Lompat ke konten utama

RealEstat.id

Belajar dari SMC RS Telogorejo: Bagaimana Teknologi Cerdas Manajemen Gedung Pangkas Biaya Listrik hingga 5%

SMC RS Telogorejo berhasil memangkas biaya listrik 5% pada 2025 dengan teknologi cerdas EcoStruxure Building Operation Schneider Electric.
teknologi-smart-building-EcoStruxure-Building-Operation-Schneider-pada-RS-Telogorejo-Semarang-RealEstat.id_.jpg
Teknologi cerdas dan Building Management System (BMS) EcoStruxure untuk meningkatkan efisiensi pada rumah sakit. (Sumber: Schneider Electric)

RealEstat.id (Jakarta) – Di balik kenyamanan sebuah rumah sakit, terdapat berbagai sistem yang harus bekerja selama 24 jam tanpa jeda. Mulai dari pendingin ruangan, kelistrikan, hingga pasokan daya untuk fasilitas kritis, semuanya harus berjalan andal.

Namun, tantangan pengelola rumah sakit kini bukan hanya memastikan seluruh sistem tetap menyala.

Efisiensi energi dan kemampuan mendeteksi potensi gangguan juga menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan gedung modern.

Karena itu, pengelolaan energi gedung, termasuk rumah sakit, tidak lagi cukup mengandalkan pemeriksaan secara manual saja.

Pemanfaatan teknologi berbasis data pun mulai menjadi salah satu solusi untuk memantau kinerja berbagai sistem secara lebih cepat dan terintegrasi.

Baca Juga: Ketika Bangunan Bisa ‘Berpikir’, Begini Teknologi Cerdas Schneider Mengubah Masa Depan Sektor Properti

Presiden Perkumpulan Teknik Perumahsakitan Indonesia (PTPI), Prof. Ir. Dr-Ing Eko Supriyanto, IPU., P.H.Eng., mengatakan transformasi menuju smart hospital membutuhkan sinergi antara regulasi, sistem, pembiayaan, dan sumber daya manusia.

“Dengan pendekatan yang terintegrasi dan terstandardisasi, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus mendorong peningkatan mutu dan keterjangkauan layanan kesehatan,” ujar Eko yang merupakan lulusan S2 Teknik Biomedika ITB itu.

Regulasi Dorong Pengelolaan Gedung yang Lebih Cerdas

Di Indonesia, pemerintah terus mendorong pengelolaan gedung ramah lingkungan yang lebih cerdas dan efisien melalui sejumlah regulasi.

Salah satunya melalui Permen PUPR Nomor 10 Tahun 2023 yang mengatur Bangunan Gedung Cerdas (BGC), termasuk penerapan sistem manajemen gedung pintar yang terintegrasi dan otomatis.

Sementara itu, Permen ESDM Nomor 8 Tahun 2025 mengatur penerapan manajemen energi pada sektor bangunan gedung dengan konsumsi energi tertentu, termasuk yang mencapai 500 setara ton minyak per tahun atau lebih.

Dorongan tersebut menunjukkan bahwa efisiensi energi semakin menjadi bagian penting dalam pengelolaan aset properti dan fasilitas bangunan.

Baca Juga: Schneider Electric Dorong Smart Hospital di Indonesia, Efisiensi Energi Jadi Kunci

Tantangan Efisiensi Energi di Gedung

Kebutuhan efisiensi energi juga tidak terlepas dari besarnya kontribusi sektor bangunan terhadap konsumsi energi dan emisi karbon.

Melansir laporan Architecture 2030, sektor bangunan dan konstruksi berkontribusi hampir 40% terhadap emisi karbon global.

Di sisi lain, pemilik dan pengelola gedung masih menghadapi tantangan dalam memanfaatkan data operasional secara optimal.

Kajian Xpera Group mencatat sekitar 95,5% data yang telah dikumpulkan dalam industri konstruksi dan engineering belum dimanfaatkan secara optimal.

Padahal, data operasional dapat menjadi dasar untuk mengetahui pola konsumsi energi, menemukan potensi pemborosan, sekaligus mendeteksi anomali sebelum mengganggu aktivitas bangunan.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting bagi rumah sakit yang harus menjaga keandalan berbagai sistem secara terus-menerus.

Solusinya adalah membangun sistem pengelolaan gedung pintar berbasis data melalui Building Management System (BMS).

Teknologi smart building ini memungkinkan pengelola memantau berbagai sistem bangunan secara terintegrasi dan mendapatkan informasi mengenai kondisi fasilitas secara lebih cepat.

Baca Juga: Teknologi Schneider Electric Dukung Transformasi Digital RS Telogorejo jadi Smart Hospital

Dari Pemeriksaan Manual ke Command Center

Salah satu contoh penerapan sistem tersebut dapat ditemukan di SMC RS Telogorejo, Semarang, Jawa Tengah.

Rumah sakit umum swasta tipe B ini mengaplikasikan Building Management System (BMS) dari Schneider Electric melalui solusi EcoStruxure Building Operation.

Teknologi sistem operasional bangunan cerdas tersebut mengintegrasikan pemantauan sejumlah utilitas kritis pada RS Telogorejo.

Mulai dari sistem Heating, Ventilation, and Air Conditioning (HVAC), kelistrikan, hingga Uninterruptible Power Supply (UPS), dalam satu command center.

Dengan sistem tersebut, teknisi dapat memantau kondisi fasilitas secara real-time.

Ketika terjadi anomali, sistem teknologi cerdas tersebut dapat memberikan peringatan kepada RS Telogorejo sehingga tim teknis memiliki kesempatan untuk melakukan tindakan lebih cepat.

Baca Juga: Schneider Electric Hadirkan Software Manajemen Gedung Pintar Terbaru, Apa Saja Keunggulannya?

Pendekatan ini juga memungkinkan perawatan dilakukan secara preventif, bukan hanya menunggu kerusakan terjadi.

Hasil penerapannya terlihat pada efisiensi operasional. Total pengeluaran listrik SMC RS Telogorejo turun 5% pada 2025. Capaian tersebut sekaligus membalikkan tren kenaikan biaya listrik yang sebelumnya mencapai sekitar 9% per tahun.

Tidak hanya konsumsi energi, teknologi tersebut juga berdampak pada kecepatan respons teknis. Waktu respons terhadap anomali menjadi 60% lebih cepat berkat adanya peringatan otomatis.

Sistem yang terintegrasi juga membantu rumah sakit mencapai 100% kepatuhan terhadap standar suhu dan kelembapan di ruang operasi.

COO Yayasan Kesehatan Telogorejo, Glenda Angeli, mengatakan penerapan EcoStruxure Building Operation membantu pihaknya mewujudkan konsep smart hospital dengan standar internasional.

“Melalui transformasi digitalisasi, kami dapat mengelola operasional dengan efisien, menjaga keselamatan, dan memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan,” ujar Glenda.

Bukan Sekadar Hemat Listrik

Bagi pengelola gedung, efisiensi energi tidak semata-mata berarti mengurangi konsumsi listrik.

Business Vice President for Buildings Schneider Electric Indonesia, Reza Syarif, mengatakan energi harus digunakan secara tepat tanpa mengorbankan keandalan, keselamatan, maupun kenyamanan pengguna bangunan.

Oleh sebab itu, teknologi pengelolaan gedung perlu mampu menghubungkan data operasional dengan proses pengambilan keputusan.

EcoStruxure Building Operation menjadi salah satu solusi yang dikembangkan untuk membantu pengelola meningkatkan efisiensi energi sekaligus memperkuat keandalan operasional bangunan.

Schneider Electric juga memiliki Power Monitoring Expert (PME) yang dapat diintegrasikan dengan EcoStruxure Building Operation.

Baca Juga: Inovasi AirSeT dari Schneider Electric Sabet Penghargaan Dunia

Menurut Reza Syarif, integrasi tersebut memungkinkan pemilik dan pengelola gedung mengidentifikasi potensi pemborosan energi lebih cepat.

Selain itu, dapat meningkatkan keandalan sistem kelistrikan, serta mengoptimalkan biaya operasional.

Schneider Electric juga menghadirkan layanan EcoConsult Walkthrough Assessment dan EcoConsult Energy Efficiency.

Kedua layanan tersebut melakukan evaluasi terhadap sistem kelistrikan dan otomasi bangunan serta memberikan rekomendasi berbasis data kepada pemilik dan pengelola gedung.

“Melalui kampanye Teknologi Cerdas untuk Bangunan Efisien, Schneider Electric berkomitmen untuk mendorong terciptanya bangunan yang lebih efisien, resilient, sustainable, dan berorientasi pada manusia, baik untuk gedung baru maupun yang sudah ada,” pungkas Reza.

Baca Juga: Kinerja Keberlanjutan Konsisten, Schneider Electric Raih Pengakuan ESG Internasional

Mengendalikan Biaya Operasional Gedung

Teknologi cerdas SMC RS Telogorejo menunjukkan bahwa transformasi digital pada bangunan tidak berhenti pada pemasangan perangkat pintar.

Nilai terbesar justru muncul ketika data dari berbagai sistem dapat diintegrasikan, dipantau secara real-time, dan digunakan untuk mengambil keputusan.

Bagi pengelola properti, pendekatan tersebut membuka peluang untuk mengendalikan biaya energi sekaligus menjaga keandalan fasilitas.

Dengan demikian, konsep smart building ke depan bukan hanya tentang gedung yang semakin canggih saja.

Akan tetapi bagaimana teknologi dapat membuat bangunan bekerja lebih efisien, aman, tangguh, berkelanjutan, dan nyaman bagi penggunanya.

Redaksi@realestat.id

Simak Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Topik

Artikel Terkait