membangun kehidupan. Karena itu, tantangan terbesar pengembang bukan hanya menjual unit hunian, tetapi menciptakan standar hidup yang berkualitas,” kata Yayat.

Baca Juga: KEK ETKI Banten di BSD City Kembangkan Ekosistem Layanan Medis Hingga Bedah Plastik

Di lain pihak, imbuhnya, membeli rumah di township bagi konsumen berarti membeli dua hal sekaligus: hunian dan pelayanan.

Dengan demikian, selain harga rumah, penghuni juga harus mempertimbangkan biaya iuran pengelolaan lingkungan (IPL) yang digunakan untuk menjaga kualitas kawasan, mulai dari kebersihan, keamanan, hingga pemeliharaan fasilitas publik.

“Pertanyaan yang perlu dijawab adalah apakah pelayanan yang diberikan sepadan dengan biaya yang dibayar? Jika sistem manajemen kawasan berjalan baik, penghuni akan mendapatkan lingkungan yang bersih, aman, dan nyaman. Namun jika tidak, maka nilai tambah township bisa berkurang,” urai Yayat.

Pada akhirnya, keputusan membeli rumah di kawasan township bergantung pada kesiapan konsumen untuk berinvestasi pada kualitas hidup.

“Kalau tinggal di township, Anda membeli rumah sekaligus membeli pelayanan. Dan bagi banyak masyarakat perkotaan saat ini, kualitas hidup tersebut menjadi nilai yang semakin penting dalam memilih tempat tinggal,” tutur Yayat.

Baca Juga: Klaster Bellefont Laku Keras, Summarecon Serpong Cetak Penjualan Rp600 Miliar

Tangerang Raya: Episentrum Township

Fenomena township sangat nyata terlihat di kawasan Tangerang Raya, yang mencakup Kota Tangerang, Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang. Wilayah ini bahkan kerap disebut sebagai kawasan premium dalam pengembangan kota mandiri di Jabodetabek.

Menurut Yayat Supriatna, potensi pengembangan terbesar justru berada di Kabupaten Tangerang yang masih memiliki ruang ekspansi lebih luas dibanding wilayah lainnya.

“Dari sisi investasi, nilai properti di Tangerang juga mengalami pertumbuhan yang relatif lebih cepat dibanding kawasan penyangga lain seperti Bekasi, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, maupun Depok. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya township besar yang berkembang di kawasan tersebut,” terangnya.

Namun demikian, Yayat menilai Tangerang Raya masih memiliki satu kelemahan utama, yakni kurangnya integrasi antar kawasan. Saat ini banyak township berkembang sebagai “kantong-kantong kota” yang relatif berdiri sendiri.

“Ke depan, sistem jaringan jalan, transportasi publik, dan fasilitas perkotaan perlu dirancang agar mampu menghubungkan seluruh kawasan dalam satu struktur ruang yang terintegrasi,” harapnya.

Di sisi lain, township juga berpotensi menciptakan kesenjangan antara sistem kota dan sistem kawasan privat. Bisa jadi, di dalam township, fasilitas tertata rapi dengan manajemen lingkungan yang baik, namun kondisi kontras terlihat di luar kawasan.

Untuk itu, Yayat menilai kolaborasi antar pemerintah daerah dalam konsep “Greater Tangerang” menjadi sangat penting agar pertumbuhan kawasan tetap seimbang.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait